Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Ida Pedanda Gede Made Jelantik Karang Lebar

Pejuang Tanah Aron, Tulus Menari hingga Layani Umat

15 September 2021, 08: 46: 58 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pejuang Tanah Aron, Tulus Menari hingga Layani Umat

Oka Adnyana menunjukkan foto Ida Pedanda Gede Made Jelantik Karang berfose di depan tugu pahlawan Tanah Aron, Karangasem. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Sekitar Juni 2020 lalu, Ida Pedanda Gede Made Jelantik Karang secara khusus meminta untuk diantar ke Tugu Pahlawan Tanah Aron. Semangat makin bergelora. Teringat momen heroik 1946 silam. Pertempuran di lereng Gunung Agung yang tak terelakkan.

“Letupan senapan, pasukan teriak-teriak. Darah di mana-mana. Begitu beliau sampaikan. Beliau ingat di mana para pasukan sembunyi dari serangan tentara Belanda. Lihat suasana sekitar tugu, beliau merasa seperti masih muda,” tutur Ida Mangku Oka Adnyana, mengenang yang dikisahkan sang ayah.

Tutur kisah heroik kala menghadang pasukan Belanda pasca kemerdekaan, itu tak terdengar lagi. Keluarga berduka. Ida Pedanda Gede Made Jelantik Karang lebar (meninggal), menghembuskan napas pada Minggu (12/9) lalu di kediamannya di Griya Karang, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem.

Baca juga: Bocah SD Maling Motor, Disembunyikan di Tegalan

Ida Mangku Oka Adnyana mengatakan, pihak keluarga sepakat prosesi upacara palebon digelar pada Desember mendatang. “Beliau lebar di usia 98 tahun meninggalkan enam anak dan 11 cucu,” jelas Oka Adnyana, ditemui di Griya Karang Budakeling.

Putra keempat Ida Pedanda ini menyebut sang ayah tak ada riwayat penyakit apapun. Meski diakui, aktivitas Ida Pedanda dalam satu bulan sangat padat. Melayani umat memangku beragam prosesi upacara di berbagai tempat, melelahkan fisiknya. “Beliau harus hadir untuk mapuja. Sangat padat,” kata Oka Adnyana sambil menunjukkan kalender berisi jadwal kegiatan.

Sebelum lebar, Ida Pedanda tampak baik. Anggota keluarga sempat meminta untuk tidak mandi pagi. Mereka tahu, kondisi Ida Pedanda berbeda dari biasanya. Tampak lelah. “Beliau minta susu, kami buatkan. Setelah itu istirahat, beberapa saat beliau lebar (meninggal),” ujar Oka Adnyana.

Keluarga sangat meneladani Ida Pedanda yang dikenal selalu menanamkan patriotisme. Sebelum jadi sulinggih, Ida Pedanda Gede Made Jelantik Karang adalah veteran pejuang kemerdekaan. Ketika walaka bernama Ida Made Putra Sari tergabung sebagai anggota pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai.

Turut kontak fisik di Tanah Aron, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, pada 1946, membuatnya sempat ditahan Belanda selama tiga bulan. “Beliau ikut selama tiga tahun tempur. Saat pasukan bergerak ke Marga (Tabanan), beliau ditugasi oleh I Gusti Ngurah Rai untuk bertahan di Tanah Aron,” tutur Oka Adnyana.

Usai peperangan mendirikan tugu pahlawan seadanya di Tanah Aron untuk mengenang perlawanan terhadap Belanda. Saat itu tugu masih menggunakan tumpukan batu. "Beliau cerita kucing-kucingan dengan musuh. Tempat sembunyi masih ingat. Beliau sangat semangat cerita kalau datang ke tugu pahlawan. Di Bebandem, beliau veteran pejuang terakhir yang masih hidup," tegasnya.

Selain itu, Ida Pedanda Gede Made Jelantik Karangasem sebelum madiksa, aktif sebagai seniman tari klasik. Kecintaan terhadap seni tari, membentuknya menjadi seniman yang tulus. Kemudian pada 1992 madiksa menjadi sulinggih di usia 65 tahun. “Yang kami ingat pesan dari beliau, menolong orang harus sampai tuntas dan tulus,” pungkas Oka Adnyana.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP