Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (3); Tertarik Alas Purwo

06 Oktober 2021, 11: 17: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (3); Tertarik Alas Purwo

I Wayan Sucita (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

USAI mendapat petunjuk dalam mimpi, I Wayan Sucita akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalan ke selatan tanah Jawa. Ia didampingi dua murid Kyai. Di awal perjalanan, mereka sampai di Desa Patoman yang sejuk dan terdapat banyak pohon-pohon besar. Sucita kaget karena di tempat terpencil itu ia melihat ada sebuah pura. Murid Kyai pun menceritakan bahwa penduduk desa sebagian besar dari Bali yang dulunya mengungsi ketika Gunung Agung meletus di tahun 1963. Kehidupan orang Bali di desa ini kebanyakan sebagai petani, peternak, nelayan, dan tambak ikan laut.

Perjalanan selanjutnya, mereka sampai pada sebuah tempat yang bernama Setinggil, berupa bukit kecil dipinggir jalan. Penduduk di sana mengatakan Setinggil artinya sebuah tempat dengan ketinggian. Di sana Sucita melihat batu hitam besar yang berisi bekas telapak kaki manusia. Perjalanan pun mereka lanjutkan menuju ke Pantai Muncar, tempat nelayan dan kapal-kapal berlabuh. Mereka pun beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan sekitar. Tiba-tiba pandangan Sucita beralih ke sebuah pohon besar bewarna putih di hutan seberang. Ia pun bertanya kepada murid Kyai dan rupanya itulah yang disebut dengan Alas Purwo. “Pohon itu sepertinya menarik saya untuk ke sana. Ada apa sebenarnya di sana?” tanya Sucita kepada murid Kyai.

Mendengar keinginan Sucita untuk memasuki Alas Purwo, murid Kyai pun melarang. Mereka mengatakan, Alas Purwo merupakan hutan larangan yang sangat angker.

Baca juga: Kejari Badung Stop Kasus Dugaan Pemotongan Insentif Covid untuk Nakes

“Namun kekuatan Alas Purwo sangat besar menarik saya untuk masuk. Saya terus mendesak murid Kyai agar menemani untuk masuk. Akhirnya satunya ikut saya masuk, dan satunya lagi memilih untuk pulang karena takut,” paparnya.

Setelah berjalan selama satu jam dari Pantai Muncar, tibalah Sucita di sebuah kampung yang sangat sepi. Ia menemukan sebuah warung dan bertanya nama wilayah tersebut. Seorang ibu dengan perawakan gemuk itu menjawab, bahwa kampung itu bernama Desa Mejayan. (win/wid/bersambung)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP