Akademisi Ayurweda UNHI Denpasar Dr Ida Bagus Suatama mengatakan, tiga cara pemeriksaan itu meliputi pengamatan atau Darshana Pariksha, perabaan atau sentuhan atau Sparshana Pariksha, dan tanya jawab atau Prashna Pariksha dengan pasien.
Dikatakan Suatama, Prashna Pariksha dilakukan dengan mewawancarai pasien, seperti nama, alamat, berapa lama sakit, gejala yang dirasakan, apakah sudah pernah berobat dokter, dan apa hasil pemeriksaannya.
Untuk mengetahui kondisi psikologi pasien, juga dapat ditanyakan kemungkinan ada masalah dalam keluarga atau masalah-masalah lain yang mengganggu kesehatan.
Kemudian Darshana Pariksha adalah metode diagnosis dengan cara mengamati gejala-gejala pada tubuh dan perilaku pasien atau tetengering wong agering.
Ada beberapa metode spesifik untuk mengamati kesehatan pasien, antara lain Netra Pariksha, mengamati kondisi dari mata pasien, seperti warna bola mata, kelopak mata, gerak mata, dan cairan yang keluar dari matanya.
“Diagnosis dengan cara ini bukan saja dapat menunjukkan penyakit fisik, tetapi juga nonfisik, seperti pandangan mata menerawang dapat diduga ada kendala psikologis dalam dirinya,” jelasnya.
Naka Pariksha, mengamati gejala pada kuku pasien, seperti warna, pecah-pecah, bergelombang, kerdil, dan sebagainya. Carma Pariksha, mengamati kulit, terutama di sekitar muka. Gejala sakit yang dapat diamati melalui kulit antara lain, bercak-bercak, bintik-bintik, pucat, dan berkeringat.
Jihwa Pariksha, mengamati lidah dan mulut, seperti warna, cairan, suara, bau, dan ada tidaknya infeksi. Mutra Pariksha, mengamati air kencing seperti, volume, warna, intensitas, dan baunya. Mala Pariksha, mengamati tinja seperti warna dan tingkat kelunakannya.
“Khusus untuk Mutra dan Mala Pariksha, jika memang tidak dilakukan secara langsung, juga dapat dengan cara menanyakan kepada pasien, apakah mereka memiliki masalah saat buang air kecil dan air besar,” paparnya.
Sparshana Pariksha, adalah diagnosis dengan perabaan atau sentuhan, khususnya dengan memeriksa denyut nadi atau nadi pariksha, leher, diafragma, dan dahi.
Selanjutnya dalam melakukan terapi dapat disesuaikan dengan hasil diagnosis penyakit dan kemampuan pengusada. Terapi dapat dilakukan dengan toya pramana. Yakni terapi dengan menggunakan air sebagai sarana utamanya, seperti air laut, embun, air kelebutan, pancoran, dan tirtha. “Penggunaan air yang telah didoakan akan memiliki khasiat penyembuhan yang optimal,” katanya.
Kemudian terapi taru pramana dapat dilakukan dengan menggunakan ramuan obat dari bahan dasar tanaman yang banyak ditemukan dalam lontar-lontar usada. Ada pula terapi sato pramana yang menggunakan ramuan obat dari bahan dasar hewan atau sato yang ditemukan dalam lontar-lontar usada.
Selanjutnya baskara pramana. Ini adalah terapi dengan menggunakan sinar matahari, seperti berjemur di pagi hari.
Mustika pramana adalah terapi dengan menggunakan kekuatan permata atau mustika. Jiwa pramana adalah terapi dengan menggunakan kekuatan jiwa atau spiritual dari pengusada. “Bisa juga yoga pramana adalah terapi penyembuhan dengan hubungan langsung pada Tuhan melalui perantara pengusada,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya