Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Putru Astika Carita Ungkap Kewajiban Anak Kepada Orang Tua

06 Oktober 2021, 06: 46: 19 WIB | editor : Nyoman Suarna

Putru Astika Carita Ungkap Kewajiban Anak Kepada Orang Tua

Nyoman Suka Ardiyasa, M.Pd (istimewa)

Share this      

Orang tua memang memiliki kewajiban untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Tetapi, seorang anak juga memiliki kewajiban dalam membahagiakan kedua orang tuanya, seperti terungkap dalam Naskah Putru Astika Carita.

Ketua Aliansi Penyuluh Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardiyasa, M.Pd mengatakan, dalam keyakinan Hindu anak suputra harus berbakti kepada Dewa atau leluhur dan para  Rsi. Selalu melaksanakan swadarma sebagai manusia, membahagiakan orang tua, taat belajar agama, memiliki wawasan pengetahuan yang luas.

Dikatakan Suka, naskah Putru Astika Carita berasal dari bagian epos Mahabarata, khususnya bagian Adi Parwa. Namun, disadur dengan menggunakan Jawa Kuna sebagai usaha Mengajawaken Byasamata atau membahasa Jawakan karya-karya Rsi Byasa.

Baca juga: Rano Karno Apresiasi Pelaksanaan Festival Kapitan Jonker

 “Putru Astika Carita sebagian besar berupa ajaran susila. Salah satu ajaran yang diungkapkan dalam dapat dilihat pada kutipan Karuna budhi, Madue pakahyunan welas asih,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Gambaran anak suputra sebut Suka diulas dalam pustaka suci Hindu, Canakya Nitisastra III.16. Disana disebutkan bahwa anak suputra bagaikan bulan menerangi malam dengan cahayanya yang terang dan sejuk.

Anak diharapkan mampu menjaga nama baik keluarga, berpengatahuan, cerdik cendekiawan dan mempunyai wawasan berpikir yang luas. Serta yang lebih penting adalah memiliki budi pekerti yang luhur.

“Inilah yang disebut dengan istilah Suputra, Su artinya Baik, Putra artinya Anak, Suputra adalah anak yang baik atau mulia. Semua orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang suputra, karena itu yang utama,” imbuhnya.

Suka mengatakan, anak suputra senantiasa memberi kebahagiaan kepada keluarga dan masyarakat. Setiap keluarga mendambakan kelahiran putra-putri yang ideal yakni anak yang berbudi pekerti luhur, cerdas dan bijaksana yang akan mengangkat harkat dan martabat orang tua, keluarga dan masyarakat.

Tak hanya dituntut untuk mengutamakan etika, seorang anak kelak ketika dewasa juga diharapkan bisa menjalani masa grahasta hingga memiliki keturunan. Sebab, menjalani masa grahasta diyakini dapat menolong leluhurnya dari api neraka.

Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini mengatakan cerita Jaratkaru ini menjadi dasar, mengapa seorang anak harus menjalani menikah atau menempuh masa grahasta dan memiliki keturunan.

Seperti dikisahkan, Sang Jaratkaru yang menjalankan brahmacari, karena sesana nya itu maka dia menjalankan brata nya di dalam hutan tidak ingin berbuat kasmaran, tidak ingin memiliki istri, yang dipelajarinya adalah mantra-mantra suci Weda yang dapat membuat kelepasan bagi-Nya. Pengetahuannya luas hingga menyebabkan muncul sikap welas asih (ahimsa) dalam diri Sang Jaratkaru

Selanjutnya Sang Jaratkaru menuju moksa. Pada saat perjalanannya itu dia melihat atma yang menggantung di sebatang bambu (petung), kesedihanpun menerpa dirinya ketika diketahui bahwa itu adalah atma dari leluhurnya, oleh karena Sang Jaratkaru tidak memiliki keturunan sehingga leluhurnya tidak bisa sampai pada leluhurnya, berada di antara sorga dan neraka (pantaraning sorga lawan neraka).

Penyebab itu diceritakan sendiri oleh leluhur Sang Jaratkaru sewaktu diajak berdialog tentang kejadian yang sebenarnya. Permintaan leluhurnya agar Sang Jaratkaru meminang istri, anehnya istri yang memiliki nama sama dengannya.

Selanjutnya diceritakan pula turunnya Sang Jaratkaru ke dunia untuk melanjutkan misinya mencari istri yang memiliki nama yang sama denganya, akan tetapi tidak ditemui satupun yang memiliki nama sama dengannya.

Ketika masuk di dalam hutan yang sunyi, menangislah Sang Jaratkaru sambil menyebut-nyebut nama para dewa, berbicara kepada seluruh isi alam hingga didengarlah oleh Sang Basuki lalu memberikannya Nagini untuk diperistri. Akan tetapi dengan perjanjian, jika Nagini berbuat salah dia akan ditinggalkan, kembali menjadi brahmacari.

Jika menelisik kisah Jaratkaru, leluhur Jaratkaru mengalami siksaan karena keturunan leluhur menjadi terputus, hingga mengakibatkan atman leluhurnya Jaratkaru menggantung pada sebatang bambu ini. Kondisi karma yang mengikat antara sang Jaratkaru dengan leluhurnya seperti dalam naskah Putru Astika Carita, memang benar ada.

Tingkah laku dari sang Jaratkaru memilih untuk Brahmacari akhirnya mempengaruhi kondisi leluhurnya. “Itulah sebabnya, kenapa seorang anak mesti menjalani masa grahasta. Dengan harapan agar anak memiliki keturunan untuk membayar hutang-hutang kelahiran dari leluhurnya. Inilah kewajiban seorang anak kepada orang tua,” pungkasnya. 

(bx/dik/man/JPR)

 TOP