BALI EXPRESS, SINGARAJA - Membangun rumah wajib memperhatikan asta kosala-kosali, konsep ulu teben (hulu-hilir), juga mesti memperhatikan hari baik atau padewasaan. Baik mulai membuat pondasi, memasang atap hingga bangunan selesai dan dibuatkan upacara Ngurip-urip.
Memilih padewasaan membangun rumah sangat penting. Sebab, penghuni rumah akan sangat dipengaruhi, apabila terjadi kesalahan menentukan hari baik. Salah membangun rumah maupun salah menentukan padewasaan saat Malaspas rumah misalnya, dikhawatirkan membawa dampak negatif bagi penghuni rumah.
Penyusun Kalender Bali, Gede Marayana mengatakan, padewasaan tak hanya digunakan untuk menentukan waktu dalam pelaksanaan upacara Panca Yadnya semata. Tetapi juga dalam hal menentukan waktu untuk membangun rumah tempat tinggal.
Terlebih tempat tinggal disebutnya sebagai bangunan tanem tuwuh yang dibuat untuk dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama dan seumur hidup. Sehingga, membutuhkan padewasaan yang tepat. “Makanya harus menggunakan hitungan wa pa tang sa da. Yaitu wewaran, pawukon, tanggal, sasih, dan dauh. Semua harus baik,” ujar Marayana kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.
Marayana menjelaskan, padewasaan dalam membangun rumah secara permanen diawali dengan membuat pondasi. Menurutnya, pondasi memiliki peran yang penting menunjang kekokohan rumah. Jadi, tidak boleh dianggap sepele soal padewasaan. Sebab, dampaknya akan negatif, jika tanpa memperhatikan padewasaan.
Untuk membangun pondasi, lanjutnya, diharapkan memilih saptawara seperti hari Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Sedangkan untuk Sanga Wara, Marayana menyarankan agar pemilik rumah menggunakan Tulus atau Dadi.
“Tulus secara filosofis artinya tanpa halangan. Sedangkan Dadi itu jadi, itulah maknanya. Kalau sanga waranya menggunakan Jangur itu berisiko rumahnya sering disatroni maling. Kalau pakai Ogan sering tertimpa bencana, apakah kebakaran, banjir,” beber Marayana.
Ia menambahkan, padewasaan membuat pondasi juga baik dilakukan saat Kajeng Maulu, Beteng Aryang, Kajeng Urukung, Kajeng Dadi dan Beteng Tulus.
Dikatakan Marayana, dewasa membuat pondasi tersebut sudah satu paket dengan membuat tembok rumah, kusen pintu dan jendela. Hanya saja, untuk memasang kap atau atap rumah wajib dicarikan padewasaan baru.
“Biasanya dicari Kali Ngadeg. Bagusnya pertemuan Tri Wara dengan Sad Wara. Yaitu Kajeng Maulu, Beteng Was atau Kajeng Dadi. Tapi harus dihindari padewasaan Geni Rwana. karena Geni Rwana itu hanya baik untuk pekerjaan yang menggunakan api. Tapi tidak cocok untuk mengatapi rumah,” ungkapnya.
Setelah rumah selesai dibangun, maka wajib dibuatkan upacara Ngurip-urip. "Upacara Ngurip urip wajib dibuat agar bangunan itu hidup secara niskala. Sebab, jika tidak dibuatkan, bangunan rumah tak ubahnya hanya material yang ditumpuk semata," urai Marayana.
Tentu saja, pelaksanaan upacara Ngurip-urip bangunan wajib menggunakan padewasaan. ”Yang jelas bukan Tri Wara Pasah saja. Boleh saat Purnama. Dimana sasihnya di luar Kasanga dan Kadasa. Karena Kasanga kan miliknya para kala dan Kadasa adalah upacara untuk para Dewa. Jadi, selain itu boleh,” imbuhnya.
Selain merujuk padewasaan yang baik, Marayana juga mengingatkan agar menghindari menggunakan padewasaan Lebur Awu. Menurutnya, Lebur Awu sangat tidak baik untuk membuat rumah dan melakukan upacara atau prosesi pamakuhan.
Ia menyebut, ketentuan hadirnya Lebur Awu berpedoman pada Sapta Wara dan Asta Wara. Yakni pada Redite Indra, Soma Uma, Anggara Rudra, Buda Brahma, Wrespati Guru, Sukra Sri, dan Saniscara Yama.
Sedangkan jika merujuk pada Lontar Aji Swamandala, sambung Marayana, disebutkan jika ada beberapa wuku yang dianggap tidak tepat untuk membangun rumah. Seperti wuku Sinta, Landep, Gumbreg, Medangkungan, Sungsang, Dunggulan, Pahang, Tambir, Perangbakat, Bala, Wayang, dan Watunggunung.
Termasuk juga dilarang membangun rumah pada wuku tanpa guru, Sasih tanpa Tumpek, Wulan tanpa Sirah, Erangan, Kala, Dangu, Pasah, dan Prawani Wulan.“Kalau membangun di wuku itu, konsekuensinya rumah akan dihuni oleh Bhuta Dengen dan penghuninya akan sakit-sakitan, bahkan bisa mati mendadak” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra