BALI EXPRESS, DENPASAR - Tim penilai ogoh-ogoh Kota Denpasar yang terdiri atas unsur Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan perwakilan Sekaa Teruna se-Kota Denpasar telah dimulai. Prosesnya sudah dilakukan sejak Selasa (6/3) hingga tanggal 9 Maret mendatang. Total ogoh-ogoh yang akan dinilai mencapai 182. Sementara hari pertama sendiri sudah dilakukan penilaian terhadap 46 ogoh-ogoh. Penilaian hari pertama ini dilakukan di Kecamatan Denpasar Timur dan Utara. Hasilnya, ditemukan para peserta makin kreatif dalam membuat ogoh-ogoh.
Salah satu tim juri, I Ketut Sudita mengatakan penilaian yang dilakukan di antaranya dari segi kreatifitas berupa bentuk, ekspresi, komposisi dan penggunaan bahan pembuatan ogoh- ogoh. Pada tahun ini kriteria hampir sama seperti di tahun sebelumnya. Yaitu peserta tidak diperkenankan menggunakan bahan seperti stereofoam dan diharapkan menggunakan bahan ramah lingkungan.
“Bahkan berdasarkan hasil pengamatan kami, beberapa STT telah bereksperimen menggunakan bahan alternatif seperti tisu dan kulit telur ayam yang terlihat memberi efek khsusus pada ogoh- ogoh,” ungkapnya di Denpasar Selasa (6/3).
Tim penilai lomba ogoh- ogoh Kota Denpasar tahun ini terdiri atas pakar dari beberapa disiplin ilmu. Seperti seni rupa, tari untuk menilai fragmen dan ada juga ahli di bidang cerita dan sinopsis. Tentu lomba ogoh- ogoh yang digagas Pemkot Denpasar ini bertujuan untuk terus melestarikan warisan seni budaya di Bali dan mengarahkan generasi muda Kota Denpasar melakukan hal- hal yang positif.
Selain menggunakan bahan- bahan ramah lingkungan sesuai anjuran Pemerintah Kota, juga nampak beberapa STT mencoba berkreatifitas menggunakan bahan baku alternatif seperti kertas tisu, kulit telur ayam dan daun pisang kering. Bahkan beberapa STT ada juga yang telah menambahkan sentuhan teknologi ke dalam karya ogoh- ogohnya.
Salah satu koordinator pembuatan ogoh-ogoh dari ST Werdhi Sesana Banjar Tega, Tonja, Denpasar, I Made Jaya Subandi mengatakan ogoh-ogoh yang dikerjakan pihaknya menghabiskan dana sekitar Rp 20 juta. Dengan pengerjaan sekitar dua bulan. Bahkan teknisnya juga dapat dibongkar-pasang, ketika proses penilaian telah dilakukan maka akan dibongkar kembali.
“Kalau tidak dibongkar kan bisa menyebabkan kemacetan, karena saat penilaian kami pasang dan taruh di depan balai banjar. Makanya sangat efektif dibuat dengan knockdown,” jelas pemuda ST Werdhi Sesana Banjar Tega, Tonja, Denpasar itu.
Jaya juga mengaku di sana merupakan penilaian yang ketiga dari beberapa STT yang dinilai sejal pagi. Bahkan ia sangat berharap tahun ini ogoh-ogohnya masuk ke dalam penilaian yang bisa memuaskan dan mendapatkan juara. Jikapun tidak, Jaya mengatakan akan terus berinovasi ke depannya supaya dapat menuangkan kreativitasnya kembali.
Editor : I Putu Suyatra