Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Soal Kematian Gede Ari, Hasil Matuun, Korban Dihabisi Dua Pelaku

I Putu Suyatra • Sabtu, 23 Juni 2018 | 19:18 WIB
Soal Kematian Gede Ari, Hasil Matuun, Korban Dihabisi Dua Pelaku
Soal Kematian Gede Ari, Hasil Matuun, Korban Dihabisi Dua Pelaku



BALI EXPRESS, SINGARAJA -Teka-teki penyebab kematian almarhum Gede Ari Artawan, 18 hingga kini masih misteri. Meskipun jasad korban sudah dikremasi pada Senin (11/6) lalu. Namun hingga kini, polisi mengaku sedang menunggu hasil otopsi dari RSU Sanglah Denpasar untuk memastikan penyebab kematian pria asal Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng itu.


Bali Express berusaha mencari keterangan lebih dalam pasca korban dikremasikan di Setra Tegallinggah. Saat disambangi ke rumah korban, kondisi rumah dalam keadaan sepi dengan pintu gerbang yang digembok rapat.


Setelah medapat informasi dari tetangga, disebutkan kedua orang tua almarhum sedang pergi ke Pancasari, Kecamatan Sukasada. Beruntung koran ini mendapat nomor hanphone (Hp) ayah korban dari tetangganya.


Benar saja, ada sedikit informasi yang bisa dikorek dari Ketut Mariada, yang tak lain ayah mendiang Gede Ari Artawan. Informasi tersebut tak lain petunjuk yang didapat setelah dilakukan prosesi matuun (bertanya pada orang pintar Red-) saat jenazah korban belum dikremasi.


Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (22/6) siang, Ketut Mariada hingga kini belum mengetahui secara pasti penyebab kematian putra sulungnya. Hanya saja keluarga besarnya mendapat petunjuk dari Balian (Paranormal, Red) saat dilakukan prosesi matuun, yakni minta petunjuk melalui roh korban. Yang dilakukan Minggu (10/6) lalu, sehari sebelum mendiang dikremasikan.


Mariada menuturkan saat metuun itulah roh almarhum Gede Ari turun merangsuk ke tubuh Jro Balian. Bahkan seluruh keluarga besarnya turut menyaksikan pengakuan almarhum Gede Ari saat metuun.


“Saat dilakukan metuwun anak saya tidak terima dibilang bunuh diri. Tetapi dianiyaa oleh dua orang. Katanya yang melakukan orang dekat atau teman akrabnya. Tapi setelah ditanya apa teman di desa (Tegallinggah, Red) atau di luar desa yang melakukan? Dibilang pelakunya di luar desa” kata Mariada.


Mariada kembali mengisahkan dari hasil metuwun tersebut, konon sang anak dibunuh di jalan. Artinya bukan di Pantai Penimbangan dimana korban ditemukan membusuk di dalam mobil Daihatsu Ayla.


“Katanya dibunuh di jalan. Dia disetop oleh dua orang pelaku. Gede (korban, Red) tidak nyangka dia akan mempermainkan dirinya. Nah setelah itu mayat Gede mau dibuang di jalan, tetapi kembali dimasukkan ke dalam mobil,” tuturnya.


Meski mendapat petunjuk dari Balian, namun Ketut Mariada mengaku tetap menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Apalagi Mariada mendapat pesan dari almarhum saat metuwun untuk bersabar dan tidak memendam dendam kepada pelaku apabila berhasil diungkap oleh petugas.


“Saat metuwun Gede sempat bilang, agar kami juga tidak dendam. Katanya nanti setelah upacara ngaben Gede pelaku akan terungkap. Disuruh sabar saja” imbuhnya.


Rencananya, mendiang akan diaben pada 20 Juli 2018 mendatang. Prosesi pengabenan akan  dilakukan di Desa Adat Panji.


Diberitakan sebelumnya jasad almarhum Gede Ari ditemukan membusuk di dalam mobil Daihatsu Ayla warna putih, di kawasan Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Kamis (7/6) pagi. Korban ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Matanya melotot dan jasadnya sudah mengeluarkan cairan.


Demi kepentingan penyelidikan, polisi langsung mebawa jasad korban ke RSUP Sanglah untuk menjalani otopsi. Sedangkan polisi juga terus mendalami asal-usul mobil Daihatsu Ayla dan serbuk putih yang ditemukan di TKP sebagai barang bukti.

Editor : I Putu Suyatra
#buleleng