Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pedoman Membangun Rumah dalam Hindu (1)

Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali, Pedoman Membangun Rumah

25 September 2021, 08: 35: 44 WIB | editor : Nyoman Suarna

Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali, Pedoman Membangun rumah

Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali. (istimewa)

Share this      

Umat Hindu memiliki keyakinan, jika membangun rumah tidak lepas dari pustaka Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali. Literatur ini dijadikan pedoman dalam membangun rumah untuk menata lahan serta sebagai fengsuinya Hindu Bali.

Wayan Titra Gunawijaya, S.Fil.H, M.Ag mengatakan kedatangan Danghyang Nirartha pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14  ikut mewarnai khasanah arsitektur yang ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosalakosali. Dalam Lontar tersebut menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur.

Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur, sebetulnya merupakan tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan barunya. Dalam kisah tersebut, hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk Krisna. Kemudian secara turun-temurun oleh umat Hindu diangap sebagai dewa arsitektur.

Baca juga: DKI Jakarta Raih Emas PUBG Mobile Esport, Bali Belum Beruntung

“Karenanya, tiap bangunan di Bali selalu disertai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan Wiswakarma,” jelasnya, Jumat (24/9) siang.

Upacara membangun rumah bisa dimulai dari pemilihan lokasi, membuat dasar bagunan sampai bangunan selesai. Hal ini bertujuan minta restu kepada Bhagawan Wiswakarma agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi penghuninya.

Dikatakan Titra, Lontar Asta Kosala Kosali mengupas sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. Penataan bangunan yang dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya pekarangan. Pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari tubuh yang mpunya rumah.

Uniknya, dalam pengukuran tersebut tidak menggunakan meter. Melain menggunakan ukuran seperti Musti atau ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang posisinya menghadap ke atas.

Ada pula menggunakan satuan Hasta atau ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Ada pula menggunakan ukuran Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)

“Jadi nanti besar rumahnya akan ideal sekali dengan yang mempunyai rumah. Hal tersebut juga tidak terlepas dengan konsep yang diyakini oleh kepercayaan masyarakat bali akan Buana Agung (makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos),” imbuhnya.

Kaprodi Teologi, Jurusan Brahmawidya, STAHN Mpu Kuturan SIngaraja ini mengatakan Kosmologi Bali itu bisa digambarkan secara hirarki atau berurutan seperti Bhur, Bwah dan Swah.

Konsep ini berpegang juga kepada mata angin, yang disebut dengan Dewata Nawa Sanga. Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri seperti misalnya dapur, karena berhubungan dengan api maka dapur ditempatkan di selatan.

“Tempat sembahyang karena berhubungan dengan menyembah tuhan maka di tempatkan sebelah timur tempat matahari terbit sedangkan sumur menjadi sumber air maka ditempatkan di utara dimana gunung berada,” ungkapnya. (bersambung)

(bx/dik/man/JPR)

 TOP