Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menggali Kuburan Esoterisme Hindu di Bali

Nyoman Suarna • Jumat, 21 Februari 2020 | 01:35 WIB
Menggali Kuburan Esoterisme Hindu di Bali
Menggali Kuburan Esoterisme Hindu di Bali


GEMA Gerakan #SaveBabi di Sumatera Utara sejalan dengan kampanye pemerintah daerah di Bali untuk tetap mengonsumsi daging babi. Gerakan-gerakan tersebut terjadi sebagai respon atas wacana pemusnahan babi yang dikarenakan merebaknya wabah African Swine Fever (ASF), yang menyebabkan anjloknya harga daging babi di pasaran. Bagi masyarakat Bali, daging babi merupakan komoditas yang menjadi keharusan di Hari Raya, umat Hindu harus rela ‘patungan’ untuk mendapatkan daging babi. Saat penampahan (Anggara Wage Dungulan) dapur umat Hindu akan diramaikan oleh hiruk-pikuk para lelaki yang berjibaku membuat sajian olahan daging babi. Menelisik lebih jauh lagi akan kita dapati ‘babi’ yang menjadi wacana nasional dan regional, tidak akan jauh dari motif ekonomi yang secara samar-samar digunakan sebagai wacana politik para elit. 


Hari Raya Galungan tentu tidak hanya identik dengan babi, hari raya Galungan yang dianggap sebagai rainan jagat adalah gambaran pestapora keberagamaan terbesar dari umat Hindu akan senantiasa dipenuhi dengan berbagai aktivitas keberagamaan umat Hindu. Jalanan di Bali akan meriah dengan dipenuhinya deretan penjor dari yang paling sederhana-hingga paling megah. Kesibukan ibu-ibu membuat sajen untuk dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi, yang tidak hanya dipersembahkan ‘minimal’ untuk empat atau lima tempat suci. Prosesi persembahyangan kemudian dilanjutkan dengan ritus makan bersama dan obrolan hangat di antara keluarga.


Kejayaan isu babi dan euforia keberagamaan umat Hindu pada saat hari raya Galungan, tentu saja menjadi gambaran bahwa keberagamaan secara eksoteris jauh lebih mendominasi. Tidak ada yang salah dari tradisi keberagamaan Hindu yang lebih bersifat eksoteris, namun dalam tradisi Hindu yang dipenuhi dengan symbol-simbol keagamaan dan tindakan simbolik yang diwariskan para maharesi Hindu sebagai niyasa, menanti untuk dikupas maknanya. Jika berhenti pada tataran keberagamaan secara eksoteris, maka yang terjadi adalah kuburan masal bagi esoterisme ajaran Hindu. Umat Hindu hanya disibukkan dengan isu daging babi, aktivitas membuat penjor, membuat sesajen, atau lebih ekstrim hanya menjadi aktivitas berkumpul, berpesta dan hura-hura. Alih-alih obrolan dan diskusi di tengah generasi muda Hindu, tentang mengapa merayakan hari raya Galungan, apa sesungguhnya yang dirayakan, bagaimana sikap dan perilaku dalam merayakannya, maka pesan hari raya Galungan sebagai penjelajahan kesadaran ke dalam diri menjadi semakin dalam terkubur.


Esoterisme berkaitan dengan lapisan kesadaran yang lebih dalam, dari sudut pandang yang kontemplatif, mistikal atau kondisi meditatif yang personal. Kebenaran ajaran yang sifatnya esoterik selalu terpendam dan rahasia. Agar dapat memahaminya, dibutuhkan kedalaman kesadaran spiritual. Hari raya Galungan dalam kesusastraan Hindu, tentu selayaknya tidak berhenti pada tataran ritus. Seperti halnya tebaran mutiara di tengah Samudera tradisi, menanti umat Hindu untuk menelisik dan mengambilnya sebagai sebuah perjalanan yang kontemplatif ke dalam dirinya. Serangkaian pesan tentang kehadiran Sang Kala Tiga dalam lontar Sundarigama, (Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat), yang senantiasa mencari celah untuk menggoda pikiran, kata dan tindakan umat Hindu. Lontar Sundarigama menyebutkan; Dungulan, redite pahing turun sanghyang kala tiga, manadi bhuta galungan, harep anadah, anginum ring madyapada.


Jika ditarik ke dalam diri, Sang Kala Tiga tidak lain adalah representasi dari sifat-sifat keraksasaan (Asuri Sampad) yang ada di dalam diri manusia.  Musuh asuri sampad dalam diri manusia adalah sifat-sifat kedewataan (Daiwi Sampad), dua aspek yang berbeda dan bertentangan inilah yang terepresentasi dengan kata ‘Galungan’ yang dalam bahasa Jawa Kuna berarti pertarungan. Gambaran tentang bagaimana budhi yang ada dalam diri manusia, selalu melakukan pilihan di antara keduanya. Hari raya Galungan yang jatuh pada Wuku Dungulan (dungulan berarti kemenangan), merepresentasikan kemenangan daiwi sampad atas asuri sampad yang ada dalam diri manusia. Pada titik ini kebermaknaan hari raya Galungan adalah kemenangan Dharma terhadap Adharma (Prakosa pratameng perang).


Tebaran pesan dan ajaran dalam lontar Sundarigama dalam menyambut hari raya Galungan, menuntun umat Hindu untuk menjelajah lebih dalam bilik-bilik kesadaran diri, berkontemplasi dan pengendalian terhadap lapis terdalam dalam diri manusia; (1) Matangyan sang wiku, mwang para sujana den pratyaksa juga sira kumekes ikang ajnana nirmala, nimitanya tan kasurupan dening bhuta galungan (para pendeta dan orang-orang bijaksana senantiasa berwaspada mengendalikan pikiran agar senantiasa dalam keadaan suci); (2) Wwang among yoga samadhi denya pituhu, tuhun nyumana sadana lawan bhatara (umat Hindu melakukan yoga samadhi secara bersungguh-sungguh, bersujud dan berbhakti kepada Hyang Widhi); (3) Patitis ikang ajnana galang apadang, muryakna sarwa byaparaning idep (bangkitnya kesadaran, titik pemusatan batin yang terang benderang, melenyapkan segala bentuk kegalauan batin); (4) Sang purohita, mwah sundya, wruh ing tattwa suksma, wenang yoga ginelar, adnyana samadhi ring galungan ika (bagi pendeta agung dan orang-orang bijaksana yang memahami rahasia ajaran suci tentu menggelar yoga, menggelar dhyana dan samadhi). 


Melakukan pengendalian pikiran agar tetap suci, melakukan yoga samadhi sebagai sadhana, membangkitkan kesadaran dan pemusatan batin, menggelar dhyana dan samadhi adalah serangkaian pesan esoterik dalam perayaan hari raya Galungan. Pesan dalam lontar Sundarigama tentu mengingatkan umat Hindu pada ajaran yoga, yang esensinya adalah sadhana untuk mencapai samadhi dengan melakukan pengendalian pada benih-benih pikiran dalam diri manusia (Yogas citta vrtti nirodah). Yoga sebagai bentuk penyatuan kesadaran individu menuju kesadaran universal, sehingga tercapai penyatuan antara Jiwatman dengan Parama Atman. Yoga dalam tahap-tahapannya terdiri dari delapan (astangga yoga), selain yama dan niyama yang sifatnya sebagai moralitas dan kode etik universal (sarvabhauma mahavrata), maka enam lainnya merupakan metode untuk melakukan sadhana. Sebuah proses masuk kedalam diri, mengenali diri, dan mengkoneksikannya pada asal diri yang dimulai dari asana (sikap tubuh), pranayama (pengendalian nafas), pratyahara (penarikan indra dari objek duniawi), dharana (pemusatan pikiran), dhyana (terpusatnya pikiran), samadhi (kondisi supra sadar/penyatuan jiwatman dengan Parama Atman).


Yoga merupakan metode alternatif dalam mendekatkan diri pada Hyang Widhi, lebih bersifat kontemplatif dan meditatif dalam menyambut hari raya Galungan. Berangkat dari semaraknya eksoterisme keberagamaan Hindu, masuk pada wilayah penjelajahan ke dalam diri. Perlahan menggali kubur esoterisme dalam kehidupan beragama umat Hindu. Jika tidak, maka sesungguhnya kita stagnan, hanya terjebak pada euforia keberagamaan atau tersudut dan tenggelam pada isu-isu materialistik (#Save Babi atau kampanye makan babi), yang rentan dimanfaatkan sebagai politik identitas yang bersifat primordial.

Editor : Nyoman Suarna
#euforia #hindu #denpasar