BALI EXPRESS, DENPASAR - Penutupan Boost Sanur Village Festival (SVF) 2018 diikuti parade budaya. Seperti yang dipentaskan oleh sekaa teruna dan krama Banjar Taman Sari, Intaran, Sanur. Mereka menampilkan pragmen Tari Loloan Agung dengan melibatkan sekitar 120 orang.
Ketua Panitia pementasan, Ida Bagus Anom Sutrisna saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan pihaknya ditunjuk untuk pentas tahun ini. Terlebih giliran pentas itu pun tidak tanggung-tanggung. Pasalnya menampilkan inti cerita dari Loloan Agung dan sesuai tema festival. "Jadi kami sudah pernah pentas dua kali saja selama festival berlangsung sejak beberapa tahun lalu," tandasnya di Denpasar Minggu (26/8).
Lanjut dia, penampilan itu juga akan berlangsung pada panggung utama SVF. Namun sebelum pentas, diselenggarakannya sebuah parade budaya dengan berjalan kaki mengambil start di depan SMP Wisata Sanur menuju tempat festival di Pantai Matahari Terbit. Selain baleganjur, tampak juga beberapa properti pendukung pementasan dibawa dalam parade. Sehingga tampak festival itu sangat mengedepankan budaya yang ada.
"Kami mempersiapkannya sejak tiga minggu. Meski sempat terbentur dengan kegiatan lain, tapi kami berusaha atur jadwal dan manajemen waktunya," papar pria yang juga selaku ketua sekaa teruna.
Dalam Kesempatan tersebut, Gus Anom juga memaparkan penari yang pentas di atas panggung utama sebanyak 80 orang. Sedangkan sekaa gong dan pangiringnya menyesuaikan di sekitarnya. Meski hanya mempersiapkan selama tiga minggu saja, ia juga berharap agar berjalan lancar dan penonton memahami tentang cerita Loloan Agung itu sendiri.
Lanjut dia, sebelum pentas diakuinya seluruh krama yang terlibat di dalamnya menyelenggarakan ritual. Yaitu melaksanakan atur piuning (mohon izin) di Pura Penataran Banjar Taman Sari, Intaran, Sanur. Lantaran itu dianggap mempengaruhi pelaksanaan setiap pagelaran agar menjadi sukses, dan tidak adanya gangguan secara sekala maupun niskala.
"Atur piuning di pura tersebut sebelum pementasan apapun memang sudah turun-temurun di sana. Sehingga diyakini segala pementasan bisa berjalan lancar, kalau mohon taksu sih tidak. Karena kami mohon doa saja agar lancar," ujarnya.
Seperti dalam ceritanya, mereka menampilkan pragmentari bertemakan Loloan Agung. Loloan dikatakan berasal dari kata "Luh" yang berarti air, sedangkan "loloan" adalah penggabungan dan pertemuan air sungai dengan air laut. Sungai hukumnya di gunung yang airnya berasal respons air hujan melalui proses pemanasan laut oleh sinar matahari.
Sedangkan matahari sebagai sumber cahaya dan prananya bumi beserta isinya dipuja sebagai Siwa Geni. Yaitu yang menjadi simbol Gunung Agung, Gunung Batur, dan Gunung Batukaru. Sedangkan Kala Geni sebagai simbol Pura Uuwatu.
Gunung api dan laut merupakan satu kesatuan yang tidak boleh diabaikan. Lantaran perlu dijaga keharmonisannya. Sedangkan tercemarnya kedua komponen itu akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Dan, sebaliknya terjaganya keharmonisan air gunung dan air laut. Sehingga menjadi obat dan sumber prana yang disebut loloh.
Sehingga pemaknaan cerita tersebut, merupakan perpaduan campuran air daun dan air murni. Dari sana dapat diketahui menghasilkan sesuatu yang menyeimbangkan dunia ini. Begitu juga pragmen tersebut sebagai bentuk keseimbangan alam semesta, atau yang dikenal dengan Rwa Bhinedha.
Editor : I Putu Suyatra