28.7 C
Denpasar
Friday, December 9, 2022

Jadi Wisata Bahari, KRI Ki Hajar Dewantara Ditenggelamkan di Pacung

BULELENG, BALI EXPRESS- Bali Utara akan memiliki wisata bahari baru. Ini setelah eks kapal perang KRI Ki Hajar Dewantara 364 yang disebut sudah tidak berfungsi bakal ditenggelamkan di perairan Buleleng Timur. Penenggelaman itu rencananya dilakukan di perairan Desa Pacung, Kecamtan Tejakula.

Namun, sebelum proses penenggelaman, eks kapal perang milik TNI AL ini akan dihibahkan ke Pemkab Buleleng. Sementara untuk pengelolaannya akan dilakukan Bali Tourism Board (BTB).

“Buleleng sudah menyiapkan surat permohonan hibah. Setelah itu, dikelola dengan kerjasama tiga pihak. Karena perairan itu kewenangan provinsi, sementara kapal menjadi milik pemkab karena sudah dihibahkan. Pengelolaannya dari BTB,” tegas Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana, Selasa (27/9) siang.

Kerjasama tiga pihak ini akan menjadi pijakan dalam mengelola sebuah destinasi baru. Dalam bentuk wisata bahari melalui penenggelaman eks kapal perang milik TNI AL ini.

Sebelumnya terdapat dua alternatif lokasi penenggelaman, yaitu perairan Desa Bondalem dan Desa Pacung. Dua tempat tersebut sama-sama berada di wilayah ujung timur Buleleng, yaitu Kecamatan Tejakula.

Baca Juga :  Festival Layang-layang Bupati Badung Cup Tuai Keluhan, Ini Dalih Dispar  

Setelah mendengarkan kajian dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), akhirnya Desa Pacung dinilai lebih tepat. Keputusan ini diambil lantaran perairan dan lahan darat menjadi satu kesatuan. Lahan di daratan itu harus tanah milik desa adat atau pemerintah.

“Tidak boleh milik perorangan. Karena di darat BTB akan membangun sarana prasarana semacam museum. Akan ditempatkan replika eks kapal perang milik TNI AL yang ditenggelamkan. Begitu kaitannya,” ucap Lihadnyana.

Permohonan hibah juga akan segera diajukan ke Kementerian Keuangan dan atau Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL). Dirinya juga menjelaskan, BTB akan membiayai penuh proses ini. Mulai dari merestorasi kapal, membawa ke titik penenggelaman, hingga proses penenggelaman.

“Pemeliharaan setelahnya juga bagian dari tanggung jawab BTB. Nanti dari tiga pihak ini pengelolanya BTB. Kemudian akan ada kontribusi ke Buleleng dan Pemprov Bali. Jelas kalau dari Pemkab Buleleng diharapkan yang bekerja adalah orang-orang Buleleng,” kata pria yang juga Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Bali ini.

Baca Juga :  Senator Australia Diduga Hina Bali, Pelaku Pariwisata Tak Ambil Pusing

Sementara itu, Wakil Sekretaris BTB Freddy SPS menyatakan, proyek ini bukan sekadar penenggelaman kapal. Akan ada ekosistem, baik penginapan, tempat makan, dan wisata bahari lainnya di sekitar lokasi. Ekosistem ini tentu akan melibatkan masyarakat sekitar.

Paling menarik dari pengelolaan wisata selam eks kapal perang milik Buleleng adalah akan adanya museum dari kapal yang akan ditenggelamkan. “Ditargetkan akhir tahun ini restorasi kapal dan rencana penenggelaman. Proses hibah tentu butuh waktu. Kapal akan ditenggelamkan di kedalaman 20 sampai 40 meter,” ungkap dia.

 






Reporter: Dian Suryantini

BULELENG, BALI EXPRESS- Bali Utara akan memiliki wisata bahari baru. Ini setelah eks kapal perang KRI Ki Hajar Dewantara 364 yang disebut sudah tidak berfungsi bakal ditenggelamkan di perairan Buleleng Timur. Penenggelaman itu rencananya dilakukan di perairan Desa Pacung, Kecamtan Tejakula.

Namun, sebelum proses penenggelaman, eks kapal perang milik TNI AL ini akan dihibahkan ke Pemkab Buleleng. Sementara untuk pengelolaannya akan dilakukan Bali Tourism Board (BTB).

“Buleleng sudah menyiapkan surat permohonan hibah. Setelah itu, dikelola dengan kerjasama tiga pihak. Karena perairan itu kewenangan provinsi, sementara kapal menjadi milik pemkab karena sudah dihibahkan. Pengelolaannya dari BTB,” tegas Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana, Selasa (27/9) siang.

Kerjasama tiga pihak ini akan menjadi pijakan dalam mengelola sebuah destinasi baru. Dalam bentuk wisata bahari melalui penenggelaman eks kapal perang milik TNI AL ini.

Sebelumnya terdapat dua alternatif lokasi penenggelaman, yaitu perairan Desa Bondalem dan Desa Pacung. Dua tempat tersebut sama-sama berada di wilayah ujung timur Buleleng, yaitu Kecamatan Tejakula.

Baca Juga :  Titik Penenggelaman KRI Ki Hajar Dewantara segera Diputuskan

Setelah mendengarkan kajian dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), akhirnya Desa Pacung dinilai lebih tepat. Keputusan ini diambil lantaran perairan dan lahan darat menjadi satu kesatuan. Lahan di daratan itu harus tanah milik desa adat atau pemerintah.

“Tidak boleh milik perorangan. Karena di darat BTB akan membangun sarana prasarana semacam museum. Akan ditempatkan replika eks kapal perang milik TNI AL yang ditenggelamkan. Begitu kaitannya,” ucap Lihadnyana.

Permohonan hibah juga akan segera diajukan ke Kementerian Keuangan dan atau Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL). Dirinya juga menjelaskan, BTB akan membiayai penuh proses ini. Mulai dari merestorasi kapal, membawa ke titik penenggelaman, hingga proses penenggelaman.

“Pemeliharaan setelahnya juga bagian dari tanggung jawab BTB. Nanti dari tiga pihak ini pengelolanya BTB. Kemudian akan ada kontribusi ke Buleleng dan Pemprov Bali. Jelas kalau dari Pemkab Buleleng diharapkan yang bekerja adalah orang-orang Buleleng,” kata pria yang juga Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Bali ini.

Baca Juga :  Buka ITLS Summit, Gubernur Koster Beber 6 Pilar Kepariwisataan Bali

Sementara itu, Wakil Sekretaris BTB Freddy SPS menyatakan, proyek ini bukan sekadar penenggelaman kapal. Akan ada ekosistem, baik penginapan, tempat makan, dan wisata bahari lainnya di sekitar lokasi. Ekosistem ini tentu akan melibatkan masyarakat sekitar.

Paling menarik dari pengelolaan wisata selam eks kapal perang milik Buleleng adalah akan adanya museum dari kapal yang akan ditenggelamkan. “Ditargetkan akhir tahun ini restorasi kapal dan rencana penenggelaman. Proses hibah tentu butuh waktu. Kapal akan ditenggelamkan di kedalaman 20 sampai 40 meter,” ungkap dia.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/