Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Sinta, Mantan Juara Angkat Besi Bina Potensi Usia Dini

22 Juli 2021, 09: 36: 58 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Sinta, Mantan Juara Angkat Besi Bina Potensi Usia Dini

EKSTRA SABAR : Sinta Darmariani saat mendidik anak asuhnya yang masih berusia dini untuk belajar angkat besi di GOR Lila Bhuana, Denpasar (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Namanya Ni Luh Sinta Darmariani. Ia adalah atlet angkat besi putri kebanggaan Bali. Saat masih aktif dan di puncak kejayaannya, multi event sekelas Pekan Olah Raga nasional (PON) adalah 'makanan' rutinnya setiap 4 tahun. 

Podium juara nasional dan internasional, juga menjadi panggung wajibnya. Dan, Sinta tak boleh absen untuk beradu ketika ada event atau perlombaan.

Namun kini, sang jawara telah mengistirahatkan otot-otot tangannya. Tak ada lagi besi berbobot puluhan kilogram yang harus ia taklukkan demi prestise. Sang jawara kini telah memutuskan pensiun dan memulai karier baru sebagai seorang pelatih.

Baca juga: Tenung Tanya Lara (4) : Demam dan Mengigau

Meski tersemat status juara nasional, bahkan dunia, Sinta tak ujug-ujug melatih atlet yang berpotensi medali. Ia harus turun lebih dalam dengan mendidik calon potensi, ya anak-anak usia dini.

Melatih anak-anak usia dini, terlebih cabor angkat besi yang notabene kurang diminati anak-anak milenial zaman sekarang, ibaratnya seperti mencari jarum ditumpukkan jerami. 

Sinta harus memeras keringat lebih dalam. Bukan dalam artian mengajari si anak harus bisa mengangkat beban yang lebih berat dari badannya. Untuk menyukai angkat besi saja, susahnya setengah mati.

“Harus ekstra sabar, karena mulai dari nol. Paling tidak suka saja dulu. Kalau dibilang berat, ya tentu saja berat. Tapi saya menikmati tantangan ini,” ungkap Sinta saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.

Saat ini, Sinta mendidik sebanyak 10 anak yang berasal dari beberapa kabupaten di Bali. Rata-rata usia mereka 11 sampai 16 tahun. Background mereka, kata Sinta, kebanyakan dari lingkungan mantan atlet angkat besi ataupun pengurus PABSI Bali. 

“Ada juga hasil talent ID yang diadakan Kemenpora 2 tahun lalu, itupun hanya 1 orang. Jujur saja, sekarang generasi angkat besi Bali harus merintis dari nol lagi karena sudah habis,” tegasnya.

Berat mendidik yang diakui Sinta itu, karena memang memoles atlet ini dari nol. Berlatih sekarang, besok sudah jadi juara itu hal yang mustahil di angkat besi. Menurut Sinta yang sudah kenyang merasakan asam-garam di dunia angkat besi, paling cepat itu bisa berprestasi dengan waktu 4-8 tahun.

 “Mereka ini murni bibit. Asal ada kemauan dan cinta dengan angkat besi, saya rasa 4 tahun ke depan, nama mereka bisa mewakili Bali kok,” tutur peraih medali perak Asian Games 2010 ini.

Pendekatan humanis adalah kunci utama yang dimiliki Sinta saat ini. Umur belia atlet yang ia didik sekarang tidak harus langsung dicekoki dengan beragam teknik atau gemblengan fisik yang diforsir. Jika itu dilakukan, ketika atlet merasa gagal, ia akan down dan mungkin saja meninggalkan angkat besi. Padahal, mencari satu orang yang suka angkat besi saja susahnya minta ampun.

“Jujur ya, di Bali sendiri nama cabor angkat besi masih awam dan banyak doktrin yang kurang bagus, seperti kalau latihan angkat besi, bikin kita pendek dan sebagainya. Itu stigma yang ingin saya hilangkan,” papar Sinta yang sudah menggeluti angkat besi sejak umur 11 tahun ini.

Lanjutnya, pendekatan yang ia lakukan dengan cara fun games. ‘Berlatih sambil bermain’ adalah metode yang ia gunakan. Bahkan, tak jarang, ia adakan kompetisi kecil-kecilan diantara 10 anak itu. Siapa yang menang, akan mendapat hadiah. “Ya seperti itu. Supaya mereka senang dan cinta dululah. Kalau sudah kerasan, baru mengarah ke yang lebih serius,” imbuhnya.

Sinta juga tak akan luput soal attitude. Karakter adalah kunci utama seorang olahragawan. Tanpa karakter atau attitude yang baik, jangan bermimpi menjadi seorang juara. 

“Saya rasa di cabor lain juga menerapkan metode yang sama. Hanya kali ini, di angkat besi harus ekstra sabar melatih atlet. Karena cabor ini masih kurang peminat, salah mendidik saja, atlet bisa pergi,” sebut langganan juara Kejurnas Angkat Besi rmRemaja era 2000-an ini.

Beruntung juga bagi Sinta jika fasilitas penunjang latihan kini sudah lumayan baik, meski diakuinya masih belum representatif. 

“Dibandingkan dahulu saya masih umur remaja, saat ini sudah lebih baik. Dahulu cuma ada di Denpasar, sekarang sudah ada di Badung dan Gianyar. Sentra latihan untuk Bali juga sudah ada di GOR Lila Bhuana. Paling tidak, fasilitas penunjang itu ada. Akan lebih bangga ketika minim fasilitas, justru atlet Bali bisa juara hingga pentas dunia,” tandasnya. 

(bx/dip/rin/JPR)

 TOP