Panen dilakukan langsung oleh Ketua Umum DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Dr Moeldoko didampingi Ketua DPD HKTI Provinsi Bali, I Made Edi Wirawan.
Pada kesempatan tersebut, Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan jika padi varietas M 70 D tercipta melalui riset yang panjang. Termasuk melakukan uji coba ketahanan padi tersebut terhadap serangan hama. "M 70 D ini cukup kuat terhadap hama, berbagai hama kita masukkan dalam uji coba. Yang berhasil tetap tumbuh ini terus kita kembangkan. Risetnya tidak gampang, butuh waktu lama," tegasnya.
Selain cukup kuat terhadap hama, masa panen padi ini juga cukup singkat dibandingkan bibit padi lainnya yakni hanya 70 hari. Selain itu hasil panen juga memuaskan yakni rata-rata diatas 8 ton per hektar. "Saya pastikan M 70 D (panennya) diatas 8 ton per hektar dengan catatan petani sungguh-sungguh ikuti aturan tanamnya. Jangan sampai ada kegagalan, apalagi air disini bagus," ujarnya dihadapan para petani di Subak Delod Belang.
Dan kata Moeldoko, padi varietas M 70 D ini kini paling diminati pedagang beras karena banyak dicari oleh masyarakat. "Menurut warung-warung itu kalau padi biasa sekilonya jadi 10 piring, M 70 D sekilonya jadi 12 piring. Jadi warung-warung untung beli padi ini," tukasnya.
Ditambahkan oleh Ketua HKTI Bali, I Made Edi Wirawan, jika demplot padi varietas M 70 D ini sudah dilakukan di seluruh Bali dan hasilnya sangat memuaskan yakni rata-rata diatas 8 ton. "Sehingga HKTI akan terus bersinergi sehingga apa yang menjadi harapan bisa terwujud, termasuk satu subak di Singapadu kedepannya untuk pakar-pakar kami di HKTI melakukan pendampingan terkait penanaman M 70 D," ungkapnya.
Sementara itu, Pekaseh Subak Delod Belang, I Ketut Suana, 56, alamat Banjar Samu Singapadu Kaler, Desa Singapadu Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar mengatakan jika di Subak Delod Belang ada 23 hektare yang ditanam padi varietas M 70 D. “Tapi yang kini dipanen hanya 40 are. Siap dipanen dengan teknologi,” ujarnya.
Dari pengalamannya, padi varietas M 70 D tersebut hasilnya bagus dan ketika dimasak menjadi nasi hasilnya enak dan pulen. Nantinya hasil panen akan diambil oleh BUMDes Singapadu Kaler. “Pada varietas ini sebelumnya ditanam di Subak Pasekan, kemudian di Subak Kalangan Samu, dan sekarang di Subak Delod Belang. Untuk pengairan tidak kendala, palingan kendalanya di serangan hama,” tandasnya.
Disisi lain, salah satu petani, I Nyoman Suparta, 52, menjelaskan bahwa padi varietas M 70 D yang ia tanam di lahannya tersebut saat ini sudah memasuki masa panen yakni berusia 80 hari. “Jadi sudah maksimal untuk dipanen,” ujarnya.
Dirinya pun berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan para petani, terlebih bibit padi variestas M 70 D itu sulit diperoleh. “Bibit yang ini kita dapat di BUMDes Singapadu Kaler. Untuk hasilnya kalau kita panen sendiri kita bisa mendapatkan lebih, daripada kalau diberikan kepada penebas. Yang pernah kita panen di Subak Kalangan Samu luasnya 1 are bisa menghasilkan 65 sampai 70 kg beras, dan setelah dimasak jadi nasi hasilnya enak dan pulen,” tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana