DENPASAR, BALI EXPRESS – Penilaian ogoh-ogoh di Denpasar Selatan telah dilaksanakan sesuai jadwal, Senin (16/3). Sebanyak 36 ogoh-ogoh yang ada di Denpasar Selatan memiliki keunikan serta cerita tersendiri. Seperti ogoh-ogoh karya ST. Dharma Bhakti di Banjar Celuk Kelurahan Panjer.
Sekaa Teruna banjar ini mengankat cerita yang diadopsi dari Arjuna Wiwaha. Ogoh-ogoh dengan nama Sapa (Janji) menceritakan kisah seorang raja raksasa bernama Niwatakwaca yang memiliki hasrat mempersunting Dewi Supraba dari Kerajaan Indraloka. Untuk memenuhi keinginannya, Niwatakwaca datang ke Indraloka dan membuat kegaduhan. Hal itu sampai di telinga Dewa Indra. Terjadilah peperangan yang dahsyat. Merasa tak sanggup melawan kesaktian Niwatakwaca, Dewa Indrapun menanyakan maksud kedatangan Niwatakwaca ke Indraloka. Niwatakwaca menyampaikan keinginannya untuk mempersunting Dewi Supraba. Mendengar alasan itu, Dewa Indra kaget dan berjanji akan memerintahkan Dewi Supraba yang datang menemuinya serta meminta Niwatakwaca kembali ke kerajaannya.
Dari cerita tersebut, ST. Dharma Bhakti membuatnya dalam wujud ogoh-ogoh Dewa Indra dengan kendaraannya Gajah Putih melawan Raja Niwatakwaca yang menunggangi seekor Singa. Ada hal menarik dari perwujudan ogoh-ogoh ini. Hanya terdapat satu tiang atau satu kaki yang duginakan untuk menopang 4 ogoh-ogoh sekaligus. “Kami membuat 4 wujud ogoh-ogoh yang dijadikan satu. Ogoh-ogoh kami bertumpu pada satu titik, yakni hanya pada satu kaki singa saja. Sehingga kami harus membuat pondasi yang cukup kuat agar bisa menopang empat sekaligus,” ujar I Gusti Ngurah Agung Sudiatmaja dari ST. Dharma Bhakti.
Selain itu, perwujudan singa yang dibuat tampak sangat alami. Tekstur dan warna terlihat hampir mirip dengan singa aslinya. Usut punya usut, wujud singa itu dibalut dengan serbuk kayu sehingga tampak seperti bulu singa. “Ya kami pakai serbuk kayu, tidak pakai cat,” imbuhnya.
Tak satupun bahan dari plastik yang digunakan dalam pembuatan ogoh-ogoh ini. Baik plastik bekas maupun yang baru. “Seluruhnya dari bahan ramah lingkungan, seperti rotan untuk buat rangka, lalu memakai kertas dan tanah liat juga untuk tapelnya supaya mudah untuk diukir,” paparnya lagi.
Ogoh-ogoh yang dikerjakan selama kurang lebih 3 bulan ini memiliki tinggi sekitar 3,5 meter. Sesuai dengan imbauan yang ada, ogoh-ogoh akan diarak pada malam pangupukan di seputar lingkungan desa/kelurahan.
Editor : Nyoman Suarna