Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Taman Mangrove Desa Pejarakan, Investasi Masa Depan

22 Juli 2021, 19: 27: 21 WIB | editor : Nyoman Suarna

Taman Mangrove Desa Pejarakan, Investasi Masa Depan

KONSERVASI : Aktivitas konservasi mangrove di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng-Bali. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mangrove atau bakau merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di air payau. Mangrove biasanya dapat tumbuh di sepanjang pesisir pantai, muara sungai hingga rawa. Pertumbuhan tanaman mangrove atau bakau ini tergantung dari subtract atau media tanam. Jenis mangrove juga menentukan wilayah tumbuh dari tanaman ini. Jenis tanah, pasang surut air laut serta hempasan gelombang menjadi salah satu tolak ukur penanaman bakau.

Tanaman mangrove banyak tumbuh di wilayah Indonesia. Di Bali, tepatnya di Bali Barat, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak terdapat 40 hektar lebih bentangan hutan mangrove. Tanaman tersebut tumbuh secara alami. Namun juga dibantu oleh kelompok masyarakat untuk melestarikan pertumbuhan mangrove tersebut. Hutan mangrove di desa Pejarakan ini terpampang di pesisir pantai sepanjang 14,23 km dari total garis pantai 76,89 km di Kecamatan Gerokgak. Kondisi mangrove di kawasan Desa Pejarakan yang berdekatan dengan Taman Nasional Bali Barat cukup baik. Upaya restorasi dan konservasi terus dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Lingkungan, Desa Pejarakan. Upaya pelestarian ini dilakukan untuk melindungi wilayah pantai agar tidak terjadi abrasi parah.

Setiap tahunnya Satgas Lingkungan Desa Pejarakan juga melakukan penanaman bibit mangrove sebanyak 5.000 bibit. Bibit-bibit yang ditanam adalah bibit propagul. Upaya konservasi mangrove di Bali Barat ini pun tak hanya dilakukan oleh Satgas Lingkungan desa setempat. Mereka juga melibatkan seluruh lapisan masyarakat hingga pelajar dan mahasiswa. “Jadi kami ambil saja yang sudah tua, propagul, ditanam. Kami ajak beberapa siswa, karena sambil mengedukasi, memberikan pemahaman tentang mangrove. Jenis mangrove serta fungsi dan manfaat mangrove,” ujar Ketua Satgas Lingkungan Desa Pejarakan, Abdul Hari, Kamis (22/7) pagi.

Baca juga: PDDI Bali Bantu Pemkot Denpasar 600 Botol Suplemen Kesehatan

Selain melibatkan masyarakat, pelajar dan mahasiswa, Satgas Lingkungan juga menjalin kerjasama dengan pihak ketiga untuk melakukan upaya restorasi. Seperti PT. Anchor Indonesia serta Kelompok Pelestari Mangrove Putri Menjangan. Menurut pria yang akrab disapa Riri ini pun mengklaim keberadaan mangrove di kawasan Desa Pejarakan sangat penting. Bukan saja untuk kelangsungan hidup manusia, namun juga keberlangsungan ekosistem laut serta kehidupan biota laut. “Jadi kami mengajak semua pihak. Jadi kami punya target anak-anak pelajar dan mahasiswa yang datang ke sini magang, kami ajak untuk penanaman. Jadi selain melakukan aksi di lapangan, juga memebeikan edukasi kepada mereka. Kami melakukan penanaman di Pemuteran, Tanjung Budaya sekalian di sana kami mengedukasi, menjelaskan kepada mereka fungsi dan manfaat mangrove bagi ekosistem laut,” jelasnya.

Di kawasan ini terdapat 12 jenis mangrove yang tumbuh. 12 jenis mangrove tersebut merupakan jenis yang paling cocok tumbuk di kawasan Desa Pejarakan. Dari tahun 2012 hingga kini, 12 jenis mangrove tersebut tak pernah mengganggu ekosistem laut yang ada dibawahnya. Justru perkembangan jenis-jenis mangrove ini menyesuaikan dengan kehidupan biota-biota laut di dalamnya. Sehingga siklus ekosistem yang terbentuk tidak terusik. “Kami tidak mengurangi dan tidak menambah. Supaya tidak mengubah ekosistem yang ada. Artinya jika kami mendatangkan jenis mangrove yang tidak ada di sini lalu ditanam di sini nanti akhirnya ekosistem tidak seimbang. Takutnya nanti ada yang dominan ada yang tidak dominan. Sehingga takutnya nanti yang asli disini kalah dengan bibit yang baru itu. Makanya kami disini tetap pakai bibit asli dari desa Pejarakan yang 12 itu,” jelanya.

12 jenis mangrove di Desa Pejarakan pertumbuhannya menyebar di sepanjang garis pantai Desa Pejarakan. Ada yang tumbuh di Kawasan Putri Menjangan Pejarakan, Teluk Banyuwedang, kawasan Pura Batu Togog hingga Teluk Sumberkima. Akan tetapi dari masing-masing wilayah itu, ada jenis mangrove yang dominan di tanam tergantung subtract atau media tanamnya. Di Teluk Banyuwedang lebih dominan ditumbuhi mangrove jenis Rhizepora.sp. sedangkan di kawasan Putri Menjangan lebih banyak Sonnaratia Alba dan Rhizepora mucronata. Bergeser ke wilaya timur tepatnya kawasan Pura Batu Togog sampai ke Teluk Sumberkima terdapat jenis yang bervariatif. Sebab, subtrat di kawasan tersebut juga tergolong bervariatif. “Kondisinya hampir seimbang. Semua jenis ada, karena disana kondisinya ada lumpur, pasir dan kerikil. Karena kalau sonaratia alba dari buah ada bijinya. Jadi bijinya itu pecah kecil-kecil jatuh diantara kerikil itu. Pertumbuhannya lebih cepat dia,” tambahnya.  

Mangrove di kawasan Desa Pejarakan juga kerap dijadikan tempat rujukan untuk edukasi tentang pentingnya keberadaan mangrove bagi ekosistem laut. Kawasan yang kerap dikunjungi adalah kawasan Konservasi di Putri Menjangan yang lokasinya berdekatan dengan pantai. Disamping itu upaya konservasi kini bergeser ke wilayah timur di sekitar perbatasan Desa Sumberkima-Desa Pejarakan. Tepatnya di kawasan Teluk Sumberkima. “Untuk upaya konservasi ini kami lakukan dengan sistem rumpun berjarak. Nah gelombangnya kan tembus langsung. Nah kami tanam, setiap satu kelompok atau satu rumpun itu berisi 500 bibit sekali tanam. Nanti jarak 15 meter dibuat lagi rumpun lain dengan isian 500 bibit propagul. Nanti 10 meter lagi isi lagi 500 atau 400. Cuma sistemnya zigzag, tidak lurus,” ujarnya.

Sistem rumpun berjarak dalam konservasi mangrove yang dilakukan Satgas Lingkungan Desa Pejarakan sejalan dengan Pola Tanam yang dijelaskan Eko Rudi Priyanto dari Yayasan Lahan Basah (YLBA). Rehabilitasi mangrove dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal,  pemilihan jenis dan lokasi tanam untuk mangrove itu sendiri, serta menerapkan teknik pola tanam yang tepat. “Teknik rumpun berjarak bisa dilakukan untuk penyelamatan. Teknik ini dilakukan apabila subtratnya sangat labil dan mudah terbawa arus. Sehingga jika dilakukan pola tanam murni akan banyak yang hilang. Tingkat keberhasilannya juga kecil,” paparnya saat Webinar Bincang Mangrove Sesi 3 oleh WRI Indonesia. 

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP