GIANYAR, BALI EXPRESS – Sejak (1/4), Pasar Seni Sukawati juga mengikuti surat edaran Bupati Gianyar tentang pengaturan jam buka tutup mulai pukul 07.00 hingga 14.00. Terbatasnya waktu buka pasar tersebut, membuat pasar yang menjual baju, kain serta oleh-oleh khas Bali itu semakin sepi pembeli. Sehingga para pedagang memilih menjaga barang dagangannya sambil majejaitan (membuat sarana upacara).
Dikonfirmasi, Kepala Pasar Seni Sukawati, AA Gede Raka Wibawa mengatakan, ada sekitar 700-an pedagang yang berjualan di tempat relokasi tersebut. Dari jumlah itu, diakui, beberapa ada yang memilih tutup. Tetapi sebagian besar pedagang tetap buka. “Semua masih buka seperti biasa. Karena berjualan sudah jadi mata pencaharian mereka demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya, Minggu (5/4)
Ia juga mengaku, kedatangan wisatawan asing maupun domestik semenjak pandemi virus korona ini memang menurun. Bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Para pedagang hanya berharap datangnya pembeli lokal Bali yang sekedar membeli pakaian sehari-hari. Walau ada yang tidak dapat berjualan, para pedagang mengaku tetap buka untuk menghilangkan suntuk. “Karena di rumah saja juga mereka bosan. Meski di pasar tidak dapat jualan, minimal bisa jaga dagangan,” jelasnya.
Sedangkan untuk mengantisipasi penyebaran virus korona, area pasar tersebut rutin dilakukan penyemprotan disinfektan. Selain itu juga disediakan wastafel untuk tempat cuci tangan dan pengarahan pada pedagang agar menjaga jarak sesuai protokol kesehatan.
Sedangkan salah satu pedagang, Noviantari mengaku, sehari hanya dapat berjualan Rp 50 ribu. Barang dagangannya yang laku hanya celana kain dan baju, pembelinya juga warga lokal. Tidak jarang juga ia rela banting harga agar dapat berjualan. “Di kasi murah-murah, biar dapat saja garus,” imbuhnya.
Editor : Nyoman Suarna