MANGUPURA, BALI EXPRESS - Meski telah memiliki ratusan petugas Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) alias life guard, Kabupaten Badung masih memerlukan tambahan. Hal ini tak lepas dari kawasan pantai di Badung yang cukup panjang dan makin hari diganderungi para pengunjung.
“Kalau ketersediaan balawista di Badung sudah banyak, tapi masih kurang. Saat ini jumlahnya di Badung 185 orang. Dibagi 26 pos jaga. Namun di beberapa tempat belum isi life guard,” ungkap I Made Suparka selaku ketua Balawista Badung merangkap Balawista Indonesia, di sela pelatihan Balawista yang digelar di Pantai Kuta, Rabu (14/10).
Diterangkan Suparka, per pos Balawista, idealnya diisi 8 personel. Sekarang baru ada sekitar 6-7 orang. Di Pantai Kuta, pos jaga tersedia setiap jarak 500 meter. Sementara, menurutnya, di Pantai Kuta memerlukan kewaspadaan tinggi. “Di Kuta arus laut sangat kuat, sehingga harus dijaga. Bersyukur kita memiliki alat yang memadai,” terangnya.
Inilah pentingnya pelatihan untuk tenaga Balawista, sehingga secara berkelanjutan diadakan pelatihan, termasuk nantinya diadakan rekrutmen bagi yang memenuhi syarat. “Kami mengharapkan menelurkan banyak life guard yang baru,” ujarnya.
Sebagai seorang life guard, sambung Suparka, ada ketentuan yang harus dipenuhi peserta. Pertama, mampu berenang di kolam renang sejauh 400 meter dengan waktu kurang dari 8 menit. Kemudian run swim run, yakni lari 200 meter di pasir langsung renang 200 meter dan lanjut lari kembali sejauh 200 meter. Waktunya juga tidak boleh lebih dari 8 menit. “Jadi kecepatan yang diperlukan di sini. Setelah itu baru training penggunaan peralatan. Seperti jetsky, boat carrier, ada boat rescue, dan sebagainya,” paparnya.
Setelah menolong, petugas Balawista juga bisa melakukan penanganan kepada korban. Jika yang bersangkutan masih dalam keadaan sadar dan tak mengalami cidera, tak masalah. Namun jika pingsan, maka memberikan napas buatan dan pemijitan jantung. Hanya saja, karena situasi pandemi Covid-19, berlaku jaga jarak. Yakni saat meniupkan napas buatan, tidak dari mulut ke mulut seperti dulu. Namun digunakan airbag. “Jika tidak ada airbag, maka tak dilakukan peniupan. Hanya pemijitan jantung. Itulah yang kami lakukan. Setiap minggu kami lakukan revisi, sehingga ketika kejadian, sudah siap memberikan pertolongan,” jelasnya.
Adapun pembiayaan kegiatan, kata Suparka, berasal dari Kementerian Pariwisata melalui dana khusus yang disalurkan kepada Dinas Pariwisata. Dalam pelatihan ini, ia tak menampik agak berbeda dengan yang sudah-sudah, yakni waktunya lebih dipersingkat. Namun pada umumnya materinya sama. “Pelaksanaannya diperpendek, tetapi tetap padat materinya. Kalau dulu dengan 100 peserta bisa berlangsung 1 minggu. Sekarang hanya 40 peserta. Kami ambil waktu 3-4 hari,” katanya seraya menyampaikan instruktur berasal dari intern di Badung.
Setelah dilatih, nantinya peserta secara otomatis menjadi relawan Balawista. Namun untuk merekrut mereka dan ditugaskan dipos jaga, akan dipilah lebih lanjut. “Harapannya, lebih banyak orang yang tahu mengenai penyelamatan, sehingga kian mudah memberi pertolongan. Selain itu agar Covid-19 segera reda,” katanya.
Hal senada dikatakan petugas Balawista di Pantai Kuta, Marshello Lolot Aryafara. Menurutnya, pantai tersebut hampir setiap saat dikunjungi, baik untuk kepentingan wisata maupun olah raga. Sebab daya tarik air, menurutnya, tinggi untuk melepas lelah atau sekadar bermain. “Tapi di sepanjang pantai terdapat kantong arus. Pada masa pandemi ini kita tetap melakukan pengawasan. Karena kejadian, tidak pernah bisa diduga. Sehingga kita selalu siap di pantai,” ujarnya.
Dikatakan, balawiasta tetap bertugas di sepanjang pantai di Badung. Ini mencegah ada kecelakaan yang luput dari pantauan. Pihaknya juga melakukan upaya preventif, seperti memperingatkan orang-orang yang beraktivitas di pantai dengan melakukan patroli dan meniup peluit jika dianggap perlu.
Bahkan dalam cuaca buruk, pihaknya tetap bertugas. Malah saat cuaca ekstrem pihaknya meningkatkan kewaspadaan. “Kami tetap stand by dan ini perlu kerja sama masyarakat yang beraktivitas di pantai agar tetap waspada,” kata pria yang dikenal sebagai vokalis grup band The Hydrant ini.
Di sepanjang Pantai Kuta, dikatakan, ada pos Balawista di 26 titik. Namun, menurutnya, jumlah tersebut perlu ditambah. “Sepanjang Pantai Kuta, jumlah pos belum ideal. Ada beberapa titik yang perlu diisi pos,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna