BALI EXPRESS, SEMARAPURA- Meskipun suasana pilkada, Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Klungkung tetap menyelenggarakan lomba ogoh-ogoh serangkaian Hari Raya Nyepi. Kepala Bidang Kesenian, Disbudpora Kabupaten Klungkung Komang Sukarya menegaskan, peserta ogoh-ogoh yang berbau politik akan langsung diskualifikasi. Pihaknya tidak ingin budaya dikaitkan dengan hajatan politik. “Kami tidak berpikir ke arah politik. Ini sebagai wujud pelestarian. Tetap bekreativitas, berkesenian,” tegas Sukarya ditemui Senin (19/2).
Sebagai upaya menghindari lomba yang digelar tiap tahun itu dikaitkan dengan politik, pihak panitia sudah memberikan arahan kepada peserta. Kriteria sudah ditentukan. Baik bentuk maupun cerita ogoh-ogoh. “Cerita diambil dari Mahabharata, Baratayuda atau babad,” imbuhnya. Sedangkan bahan yang digunakan harus ramah lingkungan. Tidak boleh menggunakan bahan styrofoam.
Sukarya menyebutkan, lomba ogoh-ogoh tahun ini diikuti sebanyak 8 peserta berasal dari empat kecamatan di Klungkung. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Minimnya peserta diperkirakan karena masalah anggaran, pasalnya anggaran pembinaan dari Disbudpora terbatas. Sebesar Rp 9 juta untuk peserta di wilayah Klungkung daratan. Sedangkan uang pembinaan peserta dari Kecamatan Nusa Penida Rp 12 juta. “Itu sudah naik dari sebelumnya,” imbuh pejabat asal Desa Tangkas, itu, seraya mengatakan lomba mengarak ogoh digelar 11 Maret 2018, bertempat di Jalan Untung Surapati, Semarapura.
Start dari depan Puri Agung Klungkung, bergerak ke arah timur catus pata. Lomba tersebut melibatkan juri yang semuanya dari luar Klungkung. Pihak panitia sengaja tidak melibatkan juri asal Klungkung agar penilaian lebih objective. “Sekarang sudah tahap penjurian ke lapangan, menilai bahan-bahan yang digunakan,” tandas dia.
Editor : I Putu Suyatra