Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rekan Prada Yanuar Ngaku Tak Ada Saling Salip dengan Pelaku

I Putu Suyatra • Jumat, 14 Juli 2017 | 17:45 WIB
Photo
Photo


BALI EXPRESS, DENPASAR - Setelah dirasa ada kejanggalan terkait kasus penusukan salah satu anggota TNI Prada Yanuar Setiawan, 20 yang tewas oleh rombongan motor remaja pada Minggu pagi lalu (10/7), penyidik akhirnya memeriksa empat orang saksi dari pihak korban. Mereka adalah saksi Isra Mihardi, 18, Tegar Anantahadi, 19, Munazir, 23 dan Stefanus Iman, 32. Saat ditemui usai diperiksa oleh penyidik di Mapolresta Denpasar, mereka membantah telah terjadi saling salip antara korban dengan para tersangka. 


Menurut mereka keterangan para tersangka sesuai dengan yang diberitakan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Disampaikannya seperti yang dikutip di beberapa media menjelaskan bahwa seolah-olah konflik itu sudah terjadi atau diawali dengan aksi saling mendahului atau saling nyalip antara rombongan korban dan para saksi dengan rombongan para pelaku tersebut.


 


“Padahal sebenarnya bukan begitu. Kami tidak merasa melakukan aksi saling menyalip. Tetapi rombongan merekalah yang memancing keributan dengan cara menyalip dan memepet rombongan kendaraan kami," ujar Stefanus Iman salah satu saksi kemarin.


Tiga rekannya juga menjelaskan bahwa saat itu Stefan dan Munajir berboncengan atau menggunakan satu sepeda motor. Sementara korban menggunakan sepeda motor sendirian. Korban Prada Yanuar Setyawan sendirian mengendarai sepeda motor dengan kondisi ban yang kempes sehingga tidak bisa ngebut. Tegar juga mengendarai sepeda motor sendirian. Lalu saksi Isra berboncengan dengan Juhari yang masih tergeletak di rumah sakit hingga saat ini.


"Tidak ada aksi saling nyalip karena Yanuar ban motornya sedang kempes dan dipaksakan berjalan, serta korban Juhari juga kehabisan bensin sebelum tiba di TKP pertama," ujarnya.


Dalam perjalanan dari Kuta ke Nusa Dua, rombongan korban dan saksi masih selalu bersama-sama. Sementara rombongan para pelaku sudah membuntuti rombongan saksi dan korban sejak di daerah Jimbaran menuju Nusa Dua. Namun saat memasuki perempatan Kampus Udayana, Stefan dan Munajir berada di bagian depan meninggalkan teman-teman lainnya.


Saat itulah terjadi aksi saling ganggu antara Stefan dan Munajir dengan kelompok pelaku, namun tidak dihiraukan oleh Stefan. Sebelum memasuki pertigaan Perumahan Taman Griya, satu motor dari rombongan pelaku menyalip motor Stefan, sampai naik ke trotoar.


Namun setelah jauh ke depan, rombongan pelaku yang diketahui bernama CI itu balik arah atau lawan arah dengan berpura-pura mencari topi yang jatuh. Namun saat berpapasan dengan Stefan, pelaku sempat mengumpat dan memaki-maki tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba muncul kelompok lain lagi.


"Saat itu saya tanya, kenapa temannya balik arah dan apa yang dia cari. Karena bisa mencelakakan orang lain," ujarnya.


Rupanya komunikasi tersebut semakin memicu tindakan nekat para pelaku. Mereka mengejar motor Stefan hingga pertigaan Perumahan Taman Griya.


"Memang sebelum berpisah dengan mereka saya sempat mengumpat dan memaki. Mereka menantang dan berhenti," ujarnya.


Rupanya situasi ini memicu emosi pelaku. Saat itulah para pelaku mencari anggota rombongan lainnya. Kondisi korban Prada Yanuar Setyawan yang motornya dalam keadaan kempes namun dipaksakan naik akhirnya dihampiri para pelaku.


“Namun pengakuan para pelaku menjelaskan jika korban yang terlebih dahulu memukul para pelaku,” terangnya.


Setelah itu muncullah saksi Juhari dan teman-temannya dari belakang dengan motor dalam kondisi kehabisan bahan bakar dan didorong. Tiba di TKP, Isra, Tegar melihat korban sudah tergeletak bersimbah darah. Tegar berupaya untuk menolong korban. Namun saat dia mendekati korban, Tegar dikeroyok para pelaku.


"Waktu itu saya melihat pelaku yang akhirnya diketahui bernama CI memukul saya. Dan pelaku lainnya ikut mengeroyok," ujar Tegar.


Sementara satu orang saksi kunci lagi atas nama Muhammad Johari, 22 hingga saat ini masih belum diperiksa penyidik karena masih tergeletak di RSUP Sanglah. Kondisinya tidak bisa bicara akibat rahangnya yang patah dianiaya rombongan sepeda motor para pelaku. 

Editor : I Putu Suyatra
#covid19 #bali #kriminal #badung #prokes