Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Kisah Beringin Aneh dan Lumpang Batu di Pura Kayu Sakti

21 Juli 2021, 08: 42: 15 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Kisah Beringin Aneh dan Lumpang Batu di Pura Kayu Sakti

PALINGGIH POKOK: Salah satu tahta batu Palinggih Rong Lima sebagai bangunan pokok di Pura Kayu Sakti di Desa Basangalas, Kecamatan Abang, Karangasem. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS-Unsur bebaturan dan tahta batu masih memperlihatkan bentuk aslinya. Seluruh bagian berbahan batu kali disusun tanpa perekat. Seperti itulah penampakan Pura Kayu Sakti yang dibangun Abad XI,  yang ditetapkan sebagai salah satu peninggalan purbakala di Bali.

Jejak peninggalan Megalitikum di Kabupaten Karangasem sampai saat ini masih ditemukan di Pura Kayu Sakti. Pura yang ada di Desa Adat Basangalas, Desa Tribuana, Kecamatan Abang ini, terlihat tidak biasa dibandingkan dengan pura lainnya di Bali.

Unsur bebaturan dan tahta batu masih memperlihatkan bentuk aslinya yang terbuat dari batu kali. Seluruh bagiannya disusun tanpa perekat dan belum dimodifikasi atau mendapat pengaruh gaya di masa tertentu. Secara fungsi masih sama seperti palinggih sebagai tempat pemujaan. Ini menandakan bagian atau keseluruhan pura tersebut dibangun pada zaman purba.

Baca juga: Suplay Oksigen Sejumlah RS di Gianyar Mulai Terbatas

Kisah Beringin Aneh dan Lumpang Batu di Pura Kayu Sakti

LUMPANG: Made Susila menunjukkan lumpang batu diyakini tempat memohon kekuatan di Pura Kayu Sakti di Desa Basangalas, Kecamatan Abang, Karangasem. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Juru pelihara Pura Kayu Sakti, I Made Susila menjelaskan, kisah  para leluhur menyebut, pura dibangun paska banjir bandang melanda desa setempat. Konon peristiwa dahsyat itu mampu menghanyutkan benda-benda besar. Bahkan pohon Bunut dapat dihanyutkan. Anehnya, pohon itu hanyut dalam posisi masih berdiri lalu terhenti di lokasi Pura Kayu Sakti. “Itu jadi cikal bakal penamaan pura,” tutur Susila, kemarin.

Pria asli Desa Basangalas ini menyebut, kisah mengenai dibangunnya Pura Kayu Sakti berkembang dari turunan cerita para leluhur. Sayangnya tidak ditemukan lontar atau prasasti yang menguatkan cerita itu. 

Meski demikian, Tim Arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Bali memperkirakan, pura tersebut dibangun pada Abad XI.

Pura Kayu Sakti ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya berdasarkan penelitian dalam bentuk inventarisasi warisan budaya BPCB Provinsi Bali, sekitar tahun 1988-1989. 

Peninggalan gugusan batu di area pura jadi poin penting yang menunjukkan jejak kehidupan sosial-religi masyarakat setempat telah berkembang di masa itu.

Menurut Susila, gugusan bebaturan (pondasi) serta tahta batu sangat dikeramatkan masyarakat. Kini difungsikan sebagai sarana pemujaan. Tahta batu berbentuk Palinggih Rong Lima atau Panca Mahadewa adalah salah satu dari empat tahta batu yang ada dan menjadi bangunan pokok dari lima bangunan yang ada. “Ini jadi palinggih pokok di Pura Kayu Sakti. Stana dari Bhatara Iswara, Brahma, Siwa, Wisnu, dan Mahadewa,” ujar Susila.

Terdapat pula tahta batu yang berfungsi sebagai stana Ida Bhatara Bagus Subandar, Ida Bhatara Hyang Jaya Sakti, dan Ida Bhatara Anglurah Sakti. Di sisi barat area pura dibangun satu bale piasan. 

Struktur batu alam dan monolit besar yang belum terbentuk masih mendominasi di sekeliling pura. Batu-batu ini konon adalah pembatas atau tembok pura masa itu. Pada tahun 2000, BPCB Provinsi Bali juga membangun tembok panyengker.

Hal yang menguatkan peninggalan Megalitik di Pura Kayu Sakti, yakni masih selaras dengan konsepsi kepercayaan masyarakat setempat, yang dibuktikan dari masih digelarnya pujawali. 

Kata Susila, ada sekitar 133 kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap pura. “Pujawali digelar tiap Purnama Kadasa,” ujar Susila yang juga ASN pada BPCB Provinsi Bali ini.

Susila menambahkan, beberapa bagian tahta batu Pura Kayu Sakti sempat diperbaiki. Bahkan ada beberapa bagian direkonstruksi karena rusak akibat pergerakan akar beringin yang berada di belakang tahta batu Palinggih Panca Mahadewa. Pohon besar itu kemudian ditebang pada 1990 silam.

Pura Kayu Sakti juga menyimpan kisah lain. Seperti adanya Lumpang Batu yang tertanam di sisi selatan pura. Lumpang Batu ini konon dipakai untuk memohon kekuatan fisik dan keberanian pada masa lampau. 

Susila menuturkan, kondisi desa setempat zaman dahulu tidak kondusif gara-gara warga berselisih. Saat situasi membuncah, terjadi pergolakan hingga adu fisik.

Beberapa warga mendatangi Pura Kayu Sakti untuk memohon kekuatan agar bisa menang dalam perselisihan. Warga menghaturkan sarana pajati dan memohon di Lumpang Batu.

 Jika ada air keluar dari cekungan batu, airnya dapat diminum. Warga setempat meyakini, air yang muncul dari cekungan Lumpang Batu dapat membuat peminumnya kuat dan berani. “Tapi sekarang sudah tidak ada warga yang begitu,” pungkasnya. 

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP