SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lontar berbahasa Merapi-Merbabu atau Budha ditemukan di Dusun Ketug-Ketug, Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng. Dari analisis Tim Penyuluh Bahasa Bali, Kabupaten Buleleng, lontar tersebut berusia 300 tahun.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) pada Minggu (29/9) siang, lontar milik Dadia Arya Ularan yang berlokasi di Pura Siwa ini sedang didigitalisasi. Proses digitalisasi melibatkan tim dari Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng yang dipimpin oleh Ida Bagus Ari Wijaya. Digitalisasi melibatkan budayawan yang juga pemerhati lontar, Sugi Lanus.
Seperti diungkapkan Ida Bagus Ari Wijaya atau yang akrab disapa Gus Ari, lontar ini memang sempat dikonservasi pada tahun lalu oleh Tim Penyuluh Bahasa Bali. Isinya pun sudah sempat diterjemahkan. Namun proses digitalisasinya baru bisa dilakukan hari ini.
Gus Ari menjelaskan, lontar ini menggunakan aksara Merapi-Merbabu. Aksara ini merupakan tradisi tulis di era Kerajaan Majapahit. Kemungkinan, sebut Gus Ari, usia lontar ini lebih dari 300 tahun. Pasalnya, aksara ini terakhir digunakan tahun 1.700-an Masehi. “Kemungkinan usianya bisa lebih dari 300 tahun lalu, dan satu satunya di Bali,” ujar Gus Ari.
Secara umum, lontar ini menguraikan tentang ajaran Siwaisme. Artinya lebih ditekankan tentang tata cara memuja Siwa. Genrenya lebih ke Tattwa atau Siwaisme. Bahkan, bisa menjadi rujukan atau refrensi bagi yang mau medwijati atau menjadi seorang sulinggih.
“Yang menggunakan aksara Budha atau Merapi-Merbabu baru satu cakep. Selebihnya ditemukan juga lontar, tapi menggunakan bahasa Bali pada umumnya,” jelasnya.
Dikatakan Gus Ari, dari segi permukaan, kondisi naskah masih sangat bagus dan terawat. Bahkan, tata penulisannya dan bentuk aksaranya pun sangat teratur dan rapi, walaupun lontar ini sudah berusia ratusan tahun.
“Kalau dari sisi genre, lontar ini tidak jauh beda dengan Whrspati Tattwa, Bhuana Kosa, Ganapati Tattwa yang kebanyakan ditulis menggunakan aksara Bali. Tetapi yang membuat lontar ini unik karena aksaranya menggunakan Merapi-Merbabu. Ini baru pertama kali kami temui di Bali,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dadia Arya Ularan, Gede Marayasa, 52 menjelaskan, keberadaan lontar ini merupakan tetamian atau warisan dari para leluhurnya terdahulu. Lontar-lontar ini awalnya belum diketahui apa isinya oleh para pengempon. Meski sempat berusaha dibaca oleh tim dari Gedong Kirtya pada tahun 1980 lalu, tetapi tulisannya belum bisa dibaca.
Setelah ada tim konservasi dari para penyuluh aksara Bali pada tahun 2018 lalu, barulah lontar-lontar itu dibuka dan dibersihkan. Bahkan, lontar sempat dibaca untuk mengetahui isinya, serta disalin untuk dianalisis.
“Kami punya 13 lontar, tetapi yang menggunakan bahasa Merapi-Merbabu ini hanya satu cakep. Selebihnya berbahasa Bali. Tetapi belasan lontar itu isinya tentang ilmu pengobatan, ilmu kanuragan, tentang puja,” jelas Marayasa.
Ke depan, setelah dilakukan digitalisasi, pihaknya mengaku akan segera mendiskusikan dengan krama dadia. sehingga isi lontar ini dapat dijelaskan kepada generasi muda. “Kami tunggu dulu hasil digitalisasinya. Setelah itu baru kami sampaikan kepada krama dadia. Harapannya, setelah tahu isinya, proses merawatnya juga akan kami lakukan secara benar. Karena selama ini hanya sebatas dibuatkan upacara saat Hara Suci Saraswati bertepatan dengan Pujawali,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna