Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Perajin Keris yang Terima Pesanan Fadli Zon, Prabowo hingga Bule

14 September 2021, 07: 37: 57 WIB | editor : Nyoman Suarna

Perajin Keris yang Terima Pesanan Fadli Zon, Prabowo hingga Bule

Made Subrata saat melihat keris. (Suharnanto/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS-Sosok I Made Subrata, 70, sebagai perajin keris bisa jadi belum terkenal seperti lainnya. Namun, kegigihan dan semangatnya patut mendapat apresiasi. Pria berusia 70 tahun ini tak kenal lelah  belajar membuat keris pada orang yang lebih mahir dan berpengalaman. 

Ditemui di rumahnya, Banjar Dangin Pangkung Desa Kaba Kaba, Kediri, Tabanan, bertepatan dengan hari Tumpek Landep, Sabtu (11/9), bapak kelahiran 1951 itu menuturkan pertama kali membuat keris tahun 1985. Awalnya, ia hanya menggunakan peralatan sederhana. Malah, tempat khusus untuk bekerja saja belum ada. Kini seiring dengan meningkatkan kemampuan yang dia miliki, Made Subrata mampu memiliki tempat khusus yang awalnya kandang babi. 

Subrata sempat berguru secara khusus pada Jro Mangku Ketut Sandi di Jalan Ratna Denpasar. Selanjutnya, bapak 1 orang putra dan 2 putri itu mengelana mencari guru khusus membuat keris di kawasan Penarungan, Badung. Usahanya ini sia-sia. Ia tidak mendapatkan guru yang pas untuk mengajari membuat keris seperti yang diharapkan. “Akhirnya saya kembali dan menetap sebagai murid Mangku Sandi,”tutur Subrata. 

Baca juga: Setahun, Kekayaan Bupati Mahayastra dan Wabup Agung Mayun Naik

Dibawah ajaran Mangku Sandi, akhirnyaSubrata mendapatkan kepercayaan mengikuti demonstrasi pembuatan keris di ISI Denpasar tahun 2006. Dari sini, nama Subrata mulai dilirik banyak orang. Empat tahun kemudian, Subrata mendapat kesempatan belajar membuat keris di Solo bersama Basuki. “Saya ditantang oleh pak Basuki untuk membuat keris, kalau gagal saya tidak diperbolehkan pulang ke Bali. Berkat dorongan semangat Pak Suteja Neka, akhirnya berhasil,”kenang Subrata bangga. 

Suami Made Gadung ini pun kian semangat membuat keris dengan kesulitan beraneka ragam sesuai pesanan. “Saya pernah mendapat pesanan keris 5 Cm dengan luk 9, tantangan ini berhasil saya selesaikan,”ungkap Subrata. 

Karya Subrata kian moncer. Tercatat ada politikus Gerinda, Fadli Zon sempat meminta dibuatkan keris sesuai gambar yang dimiliki. Selain itu, Prabowo Subianto, sekarang Menhan RI turut pula memesan keris. Selain tokoh dalam negeri, beberapa warga asing, seperti Belanda, Brazil, Prancis pernah memesan keris pada Subrata. “Bulenya datang langsung kesini membawa gambar keris yang dipesannya,”imbuh Subrata. 

Selain membuat keris, Subrata juga menerima pesanan alat-alat pertanian seperti pisau ataupun sabit. Tapi, sejak pandemi pesanan alat pertanian sudah berkurang. “Masih ada yang namun hanya sedikit, beda sebelum pandemi,”aku Subrata didampingi istrinya.

Dalam bekerja, Subrata juga dibantu anaknya dan Mangmong, warga Madura yang cinta pada keris. “Keris itu unik, ada perbedaan khusus tiap daerah di Indonesia, seperti keris Bali, Jawa, Madura memiliki ciri tersendiri,”ujar Mangmong.

 “Kalau soal mistis, seperti ada keris bisa berdiri itu tergantung orangnya. Prinsipnya semua ada ilmunya, mungkin  orang dulu besi cukup dipijat pakai tangan, kalau sekarang ya pakai alat ditempa, dipukul, atau dicairkan di level titik didih logamnya,”jelas alumni FE Undiknas ini. 

Sedangkan masalah keris berdiri, menurut saya adalah keseimbangan kerisnya. Keseimbangan dr segi garap dan presisi antara kanan kiri bilah dan juga keahlian, ketenangan dan fokus orangnya memberdirikan keris.

Untuk proses tempa. Konon sekali lagi konon jaman dulu dipijat tanpa ditempa (tdk ada bukti arkeologi sejarah). Itu hanya menyrut beberapa babad dan cerita oral. Sedangkan proses tempa menggunakan alat bantu itu sejak jaman dulu dilakukan. Karena banyak ditemukan artefak dan bukti sejarahnya. 

(bx/har/man/JPR)

 TOP