Salah satu pedagang talenan, I Wayan Rudi, 53, mengatakan bahwa dirinya sudah berjualan talenan di pertigaan Bangli sejak tahun 1991. Saat itu baru dirinya yang berjualan di lokasi tersebut. “Awalnya saya menjual pengotok (palu kayu untuk pahat), biasanya dibeli sama tukang ukir dari Ubud," ujarnya Rabu (30/3).
Namun karena banyak bahan yang terbuang, maka sisa kayu yang ada ia buat menjadi talenan. Talenan buatannya kemudian ia pajang dipinggir jalan dan menarik para pembeli. “Diawal saya pajang seratusan talenan, ternyata banyak yang minat. Kebetulan waktu itu menjelang Galungan jadi semuanya laku dalam seminggu,” imbuh pria asal Kintamani, Bangli tersebut.
Sejak saat ini ia pun terus membuat talenan hingga saat ini. Untuk bahan baku, Rudi memperoleh dari Karangasem, Buleleng dan Jembrana. Tapi belakangan ini bahan baku berupa kayu pohon Asem sudah semakin terbatas. Ia pun harus mendatangkan bahan baku dari Jawa. “Pasokan biasanya datang dari Madura, Banyuwangi, dan Situbondo. Satu truk bahan saya beli dengan harga Rp 12 Juta,” lanjutnya.
Bahan yang tiba kemudian ia potong-potong menjadi talenan dengan ongkos sensor Rp 3 Juta untuk satu truk. Dan dari satu truk bahan baku, rata-rata menghasilkan 500 talenan berbagai ukuran.
Selain dijual secara langsung, talenan buatannya juga biasa diambil oleh pengepul dari Tabanan, Denpasar, Badung dan sekitarnya. Ia pun menjual talenan dengan harga yang bervariasi. Mulai dari Rp 50.000 untuk talenan berdiamater 35 cm, Rp 30.000 untuk talenan berdiameter 25 cm, hingga Rp 600.000 untuk talenan berdiameter 60 cm.
Namun karena pandemi Covid-19, penjualan talenan menurun bahkan hingga 70 persen. Hanya saja ia tetap bertahan. Bahkan menjelang Galungan ia menyediakan stok sekitar 400 talenan berbagai ukuran dengan harapan penjualan kembali normal seperti sebelum pandemic Covid-19. "Semoga perekonomian segera membaik, sehingga penjualan talenan saya kembali normal seperti dulu sebelum pandemi,” pungkasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana