Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (4); Hutan Larangan

13 Oktober 2021, 12: 00: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Gaib Sucita Bangun Candi Purwo (4); Hutan Larangan

I Wayan Sucita (DOK.JAWAPOS)

Share this      

SAAT berada di Desa Mejayan, I Wayan Sucita kala bertemu seorang ibu berperawakan gemuk pun menjelaskan maksud dan tujuaannya datang untuk masuk ke Alas Purwo. Mendengar hal itu, ibu tersebut memperingatkan bahwa hutan Purwo merupakan hutan angker yang dipenuhi dedemit dan binatang buas.

Istilahnya, kalau berani masuk di suatu hutan larangan, ada kutukan yakni Jalmo Maro Jalmo Mati, yang artinya kalau berani masuk ke tempat larangan dengan niat tidak baik pasti akan mati atau hilang.

“Ibu itu menceritakan panjang lebar tentang keangkeran hutan larangan. Semakin diceritakan hati saya semakin penasaran. Kami pun berpamitan dan minta izin kepada ibu tadi untuk masuk ke Alas Purwo,” ungkapnya.

Baca juga: Mengapresiasi Keberhasilan Pengelolaan Sumber Daya Alam Nasional

Melihat kebulatan tekad Sucita, ibu itu pun tak bisa melarang. Sebelum pergi, ibu itu memberikan air minum dan berpesan agar tak masuk terlalu dalam dan bergegas pulang ketika hari mulai sore. Setelah berjalan sejauh 10 km, mereka akhirnya sampai di dalam hutan bagian pinggir selatan yang terdengar sayup-sayup deru ombak laut. Sucita ingin mencari laut itu, tetapi sebelum sampai ia melihat ada reruntuhan candi kuno yang telah ditumbuhi semak belukar. “Di areal reruntuan candi, kami melihat dua orang lelaki tua sedang bermeditasi. Tak ingin menganggu orang tersebut, kami bertiga meneruskan perjalanan ke selatan,” jelasnya.

Sampailah mereka di laut yang dituju. Puas bermain-main di pinggir laut, Sucita ingat pesan ibu di Desa Mejayan agar segera pulang ketika menjelang sore. Mereka akhirnya pulang dan sesampainya di tempat gundukan candi tadi, kedua lelaki tua tampak sedang berbincang-bincang. Mereka pun menghampiri. Kedua orang yang bermeditasi itu sedikit aneh. Pakaiannya sangat sederhana dan kuno serta membawa pedang seperti prajurit jaman dahulu.

“Kami ajak mereka ngobrol, tetapi bahasanya tidak saya mengerti. Beruntung, murid Kyai dapat menerjemahkannya. Kedua lelaki tua rupanya sudah lama menunggu kedatangan Sucita. Lelaki tua tersebut masing-masing berusia 700 tahun dan 400 tahun. “Saya kaget sepertinya orang ini bukan orang sembarangan,” pikirnya.

Lelaki tua itu berkata jika sudah waktunya, maka Raden (Sucita) akan mengetahui jati dirinya, darimana asalnya dan karma yang harus dijalaninya. Setelah berkata demikian, lelaki tua itu tiba-tiba menghilang. Mereka bertiga pun dibuat merinding dengan kejadian tersebut. Mereka kembali bergegas pulang. Perjalanan sejauh 10 km telah dilalui. Sucita ingin kembali mampir ke Desa Mejayan ingin berpamitan dengan ibu tadi. Tapi desa itu tidak pernah ia temukan lagi, bahkan warga sekitar tak pernah ada yang tahu keberadaan desa itu. “Setelah sampai rumah Pak Kasnadi, kami pun menceritakan apa yang terjadi kepada Kyai. Keesokan harinya saya berpamitan untuk pulang ke Bali,” pungkasnya. (win/wid/habis)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP