Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Vihara Yang Dibangun Tahun 1975, Konon Dijaga Ratu Berambut Emas

Nyoman Suarna • Sabtu, 29 Mei 2021 | 01:35 WIB
Vihara Yang Dibangun Tahun 1957, Konon Dijaga Ratu Berambut Emas
Vihara Yang Dibangun Tahun 1957, Konon Dijaga Ratu Berambut Emas

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Selain Brahmavihara Arama yang ada di Kecamatan banjar, terdapat pula wihara lainnya yang memiliki keunikan tersendiri. Seperti Vihara Giri Manggala yang berlokasi di Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng. Vihara tersebut memiliki areal yang cukup luas. Uniknya, wilayah vihara ini dibagi menjadi tiga bagian seperti struktur pura yakni ada utama mandala, madya madala dan nista mandala.



 



Kadek Budiasa Wakil Ketua Dayaka Wihara Giri Manggala mengatakan, awal berdirinya vihara Giri Manggala bermula dari kelompok kidung yang ada. Kemudian sebanyak 29 KK menyatakan diri untuk bergabung dalam ajaran Budha. Lalu dibangunlah sebuah vihara di desa Petandakan. Pada tahun 1991 desa Alasangker membuat tempat ibadat bagi umat yang bertempat tinggal di desa setempat. Vihara tersebut dibangun dengan dana swadaya diatas lahan seluas 50 are. Sampai saat ini jumlah umat telah mencapai 104 KK. Saat upacara keagamaan, tradisi yang dilakukan di Vihara Giri Manggala itu hampir serupa dengan umat hindu, yakni seperti membuat gebogan buah, janur bunga dan sesajen lainnya. Akan tetapi tidak menggunakan daging dalam sebuah persembahan. “Dulu wawalnya sekali tahun 1957 Yang Mulia Bante Giri Rakito mulai menyebarkan ajaran Buddha ke sini. Sebenarnya ada tiga tempat. Yakni desa Petandakan, Desa Penglatan dan Desa Alasangker,” kata dia.



 



Keunikan lainnya terlihat dari pakaian yang digunakan umat pada saat upacara keagamaan. Umat



menggunakan pakaian adat Bali layaknya umat hindu. Dari segi bangunan pada vihara Giri Manggala tersebut memiliki kesamaan dengan model bangunan Brahmavihara Arama desa Banjar. Hampir semua tata ruang yang ada serupa dengan vihara itu. Uniknya lagi, model bangunan masih mempergunakan arsitektur Bali. “Kami menggunakan arsitektur ini menyesuaikan dengan letak wilayah. Juga akulturasi budaya di Bali. Kami mengadopsi, kami kolaborasikan gaya bangunan Bali dan juga Budha,” ungkapnya.



 



Sesuai dengan letak Vihara yang berlokasi di tengah-tengah hutan maka Vihara tersebut dinamai Giri Manggal, dimana Giri artinya hutan dan manggala artinya berkah. Selain tempat pemujaan yang terletak pada utama mandala, pada bagian samping Vihara tersebut dilengkapi dengan tempat Siripada Puja yang digunakan untuk memberi penghormatan kepada tapak kaki budha. Siri artinya yang mulia, pada artinya tapak kaki budha dan puja berarti menyembah atau hormat. Di lokasi tersebut juga dilengkapi dengan patung tapak kaki budha yang terukir diatas sebuah batu besar.



 



Di tempat tersebut suasananya sangat hening dan tenang. Areal itu biasanya digunakan sebagai tempat bermeditasi bagi umat. Jika ada umat yang memiliki indra keenam, maka akan dapat merasakan aura magis dari kawasan itu. “Iya kalau orang-orang yang bisa merasakan itu akan sangat terasa. Tapi kalau tidak ya biasa saja. Di bawah itu sempat menurut penuturan orang-orang dijaga oleh seorang Ratu. Rambutnya panjang berwarna emas begitu juga dengan pakaiannya,” jelasnya.

Editor : Nyoman Suarna