Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
Kiat Perbekel Desa Panji, Buleleng

Kembangkan Babi Hitam, Jadi Bahan Baku Dendeng Asap

21 September 2021, 13: 30: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kembangkan Babi Hitam, Jadi Bahan Baku Dendeng Asap

TERNAK : Perbekel Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Made Mangku Aryawan saat menunjukkan babi hitam yang diternakkannya sejak 1,5 tahun silam. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kiat usaha Perbekel Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Made Mangku Aryawan untuk mengembangkan ternak Babi Hitam (Celeng Bali) layak di tiru. Pemasarannya sudah disiapkan. Babi hitam yang sudah layak dipanen nantinya akan diolah menjadi dendeng asap bumbu bali oleh PKK Desa Panji. Seperti apa?

Kandang babi hitam berjejer rapi di belakang rumahnya Made Mangku Aryawan. Mantan Anggota DPRD Buleleng Periode 2014-2019 ini terlihat sibuk membersihkan kotoran babi yang ada di kandang menggunakan air bersih.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Mangku Aryawan menceritakan jika dirinya memulai usaha babi hitam ini sejak 1,5 tahun lalu. Persis setelah beberapa bulan dilantik menjadi Perbekel Desa Panji.

Baca juga: Disdik Tabanan Mulai Ajukan Permohonan Izin PTM

Ada sejumlah alasan, mengapa dirinya beternak babi hitam ketimbang Babi Landrace yang terkenal dengan ukurannya yang jumbo. Dari sisi ukuran, babi hitam memang jauh lebih kecil. Sehingga saat dipanen pun beratnya masih di bawah 50 kilogram.

“Kalau dari sisi rasa, babi hitam jangan ditanya lagi kualitas rasanya. Lemaknya lebih sedikit, kalau dipakai babi guling, kulitnya lebih tebal dan lebih renyah. Artinya babi hitam kalah di ukuan, tapi menang di rasa,” jelasnya, Minggu (19/9) lalu.

Mangku Aryawan menceritakan, bibit babi hitam tak terlalu sulit dicari. Semua pasokan bibit itu ia dapatkan dari peternak di desanya. Harganya pun masih tergolong murah, yakni Rp 600 ribu. Namun, ia mengaku jika sejak beberapa bulan harga bibit babi hitam yang usianya 1,5 bulan sudah mencapai Rp 900 ribu per ekor.

“Karena jadi bahan dendeng asap inilah, banyak yang mencari. Sehingga harga bibitnya naik, hampir 50 persen,” imbuhnya.

Awalnya, saat memulai ternak babi hitam 1,5 tahun lalu, Mangku Aryawan memelihara sebanyak 15 ekor. Karena tingginya permintaan daging babi hitam, ia pun terus menambah jumlah ternaknya sampai kini menjadi 40 ekor.

Rata-rata babi yang dijadikan bibit sudah berusia 35-40 hari. Setelah itu babi dipelihara hingga berusia 6 bulan dan sudah layak panen. “praktis kami hanya memelihara antara 4 bulan saja dari bibit untuk layak konsumsi,” ungkapnya lagi.

Babi yang dipanen sudah pas untuk diolah menjadi babi guling. Beratnya masih di bawah 50 kilogram. Harganya di kisaran Rp 1,8 juta sampai Rp 2,5 juta.

Disinggung terkait pakan, ia mengaku hampir 80 pesen pakan berasal dari organic. Seperti dauh bayam, cublingan, blandingan, yang ada di sekitaran kandang. Namun, jika sebluma sebelum panen, maka barulah  diberikan pakan sentrat.

Dikatakan Mangku Aryawan, Babi hitam ini memiliki tekstur daging yang lebih merah, lembut dan sedikit kandungan lemak. Kulitnya juga lebih tebal dan lebih renyah sehingga cocok untuk olahan babi guling.

Daging babi hitam ini biasanya dipasok untuk memenuhi kebutuhan PKK Desa Panji untuk diolah menjadi kuliner siap saji bernama Dendeng Asap. Makanan ini juga dibaluri dengan bumbu rumahan, seperti gula aren, ketumbar, lengkuas, garam dan cabai.

“Dendeng asap ini sangat banyak peminatnya karena memang rasanya enak. Konsumen biasanya mengorder langsung ke PKK Desa Panji. Kami juga sering memamerkan produk Dendeng Asap ini saat ada event festival,” pungkasnya. 

(bx/dik/man/JPR)

 TOP