GIANYAR, BALI EXPRESS - Efek pandemi Covid-19 sangat dirasakan oleh penjual ogoh-ogoh mini di Gianyar. Tak hanya merana karena penjualan menurun drastis, penjual ogoh-ogoh mini ini juga sedih lantaran tradisi mengarak ogoh-ogoh yang rutin dilakukan umat Hindu di Bali setiap hari Pengerupukan tidak bisa dilaksanakan lantaran pandemi Covid-19.
Seperti halnya yang dialami salah seorang pembuat sekaligus penjual ogoh-ogoh mini di Jalan Raya Kemenuh, tepatnya di depan POM Bensin Kemenuh, Gianyar, I Wayan Putra Sentana. Ia menuturkan jika selama 11 tahun membuat dan menjual ogoh-ogoh mini, baru di tahun 2021 ini penjualannya menurun drastis. "Penjualan menurun bahkan sampai 95 persen akibat pandemi Covid-19 ini," ujarnya Selasa (2/3).
Sebab saat kondisi normal, pembeli sudah mulai ramai sejak H-2 bulan hari Pengerupukan. Namun tahun ini hingga H-11 hari Pengerupukan, penjualan masih sepi. Sehingga dirinya hanya bisa pasrah. "Saat normal sehari penjualan bisa tembus 30 sampai 35 biji, kalau sekarang laku 1 sampai 5 biji saja masih syukur. Jadi memang keras sekali dampaknya," imbuh pria asal Banjar Pokas, Desa/Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, tersebut.
Kondisi itu pun otomatis membuat omzet Sentana terjun bebas. Dari yang biasanya mencapai Rp 80 Juta per tahun saat situasi normal, tahun ini ia mengaku tidak bisa memprediksi omzet yang didapat. Bahkan ia menyebut bisa saja tidak balik modal. "Apalagi semenjak Covid-19 ini harga bahan baku meningkat, tapi penjualan menurun," lanjutnya.
Selain menjual ogoh-ogoh mini secara eceran, dirinya juga menjual ogoh-ogoh mini dalam partai besar untuk dijual kembali. Dimana saat situasi normal, ia bisa menjual 200 hingga 300 biji ogoh-ogoh mini per minggu. Harga ogoh-ogoh mini yang jual pun bervariasi tergantung ukuran. Adapun ukuran ogoh-ogoh mini yang ia jual mulai dari paling kecil 40 cm hingga paling besar 2 meter kategori anak-anak. "Kalau yang kecil ukuran 40-50 cm dulu tembus Rp 100.000, sekarang laku Rp 50.000-Rp.60.000 itu sudah syukur. Kalau paling besar itu ada sampai Rp 3,5 Juta," paparnya.
Disamping itu, harga ogoh-ogoh mini yang ia jual juga tergantung dari bahan yang digunakan. Dimana ogoh-ogoh mini berbahan spons lebih murah dibandingkan dengan yang berbahan sterofoam. Untuk yang berbahan sterofoam bisa mencapai Rp 700.000 untuk ukuran yang paling kecil. Menurutnya kondisi terparah dialaminya tahun 2021 ini, sebab pada tahun 2020 lalu pandemi baru ditetapkan setelah stok ogoh-ogoh mini sudah mulai habis. "Jadi tahun kemarin masih normal, karena waktu itu pandemi saat stok sudah mulai habis," jelasnya.
Menurunya penjualan ogoh-ogoh mini tersebut, kata dia selain karena daya beli masyarakat yang menurun, juga karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat atas imbauan dari masyarakat terkait pencegahan penyebaran Covid-19. Apalagi tradisi mengarak ogoh-ogoh yang biasa dilakukan saat hari Pengerupukan ditiadakan. "Semoga saja pandemi ini cepat berakhir dan kondisi bisa kembali normal," tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna