Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Wanita Muslim Pegayaman Dilarang Pergi Jauh Tanpa Diantar Kerabat

14 September 2021, 06: 37: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Wanita Muslim Pegayaman Dilarang Pergi Jauh Tanpa Diantar Kerabat

Tokoh masyarakat desa Pegayaman, Nengah Panji Islam. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS- Islam di desa Pegayaman adalah islam yang ketat. Ada aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakatnya di desa ini. Misalnya, aturan untuk kaum perempuan. Apabila perempuan pergi meninggalkan rumah lebih dari 25 meter, harus menggunakan kerudung. Dan saat keluar rumah, perempuan wajib ditemani laki-laki yang menjadi muhrimnya. Bisa suami, ayah atau saudara lelakinya yang lain. Kalau tidak perlu sekali, saat malam hari perempuan dilarang keras keluar rumah. “Ini sudah turun temurun dari nenek moyang sudah berlaku. Di sini kalau untuk putri tidak boleh keluar rumah kalau tidak ada yang antar. Harus diantar. Tapi tidak sembarang laki-laki yang menemani. Harus yang menjadi muhrimnya. Tujuanny ya tentu untuk menjaga keselamatan ketika berada jauh dari rumah,” kata Panji.

Aturan itu pun dipertegas kembali oleh Wayan Hasyim, tokoh masyarakat di Desa Pegayaman. Ketika wanita berada jauh dari rumah, otomatis dia akan jauh pula dari pengawasan orang tua. Itu sebbnya harus dikawal dan ditemani ketika pergi atau keluar rumah. “Tujuannya tidak lain tidak bukan agar keselamatan wanita tersebut terjamin dan menjaga kehormatan wanita itu sendiri apabila terjadi gangguan yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Selain perempuan, laki-laki di desa Pegayaman pun memiiki aturan. Dulu, jika keluar rumah juga harus menggunakan sarung dan peci atau kopiah. Namun sekarang hal itu sudah mulai ditinggalkan. “Sekarang sudah jaman modern ya. Itu semua diserahkan ke keluarga masing-masing. Tentunya mereka pasti sudah mengawasi putra-putrinya. Akan tetapi saat ke masjid atau sholat Jumat misalnya, semua laki-laki di sini baik anak kecil hingga dewasa tidak ada yang tidak menggunakan peci. Semuanya taat. Inilah yang masih dipertahankan. Aturan-aturan semacam itu alhamdulilah masih tetap berjala,” ujar Hasyim.

Baca juga: Suami Meninggal karena Covid, Reliani Hidupi Tiga Anak Masih Sekolah

Sala halnya dengan hindu, nama-nama orang di Pegayaman menggunakan nama identitas orang Bali. Nama seperti Wayan, Nengah, Nyoman, Ketut tetap digunakan oleh orang Pegayaman. Dahulu orang-orang di Pegayaman hanya menggunakan nama-nama depan ini saja sebagai nama mereka. Belakangan identitas Bali seperti Putu dan Made juga digunakan di desa ini. “Itu sifatnya karena pergaulan ya jadi berkembang. Agar lebih berbaur lagi. Karena lingkungan orang tua juga lebih dekat dengan hindu. Ketika bertemu dan saling sapa tidak ada perbedaan lagi bahwa kamu hindu saya muslim. Tapi kita sama. Jadi tidak ada jarak lagi. Nama anak-anak saya pun demikian adanya,” kata Panji. 

Dresta itu hingga kini Masih diikuti oleh masyarakat Desa Pegayaman. Salah satunya adalah Fatahillah. Fatahillah memiliki 4 anak. Anak pertamanya adalah perempuan. Dalam hal berpergian, ia selalu mengantar anaknya. Baik pergi kelur desa maupun pergi ke sekolah yang Masih dalam satu wilayah desanya. "Kalau saya Masih, saya antar kalau mau kana-mana. Memang aturan itu ada. Sampai sekarang juga Masih Ada," tuturnya. 

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP