Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gunakan Bunga Jepun, Ogoh–ogoh Yangbatu Kauh Usung Tema Ngeruwak

Nyoman Suarna • Senin, 16 Maret 2020 | 04:32 WIB
Gunakan Bunga Jepun, Ogoh–ogoh Yangbatu Kauh Usung Tema Ngeruwak
Gunakan Bunga Jepun, Ogoh–ogoh Yangbatu Kauh Usung Tema Ngeruwak


DENPASAR, BALI EXPRESS - Beragam inovasi dilakukan untuk membuat karya ogoh-ogoh berbahan ramah lingkungan. Salah satunya dilakukan ST Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Kota Denpasar. Ogoh-ogoh dengan tema ‘Ngeruwak’ ini dibuat dengan menggunakan bunga kamboja yang sudah kering.


Selain menggunakan bambu dan kertas, dalam menciptakan tekstur juga turut digunakan tisue. Inilah terobosan baru mereka dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, selain bunga jepun kering, terdapat pula tali enceng gondok, serabut kelapa, pelepah pisang, daun pisang kering dan banyak lagi bahan alam yang digunakan sebagai wujud ramah lingkungan. Pada karyanya tahun ini tetap mempertahankan kearifan lokal dengan mengangkat cerita yang bertalian dengan Bhutakala.


Ketua ST Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Oka Mahendra menjelaskan, kearifan lokal tetap dipegang teguh sebagai sebuah prinsip dalam berkarya. Hal ini meliputi penguatan tradisi gotong royong serta kebersamaan yang selalu dikedepankan sehingga diharapkan dari kegiatan membuat ogoh-ogoh ini selain juga meningkatkan rasa kebersamaan juga mampu memupuk kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan antar sekaa teruna.
“Membuat ogoh-ogoh memang sudah menjadi tradisi, dan itu sudah diwariskan turun-temurun setiap tahunnya dengan sajian karya yang terus berkembang tanpa meninggalkan pakem aslinya,” ujarnya.


Oka menambahkan, adapun tema yang diangkat tahun ini masih berkutat pada tema besar Bhutakala, yakni Ngeruwak. Ngeruwak merupakan salah satu upacara yang dilaksanakan umat Hindu Bali sebelum mendirikan bangunan. Hal ini dimaksudkan agar pekarangan yang akan dibangun telah suci dan terbebas dari gangguan Bhutakala.
“Intinya adalah penyucian pekarangan sebelum dilaksanakan pembangunan," ujarnya.


Adapun banten carunya menggunakan ayam brumbun yang diolah menjadi 33 tanding. Selanjutnya ditambah dengan banten pakala hyangan yang terdiri atas sasayut durmanggala, prayascita mala, yang dihaturkan kepada Sang Bhuta Bhutana, dan segehan agung, beserta dengan tatabuhan, dihaturkan kepada Sang Bhuta Dengen.


Dasar rumah diawali dengan bata merah, diisi rajahan bhadhawang nala, bertuliskan (Ang), di atasnya berisi klungah nyuh gading dikasturi dan airnya dibuang bertuliskan Ong. Dilengkapi juga dengan wangi tangi, lengawangi, buratwangi, dedes, dan kwangén kraras (daun pisang kering), menggunakan uang kepeng 11 keteng, dibungkus kain putih, lalu diikat dengan benang tujuh warna.


Selain itu, di kuwangen menggunakan uang sejumlah 22 keteng, dengan raka (buah) lengkap. Semua itu kemudian dipendem (ditanam) di lubang berbentuk persegi (merepat). Namun sebelum itu, dilakukan prayascita di wilayah yang akan dibangun.
“Karenanya, dari pelaksanaan Upacara Ngeruwak ini diharapkan mampu menetralisir Sang Bhuta Bhutana dan Sang Bhuta Dengen sehingga proses pembangunan dapat terlaksana dengan lancar. Serta keberadaan bangunan nantinya mampu memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup Umat Hindu,” ujarnya.


Dalam pengerjaan, suasana gotong royong kental terasa. Setiap insan dapat mempelajari pekerjaan yang ia sukai. Ada yang mengerjakan body, pepayasan, ukiran dan lain sebagainya dengan bimbingan undagi utama I Nyoman Wista Darmada dan I Wayan Boby Agus Sanjaya. Pembuatan ogoh-ogoh ini juga menjadi ajang edukasi dan keterampilan bagi anggota STT yang mengarah perkembangan industri kreatif.

Editor : Nyoman Suarna
#ogoh-ogoh #denpasar