Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ngaben di Luar Ngaben Massal, Kena Biaya Macaru

25 September 2021, 17: 15: 28 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ngaben di Luar Ngaben Massal, Kena Biaya Macaru

Bendesa Adat Kubu I Nyoman Nadi (I Made Mertawan/Bali Express)

Share this      

BANGLI, BALI EXPRESS- Desa Adat Kubu, Bangli rutin menggelar ngaben massal tiap lima tahun. Bagi krama (warga) yang menggelar ngaben sendiri atau di luar ngaben massal dikenakan biaya mecaru Rp 2,5 juta oleh desa setempat.

Bendesa Adat Kubu I Nyoman Nadi mengungkapkan, denda itu tertuang dalam awig-awig desa serta pararem. Sebelumnya wajib dibayar dengan 500 kepeng pis bolong kuno. Namun pada 2009, denda diubah menjadi uang tunai Rp 2,5 juta, karena sulit mencari pis bolong kuno, dan harganya mahal.

Nadi menegaskan, denda ini tidak berlaku bagi pamangku di desa setempat. Apabila ada pamangku yang meninggal dunia, boleh langsung diaben, baik itu pamangku desa, dadia dan lainnya. “Jro mangku tidak kena awig-awig, karena tidak boleh dipendem (dikubur) menunggu ngaben massal,” jelas Nadi beberapa waktu lalu.

Baca juga: Kemenparekraf Minta Pemda Dorong Masyarakat Ikut Program Kemenparekraf

Dijelaskannya, uang Rp 2,5 juta dari krama yang menggelar ngaben sendiri digunakan untuk macaru di empat pura di desa setempat dan macaru desa. Masing-masing dialokasikan Rp 500 ribu, dilaksanakan oleh desa setelah krama bersangkutan menggelar upacara ngaben. “Kalau dihitung-hitung, masing-masing pura biaya macaru lebih dari Rp 500 ribu, jadi sisanya ditanggung desa adat,” ujarnya.

Nadi menerangkan, macaru memang rutin digelar setelah ngaben, baik yang ngaben yang digelar masing-masing krama maupun ngaben massal. Tujuannya membersihkan desa. Bedanya, macaru usai ngaben massal sepenuhnya ditanggung oleh desa adat.

Ngaben massal, lanjut pria berusia 58 tahun ini, sudah ada sejak zaman dulu. Demikian juga dengan awig-awig soal denda.  Meski tidak bisa memastikan sejak kapan rutin dilaksanakan ngaben massal, Nadi menyampaikan bahwa berdasarkan cerita orang tuanya, pada 1968 sudah digelar ngaben massal.

Selama ini beberapa krama melaksanakan ngaben sendiri. Bisa karena karena permintaan almarhum yang ingin langsung diaben, tanpa menunggu jadwal ngaben massal dan alasan lainnya sehingga wajib bayar  biaya macaru Rp 2,5 juta.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP