Minggu, 26 Sep 2021
baliexpress
Home > Nusantara
icon featured
Nusantara

Produksi Ekstasi Sendiri, Residivis Raup Rp 58 Juta Seminggu

22 Juli 2021, 13: 50: 12 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Produksi Ekstasi Sendiri, Residivis Raup Rp 58 Juta Seminggu

LAGI : Sam To mengenakan baju oranye lagi (kiri) setelah diringkus kembali oleh Satresnarkoba Polresta Denpasar. (Agung Bayu/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Sam To, residivis kasus Narkoba kembali diringkus Satresnarkoba Polresta Denpasar. Pasalnya, usai bebas Desember 2020 lalu, pria 48 tahun ini bukannya bertobat, tapi malah makin menjadi-jadi dengan memproduksi sendiri Narkoba.

Penangkapan atas pria kelahiran Riau itu bermula dari hasil penyelidikan Satresnarkoba Polresta Denpasar bahwa akan ada transaksi Narkoba jenis Ekstasi di Perumahan Kerta Petasikan, Denpasar Selatan. 

Kemudian pada Rabu (14/7) pukul 16.00 Wita, seseorang yang dicurigai yang sudah jadi incaran petugas, yakni Sam To, terpantau mengendarai sepeda motor melewati Jalan By Pass Ngurah Rai, Denpasar Selatan dengan melawan arus lalu lintas menuju Halte Bus, Sidakarya Denpasar Selatan.

Baca juga: BOR Isolasi Covid-19 RS Sanglah Naik Jadi 79,4 Persen

"Ketika hendak ditangkap, yang bersangkutan membuang botol kecil yang dibalut plaster hitam dan langsung memacu kendaraannya," terang Kapolresta Denpasar, Kombespol Jansen Avitus Panjaitan dalam pengungkapan di Mapolresta Denpasar, Kamis (22/7). 

Melihat aksi pelaku, akhirnya aksi kejar kejar-kejaran dengan petugas tak terelakan.Beruntung hanya berjarak 300 meter, pria yang tinggal di Jalan Tukad Balian, Denpasar Selatan ini dengan sigap berhasil diringkus. Lalu dibawa kembali ke lokasi pembuangan botol untuk mengecek dan menunjukkan isinya. 

Setelah dibuka, ditemukan barang bukti berupa lima butir Ekstasi warna merah muda. Pengembangan pun dilakukan dengan menggeledah ke rumahnya,  tepatnya di kamar Sam To, hingga didapati 281 butir Ekstasi dengan berat bersih 92,92 gram dan berupa serbuk seberat 106,92 gram.

Selain itu, beberapa alat seperti cetakan besi, timbangan elektrik, besi landasan cetak berisi logo Extacy, alat pemanas dan beberapa alat lainnya berikut bahan baku yang ternyata digunakan untuk memproduksi sendiri Ekstasi.

 "Bahan bakunya itu obat keras yang penggunaannya memerlukan resep dokter, seperti tiga botol hexymer - trihexyphenydyl, sebuah master stimulan, satu botol yarindo, obat gemuk, satu botol infitamol, obat tenggorokan, wang lin shu pian, satu box pawee cap dan beras merah sebagai pewarna," beber Jansen.

Dari hasil uji lab, kandungan pil buatannya memang persis Ekstasi dengan sedikit Metamphetamin (Shabu) karena sengaja dicampuri. Usut punya usut, mantan penjual ikan di pelabuhan Benoa ini belajar cara memproduksi dan menakar Ekstasi tersebut dari internet. Ia dapat dengan mudah mengaplikasikan prosedur pembuatan obat terlarang, lantaran pernah kuliah kedokteran saat muda, walaupun tak lulus. 

Barang baku dan alatnya pun didapatkan secara online dengan modal awal Rp 5 juta. Tetapi dengan modal itu, pria yang sejak 1992 tingga di Bali ini, mampu produksi 200 pil dalam seminggu. Jadi, dengan harga jual Rp 290 ribu per pil sesuai di pasaran, dia bisa dapat Rp 58 juta hanya seminggu, dan ini sudah dilakukannya selam empat bulan. 

Akibat perbuatannya, Sam To dikenakan Pasal 112 ayat (2) UU RI. No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun, maksimal 20 tahun dan denda Rp 1 hingga Rp 10 Miliar. Kemudian dijerat juga Pasal 113 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun dan denda  hinhga Rp 10 Miliar. (ges)

(bx/aim/rin/JPR)

 TOP