Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Tarian Sakral Rejang Pedawa (2)

Pertahankan Kesakralan Busana dan Pakem

11 September 2021, 10: 30: 26 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pertahankan Kesakralan Busana dan Pakem

Tarian Rejang Pedawa. (istimewa)

Share this      

Penataan busana pada tari Rejang Pedawa sendiri juga memiliki makna dan fungsi yang dibakukan oleh masyarakat pedawa secara turun temurun hingga saat ini. Sehingga sudah pakem khusus saat mementaskan tarian sakral ini.

Dikatakan Sukrata, perkembangan jaman tidak mempengaruhi dari tata busana tarian ini. Penagruh hanya terdapat pada penggunaan kain (kamen) yang mengikuti trend yang berkembang di masyarakat, begitu pula dengan penggunaan jenis selendangnya.

Pada bagian atas menggunakan mahkota (seropong) berbentuk trapezium yang terbuat dari janur kelapa berwarna kuning yang dihiasi bunga segar. Berbeda dengan hiasan tari Rejang yang lain, hiasan kepala Rejang Pedawa terdapat pelendo sebagai ungar atau puncak dari hiasan kepala yang berwana putih berbentuk bunga yang ditusukkan pada ikatan rambut penarinya.

Baca juga: bank bjb Borong 4 Penghargaan di Ajang TOP BUMD Awards 2021

“Pada pada hiasan kepala juga terdapat Sekar taji berbahan dasar pelendo berjumlah ganjil antara lima, tujuh atau Sembilan dan tambahan bunga emas,” ungkap Sukrata.

Bagian depan dari hiasan kepala terdapat belengker atau sejenis mahkota yang berwarna emas dengan hiasan bunga gempolan atau bunga yang tersusun rapi yang terdiri dari bunga kamboja (jepun), kenanga dan bunga sepatu.

Pada bagian tengan terdapat kain Rembang yang melingkar di leher yang turun ke depan hingga menutup dada hingga lutut, serupa dengan syal / slayer pada pakaian modern. Kain ini merupakan simbol lamak.

“Lamak sendiri merupakan lambang pijakan hidup untuk menuju kesejatian alam semesta,” katanya.

Pada bagian dada penari menggunakan kamen putih dan kuning yang dililitkan dari perut hingga dada. Kemudian ditambahkan dengan kain gringsing atau sesuai dengan kemampuan pribadi penarinya.

Sedangkan pada bagian bawah menggunakan kamen atau kain yang biasa digunakan. Biasanya menggunakan kain bebali seperti kain songket, tenun endek maupun batik, sesuai dengan kemampuan pribadi penari.

Antara kamen dan kemben dibatasi oleh tepi atau awir dan kembang waru serta beberapa selendang yang diikatkan berwarna merah, putih, kuning dan hijau.

“Tarian tradisional ini lebih mengutamakan rasa pengabdian, sehingga kesan kesederhanaan sanagat terlihat dan tidak terlalu memperhitungkan konspe busana yang dipakai karena sudah memiliki aturan baku yang diterima dari leluhurnya secara turun temurun,” pungkasnya. (Habis)

(bx/dik/man/JPR)

 TOP