Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Nasib Malang Gusti Nyoman Juniani di Seririt

Sudah Datangi 19 Balian, Tumor Ganas di Paha Kanan Tak Kunjung Sembuh

12 Oktober 2021, 19: 53: 39 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sudah Datangi 19 Balian, Tumor Ganas di Paha Kanan Tak Kunjung Sembuh

TERBARING : Gusti Nyoman Juniani yang terbaring lemas di kamar tidurnya. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Gusti Nyoman Juniani, 33 hanya bisa terbaring di kamar tidurnya. Pahanya yang membengkak cukup parah membuatnya terkendala untuk bergerak. Tubuhnya pun mulai mengurus. Sepanjang waktu ia habiskan hanya berbaring di kasur pada kamar seluas 2x3 meter, di Banjar Dinas Kelodan, Desa Joanyar Kecamatan Seririt. Kondisinya yang memprihatinkan tersebut diperparah dengan kondisi perekonomian yang tidak memungkinkan baginya berobat ke dokter dalam jangka waktu panjang. Selain itu, ia juga memilih pengobatan alternative ke paranormal atau balian. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 19 balian telah ia datangi untuk melakukan pengobatan. Sayangnya, penyakit Juniani juga tak tertangani.

Pembengkakan pada paha kiri istri dari Kadek Mertayasa itu berawal dari sakit yang dirasakannya sejak kehamilan anak ketiga. Pada usia kanungan 5 bulan, sakit itu dirasakan, kakinya membesar. Keluarga berpikir hal itu wajar karena ia sedang hamil besar. Setelah melahirkan, paha Juniani semakin membesar. Sempat dikira asam urat, namun ternyata bukan. Ibu kandung Juniani pun sempat mengolesi bengkaknya itu dengan minyak jahe. Namun tak ada reaksi apapun. Dari hari ke hari bengkakknya semakin parah. Pihak keluarga pun memutuskan untuk memeriksakan penyakit Juniani ke Rumah Sakit Pratama Tangguwisia. “Kata dokter itu tumor. Entah ganas atau jinak saya tidak tau. Saya tidak mengerti. Dari dokternya hanya bilang tumor. Begitu saja,” terang suami dari Juniani, Kadek Mertayasa.

Dari hasil diagnose, tertera bahwa Gusti Nyoman Juniani divonis menderita Malignant Neoplasm of Bone and Articular Cartilage Unspecified atau yang diduga tumor pada tulang.

Baca juga: Tabung Gas Bocor, Kompor Meleduk Ludeskan Warung

Sudah lama menderita tumor, kakinya juga terus membengkak. Hingga urat-uratnya nampak jelas terlihat. Kadek Mertayasa memutuskan untuk membawa istrinya ke paranormal atau balian. Dari penerawangan paranormal, Gusti Nyoman Juniani diprediksi terkena teluh atau santet. “Kata baliannya begitu. Saya sampai membuat upacara mecaru di rumah. Juga tak ada hasilnya. Sampai 19 balian bilang begitu. Istri saya sakitnya aneh,” paparnya.

Mertayasa juga mengaku, istrinya akan merasa sangat kesakitan di hari-hari tertentu. Seperti hari Senin dan hari raya suci lainnya. “Kalau sudah hari Senin dan rahinan, sakitnya pasti parah. Sampai aduh-aduh begitu. Kalau selain hari itu ya biasa saja,” ungkapnya.

Karena susah bergerak, aktivitas Juniani selalu dibantu oleh suaminya. Kadang dibantu oleh anak-anaknya. “Kalau bangun untuk keluar tidak bisa. Kalau untuk buang air bisa, tapi di kamar saja. saya bantu. Kalau makan, kadang anak-anak kami yang bantu,” kata dia.

Gusti Nyoman Juniani dan Kadek Mertayasa dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya Komang Sucianing yang kini duduk di kelas 5 SD. Sementara anak keduanya Ketut Rendi Setiawan baru serusia 6 tahun. Dan yang terakhir Luh Apriliani baru berusia 6 bulan Bali.

Kondisinya yang parah itu, Juniani sempat ingin dirujuk ke RSUP Sanglah untuk dioperasi. Namun pihak keluarga menolak karena Juniani tak ingin dioperasi. Ia takut jika kakinya akan diamputasi. Disamping itu, kondisi perekonomian keluarganya sulit. Terlebih keluarga Kade Mertayasa ini tidak terdaftar dalam daftar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH, BPNT serta tidak terdata dalam DTKS. Beruntung ia mendapat bantan dari BLT-DD. “Saya sendiri tidak mau. Kalau hanya operasi biasa saya mau ikut. Tapi kalau kaki saya dipotong saya tidak mau dioperasi,” ungkap Juniani sembari berbaring di kamar tidurnya, Selasa (12/10) siang.

Sementara itu, Sekdes Joanyar, Wayan Maka Sara Atmaja membenarkan bawah warganya tersebut belum terdata dalam DTKS. Pihaknya pun akan memprioritaskan untuk mendaftarkan keluarga Kadek Mertayasa di DTKS. “Kami akan prioritaskan keluarga yang ebrsangkutan untuk masuk DTKS. Karena sejauh ini ternyata mereka luput dari daftar DTKS. Sehingga akses bantuan tidak bisa mereka dapatkan. Kami juga akan berusaha bekerjasama dengan yayasan maupun komunitas yang ada agar memudahkan akses kami memberikan bantuan-bantuan kepada keluarga Kade Mertayasa atau warga yang kurang mampu di desa kami,” terangnya. 

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP