Selasa, 19 Oct 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Lontar Baberatan Wong Beling (1)

Ada Sejumlah Pantangan, Ungkap Etika Wanita Saat Hamil

14 Oktober 2021, 07: 02: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ada Sejumlah Pantangan, Ungkap Etika Wanita Saat Hamil

Made Gami Sandi. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

Wanita yang sedang hamil layak untuk mendapat perlakuan istimewa dari suami hingga keluarga. Tidak hanya diperhatikan, orang hamil juga harus dijaga, agar perkembangan janin yang dikandungnya tembuh sehat.

Etika yang dilakoni oleh wanita hamil tertuang dalam Lontar Baberatan Wong Beling. Lontar ini mengupas tentang tata cara merawat atau menjaga orang yang sedang hamil. Dalam merawat atau menjaganya senantiasa tetap berpikir yang baik, berbuat yang baik dan berkata yang baik.

Made Gami Sandi Untara, S,Fil.H, M.Ag mengatakan, dalam Lontar Baberatan Wong Beling orang hamil yang sedang tidur pantang dibangunkan paksa. Begitupula tidak boleh melangkahinya.

Baca juga: Pria Bisa Terjangkit Kanker Payudara dan Resiko Kematian Lebih Tinggi

Saat orang yang sedang hamil tertidur pulas, maka saat itulah Sang Hyang Suksma dan Sang Hyang Prama Wisesa sedang beryoga membuat kehidupan sang bayi. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Yen sira angemban wong beling, Yen sira ring kala sang beling aturu sirep, Aja sira manundun tur mangungkulin, Apan sang beling ri sedeknia pules, Kayoganin antuk Sang Hyang Suksma, Dewa, Mangawenin uripe sang rare,”

Bila diterjemahkan bebasnya, Jika merawat orang hamil, Kalau orang hamil sedang tidur, Pantang dibangunkan secara paksa dan tidak boleh dilangkahi, Karena orang hamil sedang tidur Sang Hyang Suksma dan Sang Hyang Parama Wisesa sedang beryoga Membuat hidup sang bayi,

“Secara logika, ibu yang sedang hamil harus cukup istirahat, agar janinnya berkembang sehat. Sehingga dibutuhkan kondisi jasmani dan rohani yang bagus,” jelasnya.

Begitu juga, saat orang hamil yang sedang makan, suami maupun sanak keluarganya, agar tidak mengeluarkan kata-kata yang kotor. Terlebih, Sang Hyang Urip sedang beryoga. Sang Hyang Kemit Tuwuh, Sang Hyang Matunggu Urip dipastikan tidak senang dengan hal tersebut.

“Kata-kata yang kotor akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil maupun janin yang ada dalam kandungan,” imbuhnya.

Selanjutnya dalam lontar Baberatan Wong Beling juga dijelaskan ajaran dharmabrata. Pada saat hari-hari suci seperti jumat wage, purnama maupun tilem semua keluarga termasuk wanita yang sedang hamil hendaknya membersihkan diri. Wanita hamil dibuatkan banten pabersihan berupa tepung tawar, juga menjernihkan pikiran memohon penyucian diri di Betara Hyang Guru.

Begitu juga lingkungan keluarga ada wanita yang sedang mengandung. Pada hari-hari suci maupun purnama tilem hendaknya mengadakan pembersihan diri dan sembahyang di Merajan untuk memohon kepada Betara Hyang Guru, agar janin yang masih berada dalam kandungan si ibu tetap sehat.

“Pembersihan diri atau melukat sangat diyakini berpengaruh yang positif terhadap perkembangan kehidupan seseorang. Selain di Merajan, umat Hindu juga melukat ke Gria maupun tempat-tempat yang diyakini memiliki aura positif seperti campuan, laut, pancuran dan sejenisnya.” paparnya. (bersambung)

(bx/dik/man/JPR)

 TOP