Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Bahas Nasib Penerapan PTM, Sanjaya Ingatkan Prinsip Kehati-hatian

24 September 2021, 22: 07: 20 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Bahas Nasib Penerapan PTM, Sanjaya Ingatkan Prinsip Kehati-hatian

DISKUSI: Pembahasan nasib pelaksanaan PTM di masing-masing sekolah yang dipimpin Bupati Sanjaya pada Jumat (24/9) . (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Rencana penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) ditambah dinamika penyebaran Covid-19 yang memunculkan klaster sekolah membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan ekstra hati-hari mengambil keputusan.

Setidaknya, dari hasil pembahasan di bawah pimpinan langsung Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya pada Jumat (24/9), PTM akan diterapkan setidaknya akhir September 2021 atau awal Oktober 2021 mendatang. Itupun masih dengan catatan, pelaksanaannya akan tetap terbatas dan sesuai dengan protokol kesehatan (prokes) yang sudah disimulasikan.

Pembahasan dalam bentuk diskusi itu dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tabanan I Nyoman Putra. Di kesempatan itu, Sanjaya menekankan soal prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan PTM. Sekalipun surat edaran baik dari menteri, gubernur, sampai dengan bupati telah disiapkan untuk kepentingan penyelenggaraannya di tingkat satuan pendidikan.

Baca juga: Norwegia Mulai Hidup Normal, Pembatasan Covid Dicabut

Prinsip kehati-hatian yang dia tekankan tersebut mengkhusus kepada para pendidik maupun tenaga kependidikan agar dipastikan telah memperoleh vaksinasi. Mereka yang belum tidak diizinkan untuk mengajar.

"Kalau seluruh kabupaten/kota di Bali kompak keputusannya, akhir bulan ini atau awal Oktober 2021 (PTM) akan segera kami laksanakan," jelasnya.

Dia tidak memungkiri, PTM jauh lebih efektif dan efisien. Namun, dengan situasi penyebaran Covid-19 saat ini, meskipun sudah melandai, penerapan prokes tidak bisa diabaikan begitu saja agar tidak memicu munculnya klaster baru. "Klaster ini yang harus diwaspadai," tegasnya.

Sementara itu, Nyoman Putra menyebutkan bahwa simulasi penerapan PTM telah dilakukan pihaknya beberapa bulan lalu. Menjelang tahun ajaran baru 2021/2022. Namun dengan berlakunya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), rencana itu urung diteruskan.

Dengan adanya kebijakan terbaru saat ini, pihaknya juga tengah meninjau ulang persiapan yang sudah dilakukan. Pihaknya juga mengingatkan, penerapan PTM tebatas memiliki risiko.

 Salah satu konsekwensinya, bila dalam pelaksanaannya ada yang terpapar, sekolah yang menjadi titik penyebarannya akan ditutup sementara. Karena itu, pihaknya juga berharap kesediaan para orang tua untuk mengantar jemput anak-anaknya ke sekolah secara langsung. "Kegiatan olahraga pada PTM terbatas tidak diberlakukan. Begitu juga dengan kantin sekolah, ditiadakan," jelasnya.

 Skema penerapan PTM juga masih sama. Seperti yang sudah disimulasikan sebelumnya. Pembatasan diberlakukan dengan kapasitas 50 persen dari rombongan belajar. Waktu belajar juga dilakukan dengan pola sifting. Satu sift terdiri dari dua jam mata pelajaran. Satu jam pelajaran berdurasi 45 menit.

(bx/hai/aim/JPR)

 TOP