Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Suami Meninggal karena Covid, Reliani Hidupi Tiga Anak Masih Sekolah

13 September 2021, 21: 05: 42 WIB | editor : Nyoman Suarna

Suami Meninggal karena Covid, Reliani Hidupi Tiga Anak Masih Sekolah

GARA-GARA COVID: Putu Reliani bersama tiga putra-putrinya ditemui di rumah, Lingkungan Gede, Subagan, Karangasem. Ia menceritakan bahwa suaminya meninggal karena Covid-19. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Hampir sebulan, Ni Putu Reliani hidup tanpa suami, I Gusti Ngurah Made Natha. Beban hidup yang dia rasakan makin berat setelah sang suami meninggal terkonfirmasi positif Covid-19, Selasa (17/8) lalu. Ibu 43 tahun itu praktis jadi tulang punggung keluarga.

Reliani kini hidup dengan tiga anaknya. Putra pertama mereka, I Gusti Bagus Mahendra Danuartha masih mengenyam pendidikan SMA kelas II di salah satu sekolah negeri di Kota Amlapura. Begitu pula putri kedua, I Gusti Ayu Kemala Sasmitha, SMA kelas I.

Sedangkan putri bungsu, Gusti Ayu Sriska Pradnya Nitha masih kelas VI SD. Mereka jadi anak yatim dari sekian anak yatim di Karangasem yang kehilangan orang tuanya karena Covid-19. “Masih sekolah, kebetulan masih pandemi jadi mereka belajar online,” kata Reliani  ditemui di kediamannya di Lingkungan Gede, Kelurahan Subagan, Karangasem.

Baca juga: RTH Bung Karno Siapkan Parkir 12,6 Are, Dikelola Desa Adat

Beberapa hari sebelum meninggal, suaminya sempat berpesan agar selalu rajin bekerja, selalu hati-hati agar tak kena tipu, dan meminta untuk istirahat. “Saya sudah punya firasat buruk,” ucap Reliani penuh lirih.

Dia sama sekali tak menduga, suaminya terkonfirmasi positif Covid-19 hingga meninggal di usia 53 tahun. Sebab, Reliani mengetahui sang suami hanya mengidap infeksi saluran kencing dan penyakit saraf sejak 2018. Meski diakui, kondisi tubuh mendiang I Gusti Ngurah Made Natha makin memburuk sebulan terakhir akibat parahnya infeksi. Karena itu pula, Reliani mengajak suaminya ke salah satu rumah sakit di Karangasem untuk dirawat inap. “Memang sakit saraf kejepit sudah lama sampai sulit berjalan. Kemudian makin parah beberapa bulan terakhir sampai susah buang air. Supaya dapat penanganan akhirnya dirujuk ke RS. Itupun awalnya takut karena pandemi,” tuturnya.

Sebelum ditindaklanjuti, tenaga medis meminta keluarga agar menyetujui dilakukan tes swab. Sebab pasien kala itu menunjukkan gejala demam. Meski Reliani menegaskan, demam itu akibat infeksi dan sulitnya buang air. “Saya sudah sempat periksa ke dokter dan disebut karena infeksi,” sambungnya.

Agar mendapat penanganan, keluarga mengizinkan dilakukan swab test. Dua hari berselang, Reliani terpaku mengetahui hasil tes suaminya positif Covid-19. “Saya shock. Saya berpikir, kok bisa positif. Apakah selama berobat tertular di rumah sakit atau di mana,” ujarnya, menduga-duga.

Kondisi sang suami makin drop. “Suami saya makin sesak. Kakinya mulai biru. Saya tanya perawat, kenapa bisa membiru begini. Katanya karena kekurangan oksigen. Padahal saat itu penanganan sudah pakai oksigen. Saya harus ikhlas pas tahu suami saya sudah gak ada,” ungkap Reliani sambil menahan gemetar di bibir.

Ibu kelahiran Bengkel, Buleleng, ini bertekad agar tetap bertahan di tengah situasi makin berat. Reliani tekun bekerja di salah satu jasa penjahit di Kelurahan Subagan, Karangasem. Ini guna menghidupi dan membiayai tiga anaknya yang masih sekolah. “Saya jadi tulang punggung. Dulu suami bekerja, sekarang saya yang harus tetap jalan,” katanya.

Reliani mengaku bersyukur memiliki saudara yang peduli. Ipar dan keluarga yang lainnya masih tetap membantu. Untuk sekadar memberikan bantuan kebutuhan pokok. Begitu juga bos di tempatnya bekerja yang selalu memberikan kelonggaran apapun padanya. 

Reliani juga mengaku senang diberikan bantuan saat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati datang ke kediamannya bersama Bupati Karangasem I Gede Dana, beberapa waktu lalu. Menteri yang akrab disapa Bintang Puspayoga itu sempat memberikan pesan agar dirinya kuat. “Saya juga berharap agar kami dapat bantuan. Minimal anak-anak saya dibantu sekolah. Agar tidak putus sekolah saja. Terus terang saya berat bekerja untuk tiga anak yang sekolah. Orang tua yang lainnya yang bernasib sama, pasti merasakan yang sama. Semoga ada bantuan," harap Reliani.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya