BALI EXPRESS, BANGLI - Keluarga besar Puri Agung Bangli mengantarkan jenazah Jro Pasek Jempiring, istri Pahlawan Bangli, Kapten Anak Agung Gde Anom Mudita ke Setra Tunon Dalem Selaungan, Kelurahan Cempaga, Bangli, Sabtu (22/6). Begitu juga ribuan warga Kota Bangli tumpah ruah mengikuti upacara palebon istri sang pahlawan. Mereka mengusung tiga bade dan tiga petulangan singa yang digunakan saat perabuan.
Beberapa bade dan petulangan itu digunakan untuk mengantarkan dua kerabat di Puri Denpasar dan Siulan, Puri Agung Bangli yang di-palebon bersamaan. Jenazah keluar dari puri sekitar pukul 11.00.
Sebelum dinaikkan ke bade, para tentara Kodim 1626 Bangli mengarak jenazah mengelilingi catus pata Bangli. Keluarga mendiang Jro Pasek tampak tabah. Cucu, cicit, serta kerabat dekat keluarga puri ikut memutari catus pata, berbaris di depan iringan peti jenazah. Beberapa menit kemudian, iring-iringan jenazah berangkat menuju kuburan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Puri Agung Bangli.
Anak semata wayang mendiang, Anak Agung Anom Suarcana juga terlihat tenang. Dia duduk bersama Bupati Bangli I Made Gianyar, Dandim 1626 Bangli Letkol Cpn Andy Pranoto, Kapolres Bangli AKBP Agus Tri Waluyo. Dia masih bisa mengobrol dan sesekali membalas ucapan bela sungkawa dari beberapa tokoh.
Suarcana masih terdiam ketika peti jenazah diturunkan dari bade. Jenazah diletakkan di petulangan yang sejak awal sudah ditempatkan di tempat pembakaran jenazah.
"Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Bangli, Kodim dan Polres Bangli, serta masyarakat yang ikut berpartisipasi pada upacara ini (palebon)," kata Suarcana, mengawali kata ketika ditemui awak media.
Suarcana menunjukkan sinyal, betapa berat kehilangan sosok ibu yang tangguh dan setia. Kata Suarcana, sosok Jro Pasek Jempiring adalah panutan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Yang paling membekas di hati Suarcana adalah sang ibu rela membesarkan dirinya, meski sang suami Kapten Mudita telah gugur.
Kapten Anom Mudita dan Jro Pasek Jempiring menikah pada 1942. Beberapa tahun menjalani bahtera rumah tangga, Jro Jempiring harus menelan pil pahit karena sang suami gugur di medan perang pada 1947. Jro Jempiring harus menghidupi anak semata wayangnya, AA Anom Suarcana, seorang diri.
"Ketika ditinggal almarhum (Kapten Mudita), beliau (Jro Pasek) tidak ada niat untuk menikah. Ibu adalah panutan. Beliau mampu membesarkan saya dan mendidik saya," ucap Suarcana lirih.
Matahari tepat di atas kepala. Dandim 1626 Bangli Letkol Cpn Andy Pranoto memimpin upacara secara militer. Seluruh pasukan, serta para pejabat di Pemerintah Kabupaten Bangli mengikuti upacara tersebut secara khidmat. Begitu juga yang hadir seperti Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), LVRI Bangli, Pemuda Panca Marga serta masyarakat Bangli. Salvo berdesing sebagai tanda penghormatan terakhir kepada mendiang Jro Pasek Jempiring.
"Atas nama negara, dengan ini mempersembahkan ke persada ibu pertiwi, Jro Pasek Jempiring, yang telah meninggal karena kepentingan dan keluruhan negara yang meninggal karena sakit. Semoga jalan dharma bakti yang ditempuhnya menjadi tauladan bagi kita semua," ucap Andy Pranoto memimpin upacara.
Jro Pasek Jempiring merupakan seorang veteran anggota LVRI Kabupaten Bangli. Selain menjadi pendamping hidup almarhum Kapten Mudita, Jro Pasek Jempiring tercatat turut membantu suami selama masa persiapan kemerdekaan Indonesia, dan bertugas membantu para pejuang menyediakan logistik perang.
Berkat jasa-jasanya, wanita kelahiran Bangli, 1 Juli 1926 tersebut dianugerahi gelar kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Satya Lencana Veteran Indonesia. Jro Pasek Jempiring wafat, Selasa (28/5) pada usia 92 tahun.
Sebelum meninggal, mendiang sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Balimed, Denpasar. Beliau dirawat akibat mengeluh sakit kepala dan didiagnosa mengidap vertigo. Hal itu dikuatkan setelah mendiang sempat jatuh, tiga minggu sebelum dirawat.
Pascaterjatuh, kondisi Jro Pasek naik turun. Sempat membaik sebentar, kemudian kondisinya kian menurun dan akhirnya menghembuskan napas di RS Balimed, Denpasar.
Editor : Nyoman Suarna