BALI EXPRESS, SANUR - Secara umum, masyarakat Hindu di Bali dapat dibagi menjadi dua, yakni masyarakat Bali yang memang menetap sebelum adanya luberan dari luar, dan warga pendatang. Untuk urusan pendatang, banyak kisah unik melatarbelakangi, seperti yang kini terjadi di Desa Intaran, Sanur.
Masyarakat Bali Mula, yakni masyarakat Bali yang memang sudah menghuni Pulau Bali sebelum datangnya masyarakat Hindu dari Majapahit. Sementara masyarakat Bali Majapahit adalah masyarakat Bali yang leluhurnya berasal dari Kerajaan Majapahit. Meski demikian, sebelum periode kedatangan masyarakat Hindu Majapahit ke Bali, ternyata pada periode keruntuhan Kerajaan Singosari di Kediri Jawa Timur, ada juga gelombang kedatangan masyarakat Hindu ke Bali. Ada beberapa bukti dari kedatangan masyarakat Hindu Singosari ini adalah adanya beberapa tradisi dan komunitas masyarakat yang hingga saat ini masih ada di Bali. Salah satunya adalah warga Madura di Banjar Madura, Desa Sanur, Kota Denpasar ini. Warga Madura yang tinggal di Banjar Madura ini merupakan sebuah komunitas masyarakat Hindu dari Pulau Jawa yang datang sebelum periode kedatangan masyarakat Hindu Majapahit.
Mangku Nyoman Sunarta, salah seorang warga Madura di Desa Sanur, mengatakan, warga Madura yang tinggal di Desa Sanur ini merupakan satu komunitas masyarakat Hindu yang sudah tinggal di Banjar Sanur, jauh sebelum masyarakat Hindu Majapahit datang ke Bali. “Dari Purana yang diceritakan orang tua saya, kami warga Madura yang tinggal di Sanur ini adalah satu-satunya komunitas warga Madura yang lahir dari leluhur yang datang ke Bali, sebelum periode masyarakat Hindu Majapahit datang ke Bali,” jelasnya, baru-baru ini di Sanur. Dari yang diceritakan Mangku Sunarta, warga Madura yang tinggal di Banjar Madura, Desa Sanur ini adalah keturunan langsung dari Sang Hyang Yogi Swara, yakni seorang pendeta Hindu pada masa Kerajaan Singosari. Ketika kerajaan Singosari berjaya sekitar tahun 1222 M, Sang Hyang Yogi Swara ini adalah seorang pendeta kerajaan yang bertugas sebagai pensihat Raja. Namun, setelah runtuhnya Kerajaan Singosari sekitar tahun 1293, dan datangnya pasukan Mongol ke Jawa Timur, Kerajaan Singosari pun mengalami kemerosotan. Kerajaan yang pernah berjaya di bawah pimpinan Raja Kertanegara ini, mengalami kondisi politik dan keamanan yang tidak stabil sehingga banyak dari rakyat memilih keluar dari Kerajaan Singosari. Salah satunya adalah Sang Hyang Yogi Swara yang merupakan seorang pemuka agama di Kerajaan Singosari. “Ketika itu Sang Hyang Yogi Swara merasa tidak aman berada di Kerajaan Singosari yang kondisi keamanan dan politiknya tidak stabil, sehingga beliau memutuskan untuk pergi dari Kerajaan Singosari,” lanjutnya.
Sebelum memutuskan untuk pergi ke Bali melalui jalur laut, Sunarta menyebutkan, jika Sang Hyang Yogi Swara sempat melakukan perundingan di Kerajaan Singosari dengan para pemuka agama yang lainnya untuk membahas kemana harus pergi, ketika kondisi Kerajaan Singosari sudah tidak aman. Setelah melakukan diskusi dan perundingan, akhirnya Sang Hyang Yogi Swara, lanjut Mangku Sunarta, memutuskan untuk pergi ke Pulau Bali dengan pertimbangan di Pulau Bali sudah ada jejak perjalanan dari para Rsi Hindu yang berasal dari Kerajaan Singosari pada masa lalu.
Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya Hyang Yogi Swara, berlayar ke Pulau Bali dan memasuki Pulau Bali dari wilayah utara, yakni dari Singaraja. “Dari Singaraja inilah, akhirnya perjalanan Sang Hyang Yogi Swara dilanjutkan ke arah timur, selanjutnya menuju ke selatan dan tibalah di Pesisir Desa Sanur,” ungkapnya. Setibanya di pesisir Desa Sanur ini, Sang Hyang Yogi Swara yang datang bersama dengan rombongan yang terdiri dari beberapa orang, yakni para pemuka agama dan beberapa orang pedagang memutuskan untuk berpisah. Sang Hyang Yogi Swara memutuskan untuk bertapa di tengah laut dan rombongan lainnya seperti Mpu Baradah dan beberapa orang pedagang dari Tiongkok memutuskan untuk pergi ke daratan dan mendirikan tempat tinggal. “Meskipun berpisah, tetapi Sang Hyang Yogi Swara dan anggota rombongan yang lain ini sepakat untuk bertemu kembali di daratan Sanur, setelah pertapaan Sang Hyang Yogi Swara selesai,” paparnya, di damping Mangku Ketut Gotra. Setelah pertapaan Sang Hyang Yogi Swara selesai , lantas bertemu dengan Mpu Baradah di daratan Desa Sanur.
Dikatakan Mangku Sunarta, makna dari Madura ini berasal dari dua kata Madu dan Ara. Madu yang artinya bertemu dan Ara yang artinya air. Jadi, Madura ini berarti pertemuan daratan dan air laut. Di tempat pertemuan inilah, akhirnya Sang Hyang Yogi Swara menurunkan keturunan dan hingga saat ini keturunannya itu disebut sebagai warga Madura. “Dan, wilayah tempat pertemuan dan tempat tinggal kaum Madura ini disebut dengan Banjar Madura,” terangnya. Seperti juga umat Hindu lainnya di Bali, ada sejumlah pura yang dibangun, seperti Setra Madura, Pura Dalem Cungkup, ada patung seorang Brahmana, dan Palinggih Catur Lawang.
Editor : I Putu Suyatra