Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Ritual Mendem Pedasaran

Bata Merah Simbol Agni, Badawang Nala Simbol Dasar Pertiwi

13 September 2021, 07: 17: 57 WIB | editor : Nyoman Suarna

Bata Merah Simbol Agni, Badawang Nala Simbol Dasar Pertiwi

Prosesi Mendem Pedasaran dalam pembangunan Pura Agung Mpu Kuturan di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja pada Minggu (12/9) pagi. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

Pembangunan Pura Agung Mpu Kuturan di areal uluning Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja dilanjutkan dengan prosesi Mendem Pedasaran. Ritual ini dilakukan sebagai simbul bhuana Agung lingga stana Ida Bhatara.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) upacara Mendem Pedasaran dilaksanakan pada Minggu (12/9) pagi. Sejumlah sarana dan prasarana pun telah disiapkan. Upacara ini dipuput oleh Ida Pedanda Masnawa dari Griya Mas Liligundi.

Tercatat ada sejumlah pelinggih yang akan dibangun dengan menggunakan bahan batu paras Abasan Sangsit. Diantaranya Pelinggih Padmasana, Gedong Mpu Kuturan, Taksu, Bale Piasan, Penglurah. Ada pula pelinggih pengapit lawang, Gelung Kori dan Candi Bentar, Bale Pengringgih, Bale Kulkul dan Penunggun Karang.

Baca juga: Karena Tanda Merah di Leher Korban, Pelecehan Seksual Terungkap

Ada sejumlah sarana yang digunakan untuk mendem pedasaran di masing-masing pelinggih berisi sarana bata merah yang sudah berisi gambar Padma Anglayang dan rerajahan dasa aksara, kemudian batu bulitan berwarna hitam yang berisi gambar bedawang nala dengan rerajahan tri aksara.

Sedangkan sarana berupa Klungah Nyuh Gading yang telah dikasturi kemudian didalamnya diisi sebuah kewangen. Klungah tersebut kemudian dibungkus kain putih diikat dengan benang tridatu disi rerajahan aksara Om Kara. Ada pula sarana peras merah dan ayam biying.

Semua perlengkapan upakara ini dimasukkan ke dalam lubang dasar pelinggih. Namun terlebih dahulu diupacarai dengan caru Eka Sata yang terdapat sarana banten caru berupa byakala, durmenggala, dan prayascita.

Usai proses ngilehang caru kemudian setiap dasaran pelinggih yang sudah dilobangi selanjutnya diisi sarana mendem pedasaran yang sebelumnya dijadikan satu paket dan diwadahi ngiu. Prosesnya sarana dimasukkan satu-persatu, kemudian ditimbun. Di atas dasar itulah kemudian dibangun pelinggih.

Filosofi bata merah dan peras adalah untuk mewujudkan ‘utpeti’ atau mencipta kehidupan yang bahagia dan sejahtra. Gambar Bedawang Nala sebagai Sanghyang Agni sebagai dasar inti bhumi/pertiwi.

Ritual Mendem Pedasaran inipun sejatinya sudah tersurat dalam Reg Weda I.59.2 yang berbunyi “Muurdhaa divo naabhir agnih prthiviyaah”. Artinya bahwa Agni itu adalah dasar langit (akasa) dan bumi (pertiwi).

Hal itu juga diperkuat pada Reg Weda VIII.102.9 disebutkan “Ayam visva abhi sriyo agnir devesu patyate” artinya Agni itu memiliki kekuatan untuk menghidupkan dunia. Sedangkan rerajahan suci ‘dasaksara dan tri aksara’ sebagai simbol kekuatan Ida Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dalam memberi kekuatan kehidupan di dunia.

Ketua STAHN Mpu kuturan Singaraja, Dr. I Gede Suwindia, S.Ag, M.A mengatakan penamaan Pura Agung Mpu Kuturan sebagai parahyangan di kampus yang berlokasi di Jalan Pulau Menjangan, Kelurahan Banyuning ini diharapkan membawa vibrasi positif dari tokoh besar Mpu Kuturan yang telah menyatukan berbagai sekte yang ada di Bali pada jamannya.

Dikatakan Suwindia proses pembangunan Pura Agung Mpu Kuturan melalui beberapa proses. Seperti prosesi mendak tirta di Pura Silayukti yang merupakan Stana atau linggih dari Ida Bhatara Mpu Kuturan.

“Kita mulai dari mendak tirta di Pura Silayukti, karena dari awal para pendahulu kampus ini sudah menginisiasi mengusung Spirit Tokoh Besar Mpu Kuturan,” jelasanya saat ditemui seusai upacara mendem pedasaran.

Dikatakan Suwindia, ritual mendem pedasaran dalam pembangunan tempat suci itu sangat substansial bagi setiap proses. Filosofi dari upacara tersebut adalah mewujudkan parahyangan suci sebagai simbol bhuana agung lingga stana Ida Bhatara.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) STAHN Mpu Kuturan, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si mengatakan dengan mengusung arsitektur lokal khas Buleleng, Pura Agung Mpu Kuturan ini bisa menjadi museum kecil tentang peradaban Bali Utara khususnya arsitektur dalam parahyangan. Terlebih batu parasnya langka, ukirannya khusus

“Suatu saat, (parahyangan, Red) kita akan menjadi sampel, ketika nanti suatu saat orang melihat Pura Style Buleleng seperti apa. Bukan dalam tataran membedakan Bali Utara dan Selatan, tetapi setidakanya bisa menjadi museum kecil,” singkatnya. 

(bx/dik/man/JPR)

 TOP