Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (2); Mimpi dan Kenyataan

05 Oktober 2021, 12: 06: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (2); Mimpi dan Kenyataan

I Wayan Sucita (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

TIGA tahun setelah kejadian itu berlalu, I Wayan Sucita bersama sang adik I Ketut Asmara kembali ke tanah Jawa. Kali ini ia datang ke Desa Kautan, Kabupaten Banyuwangi untuk menghadiri pernikahan anak kerabatnya.

Setelah pesta usai, Sucita pun menginap di rumah kerabatnya. Ketika tertidur, ia didatangi oleh seorang perempuan tua yang berusia kira-kira 70 tahun. Nenek itu pun memanggil Sucita dengan sebutan Raden. Ia menanyakan mengapa Sucita berada di Jawa. Kaget dengan pertanyaan sang nenek, Sucita pun menceritakan jika ia berasal dari Bali dan menjelaskan bahwa dirinya bukan Raden.

“Saya merasa sangat bingung mengapa nenek ini memanggil saya Raden,” tanyanya membatin.

Baca juga: Presiden Bicara TNI (1) : Geser Kebijakan, Hadapi Berbagai Ancaman

Dalam mimpi, Sucita pun diajak ke rumah nenek tersebut. Lokasinya tak jauh dari tempatnya menginap. Di depan rumah nenek itu, ia melihat gapura kuno, dan diajak masuk ke sebuah ruangan seperti paseban. Nenek itu menuturkan kepada Sucita, bahwa ia telah memasuki wilayah Karang Kepatihan. Di tempat ini tinggal para abdi Dalem Kerajaan Blambangan sebagai pepatih, Punggawa Kerajaan yang selalu berpindah-pindah karena perang saudara. Sebagian ada yang meninggal, berkelana, dan mengungsi sampai ke Bali. Sang nenek pun menyebut jika Sucita bukanlah orang asli Bali, melainkan berasal dari Jawa.

BACA JUGA: Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (1); Berawal dari Mimpi di Bus

“Nenek itu bertutur dengan berderai air mata, bahkan mengingatkan saya untuk pergi ke selatan di ujung paling timur tanah Jawa. Setelah berkata demikian, nenek itupun menghilang. Saya pun terbangun dari tidur,” kenangnya.

Keesokan harinya, Sucita menceritakan kejadian itu kepada kerabatnya, Pak Kasnadi. Ia pun kaget dan mencari Kyai di dekat rumahnya yang mengerti gaib. Kyai pun mengajak Sucita ke tempat yang dilihat dalam mimpinya.

Sucita pun tersentak karena jalan setapak yang dilalui sama persis dengan yang ia lalui dalam mimpinya. Kyai menunjuk sebuah sekolah dasar, dan mengatakan bahwa dulunya merupakan sebuah gapura kuno yang di dalamnya ada sebuah balai paseban dan rumah kuno yang dihiasi lentera terbuat dari batok kelapa.

Kyai menjelaskan, keberadaan tempat yang awalnya merupakan situs sejarah ini bernama Karang Kepatihan pada jaman Kerajaan Blambangan yang selalu berpindah-pindah karena peperangan.

“Keberadaan saya di rumah Pak Kasnadi menjadi pijakan awal kaki saya mengarungi perjalanan spiritual di tanah Blambangan,” ungkapnya. (win/bersambung)

(bx/man/yes/JPR)

 TOP