BALI EXPRESS, DENPASAR - Mitos yang terjadi saat ini bukan hanya terjadi pada kaum laki-laki namun juga banyak terjadi pada wanita. Salah satunya yang masih banyak belum diketahui orang masyarakat yaitu memakai pakaian ketat, dorongan seksual menurun. Dosen Universitas Udayana, dr Oka Negara, FIAS mengungkapkan, hal tersebut tidak mempengaruhi pada dorongan seksual.
"Kalau dorongan seksual menurun sih tidak, tapi kesuburannya yang terganggu," tegasnya.
Dari mitos yang ada, mitos seksual untuk wanita itu lebih banyak dari laki-laki. "Banyak sekali mitos wanita yang diketahui masyarakat, terutama yang berhubungan dengan bentuk. Salah satunya anak remaja dan masyarakat mempercayai kalau remaja wanita yang payudaranya kendor dan pantatnya yang tepos artinya tidak perawan," katanya.
Mitos lain mengenai keperawanan banyak diketahui oleh masyarakat, Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau tidak perawan lagi. Menurut Oka, hal itu salah. Faktanya tidak selalu demikian. Selaput dara merupakan selaput kulit yang tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal.
"Selain karena melakukan hubungan seks, selaput dara juga bisa robek karena melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda dan berkuda. Karena itu, robeknya selaput dara belum tentu karena hubungan seks, malah ada juga perempuan yang sudah menikah dan berhubungan seks berkali-kali tapi selaput daranya masih utuh dan tidak koyak karena elastis," pungkasnya.
Ada pula mitos yang mengatakan, perempuan yang berpayudara besar dorongan seksualnya besar. Secara medis, tidak ada hubungan langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang.
"Dorongan seksual itu ditentukan oleh kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual (melihat, mendengar, atau merasakan suatu rangsangan seksual)," tuturnya.
Banyak lagi hal lain yang dipercaya oleh masyarakat, yang masih belum d pilah-pilah oleh masyarakat. Untuk mengeliminasi mitos tersebut diharapkan masyarakat lebih mengembangkan iformasi yang benar.
"Sangat diharapkan masyarakat dapat mengakses informasi yang benar. Dimana nanti media maupun dapat membantu mengubah informasi yang salah dengan informasi yang benar," pungkasnya
Cara penyampaian informasi pun diharapkan ole Oka agar lebih menarik, karena ini adalah masalah pengetahuan yang harus dilawan dengan pengetahuan baru yang mematahkan pengetahuan lama yang keliru. Sehingga masyarakat percaya.
Editor : I Putu Suyatra