Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Semua Pihak Harus Menahan Diri Sikapi Kerusuhan di Yahukimo

Oleh: Alfred Jigibalom*

06 Oktober 2021, 11: 51: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Semua Pihak Harus Menahan Diri Sikapi Kerusuhan di Yahukimo

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

Hoaks yang beredar di Yakuhimo-Papua telah menimbulkan kerusuhan pada 3Oktober 2021. Semua pihak pun harus pandai menahan diri dan tidak terprovokasi hoaks yang berkembang karena saat ini TNI/Polri terus memulihkan kondisi keamanan di wilayah tersebut.

Hoaks adalah berita atau foto palsu yang sengaja disebar untuk tujuan tertentu, bisa jadi untuk menjungkalkan lawan politik atau membuat kerusuhan secara psikologis. Sayangnya beberapa tahun ini, kita seolah diserbu oleh keberadaan hoaks, terutama di dunia maya. Sehingga meresahkan masyarakat, dan mereka takut bahwa hoaks akan membawa korban jika tidak segera dihapuskan.

Salah satu hoaks yang membuat Bumi Cendrawasih memanas adalah kabar yang menyebutkan bahwa mantan Bupati Yahukimo Abock Busup meninggal, karena dibunuh oleh lawan politiknya. Ia memang diketahui sudah dalam keadaan tidak bernyawa, di sebuah hotel di Jakarta. Walau meninggal di ibukota tetapi beritanya dengan cepat tersebar di Papua, khususnya di Yahukimo.

Baca juga: Mengapresiasi Venue PON XX Papua Bertaraf Internasional

Meninggalnya mantan Bupati Yahukimo langsung membuat suasana panas dan tragisnya ada 6 orang yang kehilangan nyawa. Mereka menjadi korban di dalam kerusuhan di Distrik Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo. Dalam peristiwa berdarah itu, rumah warga juga dibakar. Diduga pelakunya adalah 53 orang dari Suku Kimyal dan mereka telah ditangkap oleh aparat.

Suku Yali yang diserbu oleh Suku Kimyal tentu bingung karena tiba-tiba diserang. Terlebih, korban tidak hanya luka-luka dan meninggal dunia, tetapi juga ada kerugian secara materiil. Penyebabnya karena selain beberapa rumah dibakar, juga ada 1 hotel yang dilalap api. Orang-orang dari Suku Kimyal menyerbu dengan mengendarai 2 mobil minibus jam 12:45 WIT, tanggal 3 oktober 2021.

Penyerangan yang berujung korban jiwa dan kerusakan properti ini sangat disesalkan, karena terjadi akibat tersebarnya hoaks di masyarakat Yahukimo. Padahal faktanya, mantan bupati meninggal dunia akibat serangan jantung, bukan dibunuh oleh lawan politiknya. Namun  kabar yang menyebar malah sebaliknya.

Hoaks harus dihapuskan karena berita pendek yang tersebar, terutama di media sosial dan grup WA, malah mengacaukan keadaan. Bahkan ia bisa menyebabkan peperangan antar suku, yang dilakukan oleh suku-suku lain di Papua, karena mereka bisa saja terpicu oleh serangan tersebut.

Hal ini tentu amat mengerikan karena sudah puluhan tahun tidak ada peperangan di Papua, yang tentu saja bisa menyebabkan banyak korban jiwa. Padahal Pemda Papua dan Papua Barat sedang membentuk image Papua sebagai tempat yang aman, sehingga akan menjadi tujuan wisata pasca pandemi. Tetapi gara-gara hoaks bisa saja para turis takut karena tidak mau terjebak dalam perang antar suku.

Kita wajib mewaspadai hoaks karena selain meresahkan masyarakat karena menyerang sisi psikologis mereka, juga bisa mengakibatkan korban jiwa. Kasihan sekali keluarga yang ditinggalkan, padahal bisa jadi sang korban adalah tulang punggung di rumah tangganya.

Sebagai warga negara yang baik, jangan mudah percaya jika ada berita yang tersebar, apalagi hanya di media sosial atau grup WA. Jangan mudah untuk menyebarkannya tanpa mengecek terlebih dahulu. Saat ini sudah ada situs yang bisa dipakai untuk memeriksa, apakah suatu berita berdasarkan fakta atau hoaks semata. Ketika ada hoaks juga langsung hapus dan peringatkan anggota grup lain untuk tidak mempercayainya.

Hoaks yang tersebar di daerah Yahukimo sangat berbuntut tidak enak, karena mengakibatkan kebakaran dan 6 korban jiwa. Kerusuhan seharusnya bisa dicegah jika masyarakat bisa membedakan antara berita yang asli dengan yang palsu. Jangan sampai ada peristiwa tragis selanjutnya gara-gara hoaks, oleh karena itu tidak ada salahnya untuk mempatroli hoaks agar tidak tersebar di masyarakat.

*) Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP