Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Nusantara
icon featured
Nusantara

Polri Temukan Beda Hasil Visum Pemerkosaan 3 Anak oleh Ayah Kandung

12 Oktober 2021, 22: 00: 17 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Polri Temukan Beda Hasil Visum Pemerkosaan 3 Anak oleh Ayah Kandung

KETERANGAN : Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono didampingi Kabagpenum Kombes Pol Ahmad Ramadhan berikan keterangan pers di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Selasa (12/10/2021) malam. (Antara/Laily Rahmawaty)

Share this      

JAKARTA, BALI EXPRESS - Tim Supervisi Bareskrim Polri yang diturunkan ke Polres Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menemukan perbedaan hasil visum terhadap tiga anak di bawah umur yang mengalami rudapaksa (pemerkosaan) yang diduga dilakukan ayah kandungnya.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono, dalam konferensi pers di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Selasa (12/10) malam.

Dalam konferensi pers tersebut, Rusdi menyebutkan Tim Supervisi Mabes Polri melakukan wawancara dalam rangka menggali informasi ke sejumlah pihak, diantaranya fasilitas kesehatan yang melakukan visum et repertum (VER) terhadap ketiga anak korban.

Baca juga: Bersaksi dalam Sidang Kasus Zainal Tayeb, Hedar: Saya Rugi Besar

Fasilitas kesehatan dimintai keterangan yakni Puskesmas Malili Luwu Timur, Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Makassar dan Rumah Sakit Vale Sorowako.

Rusdi mengatakan tanggal 11 Oktober 2021 hasil interview dengan dokter Puskesmas Malili Luwu Timur bahwa pemeriksaannya tidak ada kelainan pada organ kelamin dan dubur korban.

Lalu fakta berikutnya, Tim Supervisi meminta hasil VER dari RS Bhayangkara Makassar yang dikeluarkan tanggal 15 November 2021 yang hasilnya adalah tidak ada kelainan pada alat kelamin dan dubur. "Yang kedua, perlakuan pada tubuh lain tidak ditemukan," ucap Rusdi.

Sementara itu, fakta keempat, lanjut dia, tim penyidik dan tim supervisi mendapatkan informasi bahwa pada tanggal 31 Oktober 2019, ibu korban berinisial RS telah melakukan pemeriksaan medis terhadap ketiga anaknya di RS Vale Sorowako.

Informasi tersebut didalami oleh Tim Supervisi dan Asistensi Bareskrim Polri melakukan wawancara dengan dr Imelda, spesialis anak dari RS Sorowako yang melakukan pemeriksaan kepada korban.

"Tim melakukan interview pada 11 Oktober 2021, dan didapati keterangan bahwa terjadi peradangan di sekitar vagina dan dubur. Sehingga, ketika dilihat ada peradangan diberikan antibiotik dan paracetamol obat nyeri," ungkap dia.

Tidak hanya itu, lanjut Rusdi, hasil interview tersebut dokter menyarankan kepada orang tua korban dan juga tim supervisi agar dilakukan pemeriksaan lanjutan pada dokter spesialis kandungan. "Ini masukan dari dokter Imelda untuk dapat memastikan perkara tersebut," ujar Rusdi.

Namun, saat akan dilakukan pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis kandungan sesuai saran dokter yang dijadwalkan hari ini tanggal 12 Oktober 2021, pemeriksaan tersebut dibatalkan.

Pemeriksaan tersebut, lanjut Rusdi, tentunya dengan pendampingan oleh ibu korban, dan juga pengacara korban dari LBH Makassar. Dan disepakati juga pemeriksaan dilakukan di RS Sorowako. "Sekali lagi, rumah sakit ini merupakan pilihan dari ibu korban," kata Rusdi menekankan.

Tetapi, lanjut Rusdi, kesepakatan pemeriksaan tersebut dibatalkan oleh ibu korban dan juga pengacara dengan alasan anaknya takut trauma.

"Untuk sementara ini beberapa fakta yang ditemukan tim supervisi dan asistensi dari Mabes Polri untuk kasus Luwu Timur. Tentunya ini masih proses, kita liat nanti perkembangan dari penanganan kasus di Luwu Timur," papar Rusdi.

Kasus seorang ayah diduga memerkosa tiga anak kandungnya yang sempat dilaporkan ke polisi pada 2019, kembali ramai diperbincangkan.

Kasus ini kembali mengemuka setelah sebuah situs, Project Multatuli, memberitakan kembali kasus ini dengan judul 'Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya lapor ke Polisi. Polisi menghentikan Penyelidikan'.

Kasus ini bermula saat RS melaporkan mantan suaminya, SA, karena diduga telah memerkosa  tiga anak kandungnya sendiri, yakni AL (8), MR (6), dan AS (4). RS melaporkan SA ke Polres Luwu Timur pada 9 Oktober 2019 silam. 

Namun, dalam perkembangannya, polisi menghentikan penyelidikan kasus ini karena dianggap tidak cukup bukti. Tapi, karena diduga ada yang kurang pas soal penghentian kasus, Tim Supervisi Bareskrim Polri akgirnya turun ke Polres Luwu Timur untuk kembaliendalami kasusnya, hingga akhirnya ditemukannhasil visum yang berbeda terhadap korban. (ant)

(bx/rin/rin/JPR)

 TOP