BALI EXPRESS, DENPASAR - Tambatan perahu di Segara Kodang Pemelisan Sesetan, Denpasar disulap menjadi tempat penyeberangan. Tambatan yang dijadikan sejenis pelabuhan tersebut telah berjalan satu bulan untuk mengangkut wisatawan mancanegara dan lokal. Bahkan di sana sebagai penyeberangan alternatif ketika cuaca buruk datang.
Pengawas Tambatan Segara Kodang Pemelisan, Sesetan I Ketut Kuarsa mengaku penyeberangan di sana baru berjalan 1 bulan 10 hari. Bahkan pengelolanya merupakan desa adat setempat, disamping memang untuk mengenalkan potensi pariwisata yang ada di sana.
"Keberadaan tambatan kapal ini semoga bisa membantu penyebrangan di Sanur dan Serangan. Apalagi ketika gelombang tinggi seperti waktu lalu," jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (9/9).
Dia mengaku ketika gelombang tinggi di Sanur dan penyebrangan tutup semua, disana dikatakan tidak ada dampaknya. Bahkan areal itu dirasakan aman dari gelombang tinggi. Mengingat para wisatawan akan mengutamakan keselamatannya jika mencari obyek, terlebih tempat untuk menyebrang.
"Kapal yang ada saat inu baru delapan kapal berbagai ukuran. Mulai dari kapasitas 80 sampai 150 orang. Bahkan untuk keselamatan kepada wisatawan yang naik fasboat itu sangat diperhatikan," terang pria asli Batan Kendal, Sesetan tersebut.
Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan penyebrangan lebih banyak tujuan ke Pulau Lembongan dan Nusa Penida. Rata-rata dalam setiap hari wisman yang menyebrang dari sana sebanyak 200 sampai 150 orang. Lantaran pemilik kapal telah bekerjasama dengan agen-agen penyebrangan yang penumpangnya sudah penuh.
Sehingga tambatan itu lebih tepatnya sebagai alternatif jika penyebrangan lainnya sedang krodit. Ditanya waktu keberangkatan, Kuarsa memaparkan mulai pukul 08.00 sampai 09.30, dan siang pada pukul 13.00. Sedangkan kedatangan mulai dari pukul 12.30 sampai sore.
Selain tambatan yang digunakan penyeberangan alternatif, tujuannya juga untuk membuat obyek wisata di sana yang alami. "Kedepannya kita akan buat obyek wisata baru yang diminati anak muda, seperti ayunan dan rumah pohon tanpa merusak hutan manggrov," terangnya.
Dikonfirmasi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Dezire Mulyani menjelaskan terkait tambatan tersebut pihaknya baru mengetahui. Bahkan ia sendiri sempat datang ke sana untuk melihat aktivitas pariwisata yang ada. Sampai saat ini ia sendiri belum terlibat di sana, lantaran pihak pengelola dikatakan belum ada berkoordinasi.
"Iya memang ada penyeberangan baru di sana, tapi mereka menyebutnya tambatan bukan pelabuhan. Kami belum ada terlibat, karena dalam waktu dekat ini pihak desa dan kelurahan akan merapatkan terkait tambatan tersebut," paparnya.
Sehingga hasil rapat nanti ia baru bisa ikut di dalamnya untuk perkembangan pariwisata di wilayah Denpasar Selatan. Mulai dari pengembangan tempat wisata maupun tambatan itu sendiri. Sehingga bisa lebih dikenal lagi oleh wisman yang hendak menyebrang dari sana.
"Ini semacam alternatif jika di Sanur dan Serangan krodit. Kemarin sempat saya kesana dan beberapa memang sudah jalan, namun muara kali yang ada masih kelihatan kotor, dan perlu ditata kembali," imbuh Dezire.
Editor : I Putu Suyatra