Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tenganan Masuk 50 Besar Desa Wisata Terbaik

Nyoman Suarna • Rabu, 25 Agustus 2021 | 02:59 WIB
Tenganan Masuk 50 Besar Desa Wisata Terbaik
Tenganan Masuk 50 Besar Desa Wisata Terbaik


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Desa Tenganan Pegringsingan di Kecamatan Manggis, Karangasem, kembali dilirik. Salah satu desa adat tua di Bali itu masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik tingkat nasional tahun ini. Pencapaian tersebut diumumkan dalam ajang Anugerah Desa Wisata (ADW) 2021 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.



Kelian Adat Tenganan Pegringsingan I Putu Madri Atmaja mengungkapkan, desanya masuk dalam klasifikasi desa maju dari sisi aspek budaya. Pihaknya bersyukur, Tenganan Pegringsingan dinobatkan salah satu desa terbaik dari ribuan desa wisata yang bergabung dalam ajang ini. Diakui, eksistensi adat dan tradisi menjadi modal pengembangan desa setempat. “Memang tradisi kami dalam menggelar beragam kegiatan keagamaan masih eksis. Hampir setiap hari ada tradisi. Tidak bisa lepas. Makanya banyak yang mengakui, desa kami seakan tak bisa terjamah modernisasi. Tapi, bukan berarti kolaborasi tidak ada. Kami tetap adaptasi banyak hal untuk inovasi desa wisata ini,” jelas Madri, Selasa (24/8). 



Desa Tenganan Pegringsingan bersama Desa Carangsari di Kecamatan Petang, Badung jadi wakil Bali yang masuk 50 besar desa wisata terbaik. Rangkaian ADW 2021 sudah melalui berbagai tahapan. Ada sekitar 1.831 desa wisata di 34 provinsi berpartisipasi. Setelah ini akan ada penilaian langsung dari kurator. Madri berharap Tenganan dapat hasil terbaik. “Kami bersiap untuk penilaian Oktober nanti,” ujarnya.



Bendahara Forum Komunikasi Desa Wisata Provinsi Bali Ida Bagus Pujayasa tak menyangkal pencapaian di ajang nasional seperti ADW dapat memacu desa wisata lainnya untuk berinovasi. Karena itu dia mendorong desa-desa wisata di Karangasem meningkatkan upaya pengembangan di tempat masing-masing. 



Saat ini ada sekitar 20 desa wisata yang telah ditetapkan melalui surat keputusan bupati. Bahkan ada enam desa wisata yang beranjak untuk ditetapkan. Menurut praktisi pariwisata asal Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem ini, desa wisata di Gumi Lahar sebetulnya tak kalah hebat dan berpotensi menjadi unggulan. 



Dia menyarankan agar masing-masing desa wisata lebih menggali kekhasan yang ada di wilayah masing-masing. Terutama aspek budaya, tradisi, dan kehidupan sosial warga desa setempat. Bahkan desa juga wajib berorientasi pada pengangkatan ekonomi kreatif desa. “Karena wisatawan pasti melirik apa kegiatan di desa,” katanya.



 



Pujayasa mengakui, pengembangan desa wisata di Karangasem masih mandek. Kendalanya ada pada terbatasnya komunikasi antardesa wisata sehingga pengembangan dan adaptasi sedikit terhalang dan belum terarahkan. Pihaknya bahkan mendorong Dinas Pariwisata Karangasem membentuk secara resmi forum komunikasi desa wisata di daerah, seperti di kabupaten lain di Bali. 



Forum akan mempermudah pemerintah dalam urusan koordinasi kepariwisataan. Pemerintah juga sebetulnya punya andil dalam mengarahkan desa wisata dan memberikan pembinaan terhadap desa yang akan bergerak membangun desa wisata. “Saat ini kami masih bergerak personal antar desa wisata. Masih bermain sendiri, jadi perlu acuan khusus,” tukasnya.



 



 



Editor : Nyoman Suarna
#karangasem