Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pura Tirta Bulan di Singapadu Tengah (1)

Diyakini Tempat Pengobatan Sekala-Niskala, Peninggalan Ida Dukuh Sakti

23 September 2021, 07: 19: 00 WIB | editor : Nyoman Suarna

Diyakini Tempat Pengobatan Sekala-Niskala, Peninggalan Ida Dukuh Sakti

SEPERTI BULAN : Lingkaran putih menyerupai bulan di dalam goa Pura Tirta Bulan dan pancoran Tirta Bulan tempat melukat di pinggir Tukad Oos. (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

Selain Pura Tirta Empul yang sudah terkenal sebagai tempat untuk melukat, ternyata ada juga tempat melukat lainnya yang sudah cukup dikenal di wilayah Gianyar. Ialah Pura Tirta Bulan yang berlokasi di Banjar Negari, Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Tak sulit untuk menemukan pura ini. Dari arah Denpasar cukup mengikuti jalan menuju Jalan Raya Singapadu, dan pura ini berada sekitar 200 meter di sebelah utara Puskesmas Sukawati II. Selain untuk melukat, masyarakat meyakini jika dapat memohon pengobatan sekala niskala di pura tersebut, termasuk untuk memohon keturunan.

Pemangku Pura Tirta Bulan, Jro Mangku Made Sergog, 77, didampingi Jro Mangku Nyoman Sumerta, 50, menuturkan bahwa Pura Tirta Bulan memiliki kaitan dengan Ida Dukuh yang dikenal ahli dalam pengobatan sekala niskala. Ia pun menceritakan jika lokasi pura tersebut ditemukan oleng penglingsirnya dahulu kala. Menurutnya, kala itu lokasi tersebut merupakan jurang yang dipenuhi semak belukar di pinggir aliran Sungai Oos. "Jadi ini peninggalan Ida Dukuh Sakti. Penglingsir kami menemukan tempat ini dipenuhi semak belukar, posisinya nyerengseng (miring,Red)," ujarnya Rabu (22/9).

Namun sebelumnya, penglingsirnya tersebut memang mengalami kebrebehan hingga bingung sampai akhirnya mendengarkan bisikan gaib dan menemukan lokasi tersebut. Di tempat itulah penglingsirnya kemudian Ngayah, membersihkan lokasi, hingga membuat pelinggih.  "Penglingsir kami dulu mengalami kebrebehan. Punya anak, meninggal dunia. Menikah lagi, seperti itu lagi. Akhirnya bingung, kemudian mendapatkan bisikan gaib mungkin, sampai akhirnya penglingsir kami menemukan tempat ini dan diberi petunjuk untuk terus ngayah, ngiring sesuhunan disini," tegasnya.

Baca juga: Wacana Open Border Kembali Berembus, Pengusaha Ukur Kesiapan Bali

Sejatinya, Jro Mangku Sumerta tidak mengetahui pasti kapan peristiwa itu terjadi. Sebab hal itu sudah terjadi lama dan ia sendiri merupakan generasi keempat dari penglingsirnya tersebut dan hingga kini masih Ngayah di Pura Tirta Bulan.

Seiring berjalannya waktu, penglingsirnya pun menemukan sumber mata air klebutan dari bawah Pohon Beringin di sebelah timur Pura. Dimana tirta yang berasal dari sumber mata air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit baik sekala maupun niskala. Informasi itu kemudian dengan cepat beredar sehingga hingga kini banyak pemedek yang tangkil untuk melukat di Pura Tirta Bulan. Kini, klebutan tersebut sudah ditata menjadi pancoran penglukatan Tirta Bulan. 

Lebih lanjut ia menuturkan jika Pancoran Tirta Bulan, sejatinya sebelum tahun 1990-an tempatnya tinggi, sehingga krama yang melukat dengan posisi berdiri. Namun semenjak gencarnya eksploitasi batu padas, aliran Tukad Oos menjadi dangkal. "Jadi sekarang harus duduk atau bersimpuh," ujarnya.

Adapun tahap persembahyangan yang biasa dilakukan pemedek adalah umumnya  menggunakan sarana berupa banten pejati. Kebanyakan pemedek yang tangkil, biasanya akan mandi dulu di Tukad Oos, setelah itu barulah melukat di Tirta Bulan. Saat melukat, pertama-tama pemedek mekumuh (berkumur) sebanyak 3 kali, kemudian meraup (membasuh wajah) sebanyak 3 kali, nunas (minum) sebanyak 3 kali, setelah itu baru lah seluruh tubuh dibasuh pada pancoran tersebut. Kemudian setelah melukat di pancoran Tirta Bulan baru pemedek menghaturkan bhakti di utama mandala. 

"Saat melukat pemedek bisa menyampaikan langsung segala permasalahan yang dihadapi dan permohonan yang diinginkan. Sebab pihak percaya jika permohonan yang tulus ikhlas akan terkabulkan atas kehendak Ida Dukuh Sakti yang berstana di pura tersebut. "Sudah banyak yang membuktikan. Bahkan ada juga yang lama tidak dikaruniai keturunan, setelah melukat bisa hamil," bebernya.

Uniknya, ketika pemedek melukat akan muncul sejumlah pertanda, mulai dari air berubah menjadi keruh, berbau atau rasanya yang berubah manis atau sepet. "Itu tergantung siapa yang melukat. Kalau kapice, biasanya ada pertanda. Kadang airnya berubah puek, kadang rasanya jadi manis atau sepet," jelasnya. 

Namun jangan coba-coba nekat melukat apabila sedang cuntaka. Seperti misalnya wanita sedang haid maupun warga yang sedang berduka. Sebab hal itu sudah terbukti, dimana suatu ketika ada seorang pemedek yang baru datang dari acara mengubur jenazah kemudian langsung melukat di pancoran Tirta Bulan. Alhasil saat melukat, pemedek itu tiba-tiba dililit ular yang entah datang dari mana. "Pemedek itu kemudian lari telanjang menyelamatkan diri. Maka itu, kami menjaga betul kesakralan tempat ini, disini pingit dan kami percaya itu," sebutnya.

Selain pemedek yang datang dari masyarakat umum, kata Jro Mangku Sumerta jika tak sedikit kalangan pejabat yang tangkil ke Pura Tirta Bulan. Meskipun tidak mengetahui pasti maksud dan tujuan kedatangan mereka, namun pihaknya selalu terbuka. "Pejabat ada banyak. Tapi kita kan tidak tahu apa keinginan mereka. Itu urusan pribadi mereka, yang jelas kita disini menerima siapa saja yang ingin menghaturkan bakti," jelasnya. (bersambung) 

(bx/ras/man/JPR)

 TOP