BALI EXPRESS, RENDANG - Sudah lebih dari dua minggu Gunung Agung menunjukkan kekuatannya dengan kegempaan yang tetap tinggi. Namun sampai kemarin (10/10) Gunung Agung masih belum menampakkan keperkasaan letusannya. Dengan kondisi itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM terus berusaha mengetahui seperti apa aktivitas Gunung Agung. Salah satunya dengan memasang alat pemantau gas. Hasilnya masih menunjukkan jika dalam radius 12 km belum terdeteksi adanya gas berbahaya.
“Rencana pemasangan alat pemantauan gas itu memang sudah kami lakukan. Kemarin dipasang dengan jarak 12km (dari puncak Gunung Agung). Tapi hasil pemantauan dengan jarak itu belum terdeteksi adanya gas. Tapi memang jaraknya masih jauh (dari puncak Gunung Agung). Karena itu pemasangan alat ini perlu dilakukan lebih dekat lagi, tapi itu kan tidak bisa dilakukan dengan kondisi sekarang ini,” ucap Kasbani Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM saat ditemui kemarin di Pos Pemantauan Gunung Api Agung di Rendang.
Meski telah melakukan pemasangat alat pemantau gas, ditegaskan olehnya untuk alat-alat yang lain juga masih tetap dipasang dan dipantau pihaknya. Seperti seismik yang dia sebut kini sudah berjumlah sembilan dan terpasang mulai dari yang dekat puncak, lalu di tubuh gunung, dan ada juga yang terpasang di sisi utara Gunung Agung, serta di lokasi yang lebih jauh, seperti wilayah Susut. “Jadi meski kita pasang alat pengukur gas ini, tapi alat lain seperti seismik tetap, bahkan sudah sembilan sekarang. Karena untuk alat ini (alat pengukur gas) dipasang hanya untuk menambah penguatan dan mengkonfirmasikan data-data yang telah ada,” terangnya.
“Intinya pemasangan alat ini bagus juga untuk mengetahui kandungan gas yang ada di atas sana. Termasuk untuk mengetahui aktivitas magmatis seperti apa. Meski begitu data-data yang lain seperti kegempaan dan deformasi sudah menunjukkan aktivitas dan konsisten, kalau ada dorongan yang kuat fluida magmatic dari bawah,” tegasnya.
Selain telah memasang alat pengukur gas, upaya melihat lebih dekat secara visual puncak dan kawah Gunung Agung juga berusaha dilakukan PVMBG. Yakni dengan menggandeng BNPB menerbangkan sebuah pesawat drone yang bisa menjangkau puncak dan kawah Gunung Agung.
Ada tiga lokasi yang disurvei menggunakan pesawat drone. Pertama dalah Pura Pasar Agung, Kecamatan Selat, Karangasem dengan posisi koordinat -8'22'14", 115'30'10" ketinggian 1.579 m. Kemudian Rumah Pohon Tulamben, kondisi cerah, koordinat -8'19'6", 115'34'7" ketinggian 448 m. Dan terakhir di Kubu ( -8'15'32" 115'34'38") ketinggian 75 m.
Sementara itu hasil pantauan kemarin menunjukkan jika kondisi Gunung Agung dari Pos Pantau Rendang masih rajin diselimuti kabut dan mendung. Hanya seperti kata Kasbani, jika pada pagi kemarin kondisi Gunung Agung relative bersih. “Jadi kami bisa melihat dari bawah kondisi puncak. Kemudian tadi pagi juga ada hembusan uap dari puncak dengan tinggi antara 50 meter sampai 100 meter, dengan warna putih. Jadi masih ada uap air di solfatara itu. Dari pos pantau di utara juga dilaporkan sama,” ucapnya.
Sedangkan berdasarkan instrument data, seperti kegempaan, dan deformasi juga masih menunjukkan data yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Artinya gempa-gempa vulkanik masih sangat tinggi. Terbukti dalam data sehari kemarin masih angka kegempaan di Gunung Agung masih ada di atas 800an kali.
“Meskipun dari ukurannya masih kecil, namun kegempaan itu menunjukkan jika aktivitas Gunung Agung masih sangat tinggi, dan dalamnya masih bergejolak,” terangnya.
Dengan kondisi itu pihaknya kembali mengingatkan warga yang masih berada di dalam zona merah untuk keluar, dan yang diluar untuk tidak masuk ke dalam. “Intinya tetap tenang, namun waspada. Semua informasi terkait Gunung Agung ini, harus sumbernya dari PVMBG. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang sumbernya dari informasi yang tidak jelas,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra