Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Status Gunung Agung Diturunkan ke Level Normal

13 September 2021, 16: 03: 08 WIB | editor : Nyoman Suarna

Status Gunung Agung Diturunkan ke Level Normal

TURUN LEVEL: Gunung Agung dilihat dari Kecamatan Kubu, Karangasem. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Sudah satu tahun lebih status Gunung Agung di Karangasem, berstatus level II (waspada). Kini gunung yang tingginya mencapai 3.031 mdpl itu diturunkan statusnya menjadi level I (normal), Senin (13/9).

Status gunung tersebut diturunkan setelah melihat jumlah kegempaan vulkanik dalam kurun waktu satu tahun terakhir secara umum mengalami penurunan. Bahkan jumlah kegempaan vulkanik saat ini tidak signifikan. Penurunan status Gunung Agung dari waspada ke normal dilaporkan melalui laporan secara elektronik oleh Badan Geologi Kementerian ESDM Nomor 299.Lap/GL.06/BGV/2021, tertanggal 13 September 2021. “Jumlah kegempaan yang tidak signifikan. Ini mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan intensitasnya rendah,” demikian Andiani, Kepala Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi dalam laporan yang diterima Bali Express (Jawa Pos Group).

Hasil pengamatan secara visual, Gunung Agung dalam periode 1 Januari-13 September 2021 didominasi asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang setinggi 20-50 meter dari puncak. Sedangkan aktivitas kegempaan dalam periode yang sama didominasi gempa tektonik

Baca juga: 23 Jenazah Korban Kebakaran Lapas Tangerang Belum Teridentifikasi

lokal, tektonik jauh, vulkanik dalam, dan hembusan.

Kepala Pos Pantauan Gunung Api Agung, Dewa Made Mertayasa menyebut Gunung Agung terakhir erupsi pada 13 Juni 2019. Saat itu, terlihat lontaran material pijar ke segala arah dengan jarak lontaran lebih kurang 700 meter. Saat itu semburan abu terdampak ke lahan pertanian warga di lereng Agung, bahkan dirasakan sampai beberapa wilayah Karangasem, sebagian wilayah Bangli, dan sekitarnya.

Sekadar diketahui, Gunung Agung dinaikkan statusnya dari level I (normal) ke ke levek II (waspada) pada 14 September 2017 lalu lantaran adanya peningkatan aktivitas vulkanik berdasarkan analisis data visual, instrumental dan mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya.

Kemudian statusnya mulai naik menjadi level III atau siaga pada 18 September 2017. Terakhir gunung yang juga disebut Giri Tohlangkir ini makin bergejolak hingga akhirnya naik status awas pada 22 September 2017.

Menurut Mertayasa, dengan kondisi gunung yang normal, aktivitas pendakian sudah bisa dibuka. Namun masyarakat tetap wajib memperhatikan rekomendasi PVMBG untuk tidak dekat dengan kawah dan lereng dekat kawah. “Sisa material erupsi masih ada dan berpotensi membahayakan,” katanya.

Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas dekat dengan aliran sungai guna menghindari potensi aliran lahar hujan. Aliran lahar hujan masih berpotensi terjadi mengingat saat ini musim hujan. “Tidak ada lagi batas radius 2 km. Asalkan tetap perhatikan rekomendasi,” ujarnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP