Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Lain Kadek Sepi Semasa Hidup

Ini Kisah Lain Kadek Sepi yang Diduga Tewas Dianiaya Ayahnya

13 Oktober 2021, 18: 45: 30 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tak Pernah Telat Sekolah

Kecewa : Guru I Ketut Suarta ditemui di SD Negeri 4 Purwa Kerthi, Banjar Babakan, Karangasem. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Telepone berdering dari salah seorang mantan murid SD Negeri 4 Purwa Kerthi, mengabarkan kematian Kadek Sepi, akhir September lalu. Seluruh warga sekolah berduka. Seolah tak percaya, bocah yang dikenal ceria dan ramah itu pergi untuk selama-lamanya. Informasi pun berkembang. Kematian Kadek Sepi ada kejanggalan.

Kabar yang mendadak memang membuat orang-orang yang kenal Kadek Sepi kaget. Terutama para guru di SD Negeri 4 Purwa Kerthi. Mereka masih tak percaya atas meninggalnya siswa kelas VI SD itu di usianya 13 tahun. “Kan awalnya baik-baik saja. Saya dapat info karena main layangan setelah itu kejang dan diare,” tutur Ketut Suarta, guru kelas V di sekolah itu.

Guru asal Desa Culik, Kecamatan Abang itu mengenali Kadek Sepi sebagai sosok yang ramah terhadap guru dan temannya. Mendiang juga dikenal rajin dan punya semangat belajar tinggi. Dia selalu datang tepat waktu meski jarak antara rumah dengan sekolah sangat jauh. “Saya salut karena tidak pernah datang setelah guru. Malah mendahului. Sekitar jam setengah 7 pagi pasti sampai sekolah,” kenang Suarta.

Baca juga: Tak Dibantu Menyabit, Kicen Aniaya Anaknya sampai Meninggal

Dirinya mengaku heran dengan bocah yang tinggal di Banjar Babakan, Desa Purwa Kerthi, Kecamatan Abang, Karangasem, itu. Padahal untuk datang ke sekolah, almarhum selalu berjalan kaki dengan waktu tempuh 30-45 menit saja. Sangat jarang diantar orangtuanya. Pemberian tugas oleh gurunya selalu dikerjakan tepat waktu tanpa alasan. “Padahal rumahnya jauh. Mungkin karena kebiasaan jalan kaki, ya. Lelah pasti ada. Tapi tidak pernah melanggar dengan alasan lelah,” ucapnya.

Suarta pernah beberapa kali menyambangi rumah Kadek Sepi di sekitar Bukit Sebau bagian atas--perbukitan di sisi selatan desa. Wilayahnya masuk Banjar Dinas Babakan, Desa Purwa Kerthi. Dia mengaku menempuh 1,5 hingga 2 jam jalan kaki lalui jalan setapak. “Mereka yang paham medan yang bisa lewat jalan itu naik sepeda motor. Kami menilai, semangat Kadek Sepi memang luar biasa untuk ke sekolah,” tuturnya.

Guru kelas V itu menyebut, Kadek Sepi sangat disayangi para guru. Setiap akan pulang sekitar pukul 12.00, pasti ada saja guru yang membelikannya jajanan atau makanan untuk sekadar bekal di perjalanan. Kadek Sepi adalah satu di antara tiga siswa yang tinggal di atas bukit. “Kadang kasihan lihat dia pulang jalan kaki siang-siang. Sesekali orangtuanya mengantar. Paling sering ibunya,” ungkap guru 34 tahun itu.

Mengenai kematian Kadek Sepi, Suarta mengaku kaget. Sebab, selama ini Kadek Sepi tidak pernah menunjukkan prilaku aneh di sekolah. Apalagi gejala seperti mendapat perlakuan kekerasan. Dia ceria di hadapan anak-anak lainnya. Hubungan dengan guru juga sangat dekat.

Pihak sekolah masih menunggu perkembangan kasus yang kini ditangani Polres Karangasem. Di sisi lain, para guru sudah sempat menemui keluarga Sepi di kediamannya, belum lama ini. Sekolah juga ingin memastikan informasi yang berkembang. Baik ayah Kadek Sepi, I Nengah Kicen dan Ibunya, Sutini mengaku saat itu anaknya sempat bermain bersama adiknya lalu kejang hingga diare dan meninggal, Selasa (21/9) sore. “Orang tuanya begitu. Saya juga kaget dengar info terbaru (unsur penganiayaan). Tapi kami menunggu kepastiannya. Kalau karena sakit, kami ikhlas. Kalau terbukti, kami tentu kecewa,” tegas Suarta.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP