Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Seksualitas di Jalur Rempah

15 September 2021, 08: 19: 59 WIB | editor : Nyoman Suarna

Seksualitas di Jalur Rempah

BERBAHAN REMPAH: Nyoman Landri, 71, dari Banjar Dinas Munduk Sari, Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak, saat mengilah berbagai rempah untuk dijadikan minyak rambut. (Dian Suryantini)

Share this      

BULELENG, BALI EXPRESS- Nyoman Landri, lansia berusia 71 tahun dari Banjar Dinas Munduk Sari, Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak, bergegas bangkit dari tempat tidurnya. Ia rapikan rambutnya, lalu bersiap membersihkan diri. Meski sudah tergolong lansia, ia memang rutin merawat diri setiap pagi.

Sebelum mandi ia maboreh atau luluran kunyit. Ia kemudian mempersiapkan tungku dari tumpukan bata. Di lubang tungku ia masukkan kayu bakar. Di atas tungku yang sudah menyala, ia taruh kaleng bekas susu formula. Pada kaleng itu ia menggoreng ramuan rempah-rempah untuk dibuat minyak rambut. Meski di rumahnya terdapat kompor gas, ia memilih menggunakan tungku kayu bakar. Alasannya, aroma minyak yang dibuat dari bahan rempah itu lebih menguar. “Kalau pakai kompor kurang sedap harumnya,” kata dia sembari mengaduk minyak.

Nenek Landri sudah menggunakan minyak rambut ramuan rempah ini sejak ia masih muda. “Selain membuat rambut harum juga membuat rambut nampak hitam,” kata Landri.

Baca juga: bank bjb Raih Penghargaan Top Bank Awards 2021 dari The Iconomics

Seksualitas di Jalur Rempah

LONTAR: Lontar Rukmini Tattwa memuat pengetahuan tentang perawatan tubuh. (Dian Suryantini)

Bahan-bahan yang digunakannya yakni akar wangi, daun pandan harum, kulit kayu cendana, daun nilam, gandapura, kelambet. Semua bahan dicampur menjadi satu lalu digoreng menggunakan minyak kelapa. Bahan-bahan itu dibelikan oleh cucunya di Pasar Seririt. “Dulu bahan-bahannya tinggal memetik dan cabut saja di kebun atau di halaman, tapi kini harus membeli di pasar,” katanya.

Proses pembuatannya tidak begitu lama, cukup 15 menit minyak rambut sudah jadi. Setelah diangkat dari tungku, tunggu dingin, dan siap digunakan. Tidak perlu dicampur apa pun. Untuk penggunaannya tidak perlu terlalu banyak. Ambil secukupnya sesuai kondisi dan volume rambut. “Sedikit saja. Setetes saja cukup. Ini alami, tidak akan merusak rambut. Tidak seperti minyak rambut jaman sekarang,” katanya.

Sambil mencontohkan penggunaan minyak rambut yang dibuatnya, Nenek Landri berpesan, perawatan bagi perempuan itu penting, karena rambut adalah mahkota. Jika rambut tetap kemilau, maka ia akan tetap kelihatan segar dan cantik.

Darimana Landri belajar tentang pembuatan minyam rambut dari rempah-rempah? “Saya belajar dari ibu saya,” katanya.

Saat itu, kata Landri, ia melihat ibunya membuat ramuan minyak rambut dari rempah, kemudian ia mencoba memakainya dan ia jatuh cinta pada minyak rambut buatan rempah itu hingga tetap ia gunakan hingga tua. “Ini pengetahuan dari leluhur,” ujarnya.

Di Bali, pengetahuan tentang perawatan tubuh dan kecantikan perempuan biasanya diwariskan secara turun-temurun sebagaimana yang terjadi di keluarga Landri. Tapi secara tertulis pengetahuan tentang perawatan tubuh itu terdapat dalam Lontar Rukmini Tattwa.

Pembaca lontar sekaligus dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja Ni Made Ari Dwijayanthi, dalam lontar itu disebutkan tata cara merawat rambut sebagai mahkota wanita agar tetap sehat, lebat, hitam dan berkilau. Selain itu juga menjelaskan agar kulit kepala terawat, bebas ketombe, serta tidak berminyak.

Jika dilihat lebih dalam, pada lontar itu juga disebutkan terdapat 36 dewi yang berstana dalam tubuh wanita. Misalnya, pada bagian kepala, khususnya rambut berstana Dewi Lomawati. Ari mengungkapkan, Dewi Lomawati menggunakan bahan-bahan alami untuk shampoo. Ia memetik beberapa dedaunan seperti daun mangkokan, daun waru serta daun kembang sepatu. “Hai Angin, aku memetik daun waru, pun telah memetik daun kembang sepatu, tak lupa juga aku memetik daun mangkokan, aku menjadikannya penyejuk di kepalaku, sebelum kekasihku datang,” ujar Ari.

Ditambahkan Ari, sesekali Dewi Lomawati mengibaskan rambutnya untuk memastikan angin berhembus lembut. Dari jemarinya yang lentik ia meremas beberapa daun lalu membalurkannya pada rambut. Sebermula mencintai, seperti itu pula perempuan merawat rambutnya.

Ari pun sedikit mengutip adaptasi Kekawin Smaradahana saat Dewa Smara merayu Dewi Ratih. ‘Pada kemilau hitam rambutmu, ku simpan hasratku.

Pada harum cempaka rambutmu, ku pendam cintaku. Pada gelombang rambutku, ku tautkan segala pujianku padamu kekasih hatiku. Adakah yang lebih indah selain mengecup mesra rambutmu?’

Tidak saja rambut yang membutuhkan perawatan agar tetap menawan dan memikat perhatian lawan jenis. Hal terpenting lainnya yang sangat memerlukan perawatan adalah organ intim. Terlebih bagi pasangan suami istri. Satu faktor itu sangat berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga.

Seperti yang dilakukan Ayu Ria, warga dari Kelurahan Kampung Baru di Kecamatan Buleleng. Ia rajin datang ke sebuah salon kecantikan di kawasan Jalan Bekisar Singaraja. Pegawai salon langsung mengenali Ayu dan mengarahkan Ayu ke sebuah ruangan. Di ruangan itu, Ayu duduk di atas sebuah kursi dengan balutan kain batik. Sembari bersandar ia menghabiskan waktu di atas kursi khusus dengan pengasapan dari rempah ratus. Selama 30 menit kemudian Ayu keluar dengan wajah segar. Ayu memang sudah biasa melakukan ratus. Bagi dia ratus adalah langkah tepat untuk membuat daerah kewanitaannya tetap mantap. Raut wajah malu-malu nampak padanya. Namun dia melakukan itu dengan yakin. “Rasanya lebih kesat saja. Ya biar suami juga betah di rumah,” akunya.

Perasaan bahagia juga dirasakan setelah melakukan ratus vagina. Kondisi tubuh menjadi lebih segar. Aroma wangi dari area kewanitaan akibat pengasapan rempah membuat pikiran menjadi rileks dan terasa tenang. “Beda seperti sebelumya. Lebih segar. Ada aroma rempahnya juga,” bubuhnya.

Ratus vagina yang dilakukan Ayu, bagi pemilik salon Rumah Cantik Bekisar, Wijayanti, memang diperuntukkan bagi kaum hawa yang ingin merawat area kewanitaan agar tetap terjaga. Kerap kali permasalahan yang dialami yakni keputihan berlebih. Selain itu juga bau tak sedap yang muncul dari daerah kewanitaan. Tentu hal itu membuat tidak nyaman. Salah satu yang bisa dilakukan dengan cara ratus. Selain dapat mengatasi masalah keputihan pada wanita dan bau tidak sedap, juga dapat meningkatkan kepuasan seks bagi pasangan yang sudah menikah. “Ini untuk perawatan luar. Yang melakukan ini banyak, masalahnya rata-rata karena keputihan,” jawabnya.

Tidak seperti dahulu, rempah digunakan secara utuh. Dalam kasus ini, rempah sudah diolah menjadi serbuk. Ada kunyit yang befungsi untuk mengencangkan kulit area kewanitaan serta anti penuaan untuk kulit kewanitaan. Lalu, daun sirih yang berfungsi membersihkan dan merapatkan area kewanitaan. Ada buah pinang yang berkhasiat merapatkan area kewanitaan. Selanjutnya ada gambir yang berfungsi mengatasi lendir berlebih. Kemudian ada cendana yang juga berkhasiat mengencangkan kulit pada area kewanitaan. Tak ketinggalan pula bahan rempah seperti buah manjakani yang berkhasiat mengatasi bau tidak sedap pada area kewanitaan. “Semua itu dicampur jadi satu. Kemudian asapnya dipakai untuk perawatan ratus agar miss V tetap mantap,” ujarnya.

Ratus merupakan perawatan yang dilakukan di areal vagina. Ratus dilakukan dengan tradisional, yakni pengasapan langsung di organ intim wanita dari hasil pembakaran ramuan berbagai rempah alami. Perawatan ini tidaklah memakan waktu lama. Cukup duduk di atas tempat duduk khusus yang telah dilubangi lalu asap dari pembakaran rempah itu akan mengasapi area kewanitaan selama 30 menit. Ramuan air rebusan yang digunakan pada umumnya menggunakan kayu secang, kunyit, bunga mawar, temulawak, pala hingga akar wangi. Kombinasi rempah ini dipadukan dengan uap hangat. Ratus sendiri dipercaya dapat melebarkan pembuluh darah, meningkatkan sirkulasi darah, menyediakan asupan oksigen dan merelaksasi otot-otot panggul. Ratus vagina juga diklaim dapat membersihkan, mengharumkan dan menjaga kesehatan area intim sekaligus juga dapat menyeimbangkan kembali hormon wanita.

Perawatan organ intim menggunakan rempah ini juga terdapat dalam Lontar Rukmini Tattwa. Isi lontar ini pun diceritakan Putu Suarsana, seorang pembaca lontar di Gedong Kirtya, Singaraja, Bali. Lontar ini muncul berdasarkan pengalaman Rukmini yang dicampakkan sang suami. Dalam lontar itu diceritakan semakin hari sang suami semakin menjauh. Seakan sudah tidak lagi menginginkannya ada sebagai pendamping hidup. Rukmini merasa frustasi. Berbagai cara dilakukan untuk merawat dirinya agar suaminya tetap berada dipelukannya. Akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil meskipun dilakukan dengan maksimal. Karena merasa usaha yang dilakukan itu gagal, maka ia datang kepada Dewa Saci. Ia memohon petunjuk agar suaminya tidak berpaling ke lain hati. Maka diberikanlah Rukmini sebuah wejangan agar ia merawat dirinya dengan ramuan obat-obatan yang diberikan. Rukmini diminta untuk menjaga area kewanitaannya agar tetap terjaga dan selalu terasa seperti perawan. Ia diberikan sebuah sarana, seperti air jeruk linglang, kelapa yang dibakar, manjakani, jinten, ulambet, merica, bawang putih. Itu dicampurkan semua dibuat seperti loloh atau jamu lalu diminum.

Sebelum minum, Rukmini merapalkan mantra yang berbunyi ‘Ranining Sang Baga Purusa Harat Adodol Wajik Sorta Papanganan Kabeh Dene Wawadonane Wastu Panhulun Pupuh Siwa Dananing Kahot Kapurusa Dene Pinakang Hulun Teke Lulut Asih Si Anu Hanang Amban Wawadonan Ing Hulun’. Mantra tersebut bertujuan agar apa yang diinginkan seperti mengesatkan vagina dapat berhasil. Disamping itu juga segala permasalahan kewanitaan seperti keputihan, bau tidak sedap hingga kurang rapat menggunakan mantra dan sarana ini. Sehingga leluhur pada jaman dulu selalu merasa mantap jika melakukan perawatan yang tertera dalam lontar ini. Mantra yang dirapalkan merupakan doa untuk mengiringi usaha yang dilakukan. Bukan digunakan untuk ilmu hitam atau pelet. Di Bali ini disebut proses Usada atau pengobatan tradisional. “Jadi ada sarana, ada proses, ada mantra. Biasa itu dalam lontar pengusadaan sehingga nampak selalu kesat seperti belum terjamah,” paparnya.

Usaha untuk menciptakan sebuah kenikmatan bercinta dengan ramuan rempah nusantara pun tidak saja dilakukan oleh pihak perempuan. Jaman dulu, pihak lelaki pun tak mau kalah. Mereka juga turut melakukan perawatan demi membahagiakan pasangan. Leluhur terdahulu juga meninggalkan resep untuk merawat kelelakian agar tetap perkasa. Lagi-lagi, resep itu ada dalam ulasan sastra pada lontar Rukmini Tattwa. Namanya Usada Penglanang (pengobatan tradisional untuk kejantanan lelaki). Di bagian penglanang ini disebutkan cara-cara merawat kejantanan lelaki. Seperti meningkatkan vitalitas lelaki dan kekuatan kejantanan lelaki. Dibagian ini dibuat agar lebih bergairah. Ini ditujukan untuk mereka yang sudah menikah agar tercipta suasana yang harmonis dalam rumah tangga. Maka apabila rumah tangga mulai tidak harmonis lagi, lontar inilah kuncinya untuk mengembalikan keharmonisan hubungan suami dan istri. “Begitu yang disebutkan dalam ulasan lontar ini,” imbuhnya.

Melakukan perawatan tidaklah mungkin tanpa sarana. Di sini, rempah-rempah kembali mengambil peran, terutama pala. Dengan dicampur bahan-bahan lainnya maka khasiat pala yang berkolaborasi dengan khasiat dari bahan lainnya konon dipercaya dapat meningkatkan vitalitas. Seperti, tumbuhan kaki jaraking, pala, kembang sepatu atau bunga pucuk, jeruk purut, weding, kulit curhor, air jeruk nipis. Semua bahan dicampur jadi satu lalu diusapkan pada alat kelamin laki-laki. “Pala sendiri memiliki khasiat sebagai rempah pendongkrak stamina,” jelasnya.

Ada pula rempah-rempah yang digunakan agar kepunyaannya menjadi besar. Bahannya disebut Triketuka seperti bawang, jangu, mesui. Tiga bahan itu dicampur dengan bagian tubuh dari ular sawah. Disimpan dalam Pane (kendi) selama satu bulan. Setelah itu baru siap untuk dipakai. Cara pakainya juga dengan cara diusap. Bagian-bagian ini adalah salah satu hal yang menjadi kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. Jika sudah mulai renggang, biasanya keharmonisan akan luntur. Kurang mesra. “Jadi dalam naskah kuno, para leluhur terdahulu juga mencatat ini untuk dijadikan bekal kepada generasi penerus,” katanya.

Terkait tamba manjur atau obat mujarab yang dipakai sebagai penggugah nafsu seksual, dalam lontar ini disebutkan bahan-bahannya, yakni kencur tunggal dipotong sepanjang satu ruas ibu jari, dicampur dengan merica lalu dihaluskan. Mantranya berbunyi ‘Om Mahadewa Sakti, Hanambani purus manju, teke cenger cenger cenger, maha maha maha’. Mantra ini dirapalkan saat memakai obat ini. Biasanya obat ini digunakan untuk meningkatkan nafsu seksual. Nafsu bercinta dari pihak laki-laki. Kemungkina ini digunakan ketika laki-laki itu alat kelaminnya mengalami impoten. Sehingga berpengaruh pada keharmonisan sebuah hubungan. “Dengan obat ini diyakini akan kembali bergairah,” imbuhnya.

Saat ini bahan-bahan rempah seperti, cengkeh, bawang putih, merica, pala, temulawak, kunyit yang digunakan sebagai ramuan untuk perawatan, masih ditanam dan dapat ditemukan di Bali. Cengkeh sendiri merupakan rempah serbaguna. Rempah yang memiliki nama latin Syzygium Aromaticum ini berasal dari pohon Myrtacease. Cengkeh sendiri mengandung vitamin C, vitamin A, vitamin E, kalium, kalsium, zink serta antioksidan.  Cengkeh digunakan untuk bahan perawatan bagi kaum perempuan karena dipercaya dapat mengurangi keputihan dan bau tidak sedap. Sehingga areal kewanitaan tetap kesat.

Peran yang sama juga dimiliki kunyit. Bumbu dapur yang satu ini tidak saja menambah nikmat pada masakan. Tapi juga mampu menambah kenikmatan saat digunakan sebagai pembersih organ intim. Karena kunyit memiliki kandungan anti bakteri dan anti septic yang mampu mengurangi aroma tidak sedap bagi wanita.

Bagi pria, pala memegang peran penting sebagai rempah untuk meningkatkan libido pada pria. Pada umumnya biji pala diandalkan sebagai tambahan bumbu masak. Rasa dan aroma khas biji pala membuat masakan jadi lebih sedap. Tapi bukan hanya sebagai bumbu masak, karena sejak zaman dahulu biji pala juga diandalkan sebagai rempah pendongkrak stamina. Dilansir dari MenHealth dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal BMC mengatakan, pala mampu meningkatkan libido ketika diujicobakan pada hewan. Kemudian peran penting lainnya dimainkan oleh rempah yang disebut merica. Bagi pria merica dipercaya dapat meningkatkan kesuburan.

Untuk melestari rempah-rempah sebagai bahan perawatan tubuh, Museum Rempah yang berlokasi di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, juga memiliki koleksi tanaman rempah yang disebutkan dalam lontar.  Museum tersebut dikelola oleh dua bersaudara yakni Gede Kresna dan Made Suyasa Wijaya Dwijaksara. Museum ini dibuka dengan tujuan utama edukasi. Hal ini justru menjadi poin penting untuk menjaga kelangsungan museum rempah sehingga tetap berimbang mengusung semangat edukasi dan pariwisata. “Ada rempah yang kami tanam ada juga yang kami display tentang rempah. Kemudian kami kemas kembali dengan sebuah destinasi Museum Rempah,” jelas Suyasa Wijaya Dwijaksara.

Ada sekitar 130 jenis tanaman rempah yang ditanam di lahan seluas 1,2 ha. Lahan seluas itu seluruhnya ditanami rempah. Namun saat ini masih belum terlihat jelas karena bibit rempah maih berusia muda. Yang nampak menonjol adalah rerumpunan tanaman sereh yang tumbuh subur pada bagian depan pintu masuk. Begitu juga dengan tanaman Rosela, daun pegagan serta Adas Manis. Sisanya tersebar di beberapa titik dengan kondisi tanaman masih kecil. “Sekitar 130 jenis rempah yang tertanam di museum ini. Disini didominasi oleh kopi dan cengkeh. Luasan museum ini 1,2 ha seluruhnya ditanami rempah,” ujarnya.

Rempah-rempah yang ada di museum seluruhnya di dapat dengan cara membeli. Selain membeli bibit rempah, ada pula rempah yang sudah diolah mejadi bubuk atau rempah yang sudah siap pakai. Rempah-rempah itu ditempatkan di dalam toples kaca untuk kemudian di display. Pameran rempah itu juga dilengkapi dengan nama serta penjelasan terkait jenis dan manfaatnya. Ratusan rempah yang ditanam di museum itu tentu jika tiba waktunya akan memberikan hasil yang melimpah. Hasil panen dari rempah-rempah itu nantinya akan dijual. Namun ada juga yang diolah di tempat ini seperti pohon Indigo yang dimanfaatkan sebagai pewarna tekstil alami. “Rempah yang nantinya dipanen hasilnya akan dijual. Sisanya di konsumsi sendiri dan diolah,” imbuhnya.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP